Luruskan Persepsi TKA, Guru Jangan Terjebak Bayang-Bayang Ujian Nasional



Kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi perhatian serius di kalangan pendidik. Dalam berbagai forum komunitas guru seperti KKG dan MGMP, muncul dorongan kuat untuk menyamakan persepsi agar TKA tidak dipahami secara keliru seperti Ujian Nasional (UN) di masa lalu yang sarat tekanan dan stigma.


Trauma kolektif terhadap sistem evaluasi sebelumnya dinilai masih memengaruhi cara sebagian guru, kepala sekolah, dan pengawas dalam merespons kebijakan baru. Kondisi ini berpotensi melahirkan sikap reaktif yang justru menjauhkan tujuan TKA dari esensi awalnya sebagai alat pemetaan kemampuan individu peserta didik.


Salah satu potensi miskonsepsi yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa hasil TKA mencerminkan kinerja guru atau mutu sekolah. Padahal, penilaian terhadap kualitas satuan pendidikan telah memiliki instrumen tersendiri melalui Rapor Pendidikan berbasis Asesmen Nasional yang mengukur proses dan ekosistem pembelajaran secara menyeluruh.


Apabila nilai TKA dijadikan dasar pembandingan antar sekolah atau kelas, hal tersebut berisiko menimbulkan tekanan psikologis bagi guru kelas 6. Variasi kemampuan murid merupakan realitas yang tidak dapat diseragamkan, dan TKA justru berfungsi memotret keragaman tersebut secara objektif.


Miskonsepsi lain yang sering muncul adalah kecenderungan menjadikan kelas 6 sebagai ruang drilling soal sepanjang tahun. Kekhawatiran terhadap kelanjutan pendidikan murid mendorong perubahan pola pembelajaran yang berorientasi pada pengerjaan soal semata.


Pendekatan tersebut dinilai kurang sejalan dengan karakter soal TKA yang berbasis literasi dan numerasi. TKA menekankan penalaran dan pemahaman konteks, bukan hafalan materi per bab, sehingga pembelajaran yang bermakna dan dialogis justru menjadi lebih relevan.


Kesalahan persepsi berikutnya berkaitan dengan bentuk soal TKA. Masih ada anggapan bahwa TKA hanya menggunakan pilihan ganda konvensional, padahal asesmen ini mengadopsi model soal modern yang beragam, termasuk pilihan ganda kompleks, menjodohkan, dan isian singkat.


Tanpa pembiasaan terhadap variasi bentuk soal tersebut, peserta didik berisiko mengalami kebingungan teknis saat pelaksanaan tes. Hal ini dapat memengaruhi hasil asesmen meskipun kemampuan akademik siswa sebenarnya memadai.


TKA juga kerap disalahpahami sebagai ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika secara sempit. Faktanya, asesmen ini menguji kompetensi berpikir melalui pemahaman bacaan, analisis informasi, serta pemecahan masalah kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Selain aspek akademik, kesiapan teknis peserta didik menjadi perhatian penting. Pelaksanaan TKA berbasis komputer menuntut kemampuan dasar dalam mengoperasikan perangkat, membaca teks digital panjang, serta mengelola waktu secara mandiri.


Melalui berbagai diskusi di komunitas guru, disepakati bahwa TKA perlu dikawal secara bijak dan proporsional. Fokus utama tetap pada pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan berpusat pada murid, sehingga asesmen ini benar-benar menjadi sarana pendukung masa depan peserta didik, bukan sumber kecemasan baru di sekolah.



Sumber : https://bit.ly/peluncuran-budayasekolahamannyaman

(YouTube Kemdikdasmen)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama