Tentang Guru dan Kata
Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Seorang guru pensiun.
Ia pergi dengan map yang rapi.
Administrasinya selesai.
Yang tak selesai barangkali justru yang paling penting:
kata.
Guru itu hidup dari kata-kata. Ia mengajarkan murid membaca,
menyusun kalimat, menimbang makna. Ia berbicara tentang pentingnya literasi,
tentang daya kata untuk membuka dunia. Namun ketika ia tak lagi berdiri di
kelas, nyaris tak ada kata yang tertinggal darinya.
Ia pamit tanpa teks.
Barangkali ini bukan soal satu orang. Ini soal kebudayaan yang kita rawat diam-diam, tanpa banyak bertanya.
Sekolah adalah ruang yang ramai. Jadwal penuh. Target menunggu. Laporan berlapis. Di sana guru belajar bertahan. Bertahan agar semua terpenuhi. Bertahan agar tak tertinggal. Bertahan agar dianggap bekerja.
Dalam keramaian itu, menulis terasa seperti pekerjaan yang
tak punya alamat. Ia tidak ditanya. Tidak diminta. Tidak mendesak. Ia bisa
ditunda dan karena itu sering tak pernah dilakukan.
Menulis membutuhkan hal yang berlawanan dari hiruk-pikuk
itu: jarak.
Dan jarak adalah semacam kemewahan yang mahal.
Pengalaman mengajar, sesungguhnya, adalah gudang
pengetahuan. Di kelas, teori diuji. Kebijakan diuji. Watak manusia diuji. Guru
menyaksikan bagaimana murid tumbuh, bagaimana sebagian patah, bagaimana
sebagian lain bertahan dengan caranya sendiri. Ia melihat bagaimana kurikulum
bertemu realitas kadang mesra, kadang canggung.
Tetapi pengetahuan semacam itu jarang menjadi teks.
Ia beredar sebagai cerita.
Sebagai keluhan singkat.
Sebagai tawa di ruang guru.
Lalu hilang.
Pendidikan pun berjalan tanpa ingatan. Seperti seseorang
yang terus lupa pada pengalaman hidupnya sendiri, lalu mengulang kesalahan
dengan keyakinan baru.
Kita hidup dalam sistem yang percaya pada kerapian. Dokumen
harus lengkap. Data harus sah. Kolom harus terisi. Segalanya mesti terukur.
Administrasi menjadi bahasa utama, bahkan ketika ia tak lagi menjelaskan apapun.
Dalam bahasa itu, refleksi sulit diterjemahkan.
Apa yang tak bisa diunggah, dianggap tak ada.
Apa yang tak tervalidasi, dianggap tak penting.
Menulis tidak dilarang. Ia bahkan diakui. Tetapi dalam
bentuk yang jinak. Artikel demi angka kredit. Laporan praktik baik. Teks yang
aman dari pertanyaan. Kata-kata yang tak mengganggu keteraturan.
Menulis pun menjadi syarat, bukan pencarian.
Kewajiban, bukan kebutuhan batin.
Padahal tradisi menulis dan berpikir tak pernah lahir dari
syarat.Tradisi literasi lahir dari kegelisahan.
Kegelisahan itulah yang justru jarang diberi tempat. Sistem
lebih menyukai jawaban daripada pertanyaan. Lebih nyaman dengan kesimpulan
daripada keraguan. Guru pun belajar menyesuaikan diri: bekerja dengan rapi,
berpikir secukupnya.
Dalam situasi seperti itu, diam terasa lebih aman.
Setiap tahun, guru-guru berpengalaman pergi. Mereka membawa pulang kepala yang penuh cerita. Sekolah melepas mereka dengan upacara singkat. Foto diambil. Sambutan disampaikan. Arsip disimpan. Warisan yang tersisa hanyalah jejak administratif.Sosok yang pergi membawa data bersama suara dan kata yang diam teredam.
Bukan karena guru itu tak punya sesuatu untuk dikatakan.
Justru sebaliknya. Mereka telah terlalu lama menyimpan. Tetapi menyimpan tak
sama dengan mewariskan.
Pendidikan kehilangan bukan karena kekurangan data,
melainkan karena kekurangan kesaksian.
Kita sering membicarakan inovasi. Kita sibuk merancang
pembaruan. Tetapi jarang bertanya: dari ingatan siapa pembaruan itu berangkat?
Tanpa tulisan, pengalaman guru tak pernah menjadi rujukan. Ia tak pernah diuji,
tak pernah dibaca ulang, tak pernah diperdebatkan.
Ia mati muda.
Padahal, menjelang pensiun, seseorang justru memiliki jarak
paling jernih. Jabatan tak lagi menekan. Ambisi mereda. Yang tersisa hanyalah
waktu dan ingatan. Di situlah refleksi menemukan nadanya.
Menulis, di saat itu, bukan prestasi. Ia bukan lomba. Ia
semacam pertanggungjawaban batin kepada diri sendiri, kepada profesi, kepada
waktu yang telah dilalui.
Menulis adalah cara mengucapkan selamat tinggal dengan utuh.
Dalam pengertian itu, menulis menjadi tindakan kultural. Ia
bukan perlawanan yang ribut. Ia hanya penolakan yang tenang terhadap lupa. Guru
mengatakan tanpa pidato bahwa ia bukan sekadar pelaksana kebijakan, melainkan
subjek yang berpikir.
Ia menolak pensiun sebagai penghapusan.
Barangkali kita terlalu lama memandang guru sebagai
pengantar pengetahuan, bukan penghasil pengetahuan. Padahal di tangan merekalah
teori diuji setiap hari. Tanpa tulisan mereka, pendidikan hanya mengulang suara
dari luar kelas.
Tanpa teks, kelas tak pernah benar-benar berbicara.
Menulis memang tidak mengubah sistem dengan segera. Ia tidak
mengganti kurikulum. Ia tidak menyederhanakan administrasi. Tetapi ia melakukan
sesuatu yang lebih sunyi: menyimpan ingatan.
Dan pendidikan, tanpa ingatan, hanyalah pengulangan yang
percaya diri.
Guru yang menulis tidak sedang mencari keabadian. Ia hanya
memastikan bahwa pengabdiannya tidak berhenti sebagai sunyi. Bahwa hidupnya di
kelas tidak lenyap begitu saja, seperti kapur yang habis dihapus.
Barangkali itu yang kita perlukan hari ini: lebih sedikit
slogan, lebih banyak catatan. Lebih sedikit laporan, lebih banyak suara. Lebih
sedikit lupa.
Karena guru yang tak meninggalkan kata, betapapun setianya, akan cepat menghilang dari percakapan.
Dan mungkin, dalam diamnya, pendidikan kita ikut kehilangan
sesuatu yang tak pernah sempat diberi nama.Ide ide baik dan pengalaman
produktif lenyap bersama selembar SK purna tugas yang mengakhiri tugas guru
secara administratif.
Ajibarang, 28 Desember 2025
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Posting Komentar