Generasi Emas yang Tak Tahan Panas
(Ratapan Kecil untuk Anak-Anak yang Kita Panggil Hebat)
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Kami ini sebenarnya ingin bersyukur.
Setiap rapor penuh warna, setiap pengumuman kelulusan selalu disertai senyum lebar, spanduk, dan kata selamat. Negeri ini tampak cerah dari kejauhan. Semua anak naik kelas. Semua anak lulus. Tak ada yang tertinggal. Tak ada yang gagal.
Namun izinkan saya berbisik pelan,
atau kalau perlu berteriak lirih:
“ Ya Allah… kok rasanya ini bukan keberhasilan, tapi penghiburan massal? ”
Sebab di balik spanduk kelulusan itu, ada anak SMP yang masih mengeja huruf seperti meniti jembatan rapuh. Ada anak yang mengira 7 × 8 adalah urusan perasaan, bukan hitungan. Ada generasi yang secara administratif naik, tapi secara intelektual masih duduk bersila di lantai awal.
Dan kita menyebutnya Generasi Emas.
Sekolah yang Tak Pernah Menangis
Sekolah hari ini tidak boleh menangis.
Guru tidak boleh bersedih.
Anak tidak boleh gagal.
Sebab gagal itu tabu.
Tidak naik kelas dianggap tragedi keluarga.
Tidak lulus seperti kutukan sosial.
Padahal dulu, gagal adalah bagian dari belajar.
Hari ini gagal adalah bukti sekolah tak becus—katanya.
Maka demi menyelamatkan citra, kita korbankan kejujuran.
Guru tahu anak belum bisa membaca lancar.
Guru tahu anak belum paham hitung dasar.
Tapi guru juga tahu: berkata jujur bisa berarti masalah panjang.
Aduan.
Laporan.
Viral.
Pemeriksaan.
Maka guru memilih diam.
Nilai dinaikkan pelan-pelan,
bukan demi anak,
tapi demi ketenangan.
Aduh… aduh Gusti…
Ini sekolah atau ruang kompromi?
Orang Tua: Dari Pendamping Menjadi Pengacara
Orang tua hari ini luar biasa.
Perhatiannya setinggi langit.
Kekhawatirannya sedalam samudra.
Namun sayang, kekhawatiran itu sering berubah menjadi perlindungan berlebihan. Anak tidak boleh dimarahi. Tidak boleh ditegur keras. Tidak boleh kecewa. Tidak boleh kalah.
Anak jatuh, orang tua menyalahkan tanah.
Anak tidak bisa, yang disalahkan gurunya.
Maka orang tua berdiri gagah di depan sekolah seperti pengacara,
membela klien yang bahkan belum tahu kesalahannya sendiri.
“ Anak saya baik-baik saja! ”
Padahal yang bermasalah bukan moralnya,
melainkan fondasi belajarnya yang rapuh.
Jeritan Sunyi Guru di Ruang Kelas
Bayangkan seorang guru berdiri di depan kelas.
Di hadapannya, generasi yang disebut emas.
Tapi emas ini mudah meleleh oleh panas tuntutan.
Sedikit ditekan, retak.
Sedikit diuji, menyerah.
Sedikit dikritik, runtuh.
“ Ini emas… atau stroberi? ”
Manis, merah, menarik
tapi memar hanya oleh sentuhan.
Guru ingin mendidik.
Ingin keras demi kebaikan.
Ingin jujur demi masa depan.
Tapi sistem berkata: jangan ribut.
Statistik berkata: yang penting lulus.
Administrasi berkata: amankan dulu.
Lalu guru pulang membawa beban,
bukan lelah mengajar,
melainkan sedih karena tak bisa jujur.
(Di titik ini, izinkan saya berhenti sejenak… menarik napas… dan menangis dalam diam.)
Generasi Stroberi Kita juga yang Menanamnya
Jangan salahkan anak-anak sepenuhnya.
Merekalah buah dari kebun yang kita rawat bersama.
Kita menyiram mereka dengan pujian berlebih.
Kita lindungi mereka dari hujan tantangan.
Kita panen sebelum matang.
Lalu kita heran mengapa mereka rapuh.
Generasi stroberi bukan lahir dari kemalasan,
tetapi dari sistem yang takut pada luka kecil,
sehingga membiarkan luka besar menunggu di masa depan.
Dan, Beranikah Kita Jujur?
Maka izinkan saya menjerit,
bukan marah, tapi prihatin:
“Jangan sebut mereka generasi emas
jika kita sendiri takut mengujinya dengan api!”
Lebih baik anak menangis hari ini karena belajar,
daripada hancur besok karena hidup.
Lebih baik sekolah berani berkata belum,
daripada bangsa terus berkata sudah, padahal belum apa-apa.
Jika pendidikan hanya berani memberi kelulusan,
tapi takut memberi kejujuran,
maka generasi emas itu hanyalah slogan—
sementara yang tumbuh nyata adalah
generasi stroberi: manis di lidah, rapuh di kenyataan.
Dan kita…
kita berdiri di tepi kebun itu,
bertanya dalam hati:
“ Apakah masih ada waktu untuk menanam ulang dengan lebih jujur?"
Ajibarang, 16 Januari 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Andai saja para pemangku kepentingan bisa tersentuh dg tulisan ini..
BalasHapusMantap luar biasa
BalasHapusPosting Komentar