Bullying tidak selalu berupa pukulan atau
dorongan. Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih halus, lebih sistemik, dan
justru lebih berbahaya: kata-kata yang merendahkan, diucapkan oleh otoritas,
lalu dinormalisasi sebagai “cara mendisiplinkan”.
Kalimat seperti “otaknya dipakai” atau “kalau
tidak bisa baris, dijemur sampai siang” bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah
pesan pedagogis yang keliru dan bertentangan langsung dengan semangat sekolah
anti bullying yang dideklarasikan sendiri.
Ketika Bahasa Melukai, Pendidikan Gagal
Segala sesuatu
berbicara termasuk nada suara, pilihan kata, dan cara guru memberi instruksi.
Ironisnya, cara
ini sering tidak efektif. Murid tetap riuh, instruksi tetap tidak dipahami, dan
suasana justru semakin kacau. Artinya, bahasa yang melukai bukan hanya
bermasalah secara etis, tetapi gagal secara pedagogis.
Disiplin Bukan
Soal Nada Tinggi
lebih kuat dampaknya dibanding teriakan
panjang penuh ancaman.
Disiplin tidak lahir dari rasa takut,
melainkan dari pengertian.
Sekolahnya Manusia: Murid Bukan Objek
Kemarahan
Munif Chatib dalam Sekolahnya Manusia
menegaskan bahwa sekolah sejati adalah sekolah yang memanusiakan manusia. Dalam
kerangka ini, murid bukan objek pelampiasan emosi guru, melainkan subjek
belajar yang sedang bertumbuh.
Bahasa yang merendahkan hanya akan menjauhkan
murid dari proses belajar. Sebaliknya, bahasa yang menghargai membuat murid
merasa mampu dan mau mencoba.
Sekolah Anti Bullying Harus Dimulai dari Guru
Sekolah anti bullying bukan hanya soal
melindungi murid dari sesama murid, tetapi juga melindungi murid dari kekerasan
verbal yang dilegitimasi oleh sistem.
Penutup: Mengaudit Kata-Kata, Menyelamatkan
Pendidikan
Jika sekolah sungguh-sungguh ingin menjadi
ruang aman, maka yang pertama diaudit bukan murid—melainkan kata-kata guru.
Ajibarang, 5 Januari 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia


Posting Komentar