Cita Rasa Kearifan Lokal di Ruang Kelas: Siswa SDN 2 Kutaliman Lestarikan Soto Banyumas Melalui Kurikulum Merdeka



KEDUNGBANTENG, INFO BANYUMAS – Semerbak aroma kaldu gurih dan bumbu rempah menyeruak di lingkungan SD Negeri 2 Kutaliman, Korwilcam Dindik Kedungbanteng, pada Rabu (10/02/2026). Suasana berbeda tersebut menandai pelaksanaan praktik memasak soto khas Banyumas yang diikuti oleh seluruh siswa kelas VI Tahun Pelajaran 2025/2026. Kegiatan ini bukan sekadar agenda memasak biasa, melainkan implementasi nyata dari Kurikulum Merdeka yang menitikberatkan pada pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal. Melalui tangan-tangan mungil para siswa, kuliner ikonik daerah tersebut dijadikan media pembelajaran untuk menanamkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri sejak dini.


Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dirancang secara komprehensif untuk mendukung Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam pelaksanaannya, fokus utama diarahkan pada penguatan dimensi berkebinekaan global, gotong royong, kreatif, serta kemandirian. Para siswa tidak hanya datang untuk mencicipi hasil akhir, tetapi terlibat aktif dalam seluruh rantai proses, mulai dari tahap pengenalan bahan baku tradisional, teknik pengolahan bumbu rahasia soto Banyumasan, proses memasak yang presisi, hingga seni penyajian atau plating yang menggugah selera.


Guru kelas VI, Dian Ambar Is Hartini, dalam laporan kegiatannya memaparkan bahwa agenda praktik memasak tersebut merupakan bentuk transformasi pendidikan yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam mencari ilmu. Beliau menjelaskan bahwa dengan membawa dapur ke dalam lingkungan sekolah, materi pembelajaran yang biasanya bersifat abstrak di dalam buku teks kini berubah menjadi pengalaman sensorik yang nyata. Proses tersebut memungkinkan siswa untuk memahami filosofi di balik setiap bahan makanan yang digunakan, seperti pentingnya kacang tanah dan ketupat dalam struktur soto asli Banyumas.


Lebih lanjut, Dian Ambar Is Hartini menyampaikan bahwa kegiatan tersebut secara otomatis mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sekaligus. Dalam satu sesi memasak, siswa belajar matematika melalui takaran bumbu, belajar sains melalui proses perubahan suhu saat memasak, hingga ilmu sosial melalui sejarah kuliner daerah. Dampak positif lain yang terlihat adalah terasahnya keterampilan hidup (life skill), kemampuan berkomunikasi antaranggota kelompok, serta tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Semangat Merdeka Belajar benar-benar terasa ketika siswa diberi ruang luas untuk bereksplorasi dan menuangkan kreativitas mereka dalam menyajikan hidangan.


Pihak sekolah menegaskan bahwa pemilihan soto Banyumas sebagai objek praktik memiliki alasan filosofis yang kuat. Sebagai salah satu warisan budaya takbenda, soto melambangkan akulturasi dan kekayaan hasil bumi lokal. Dengan mempelajari cara pembuatannya, siswa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga penjaga kelestarian kuliner di masa depan. Hal tersebut dianggap krusial di tengah gempuran kuliner modern yang kian mendominasi lidah generasi muda.


Keberhasilan program tersebut mendapatkan apresiasi tinggi dari para pendidik yang membimbing langsung di lapangan. Dian Ambar Is Hartini, S.Pd., menekankan bahwa esensi dari Kurikulum Merdeka adalah memberikan kenangan pembelajaran yang membekas di hati siswa.


“Dalam Kurikulum Merdeka, anak-anak diajak belajar melalui pengalaman langsung. Praktik memasak soto Banyumas ini mengintegrasikan materi pembelajaran dengan penguatan karakter, kerja sama tim, serta kecintaan terhadap budaya lokal. Kami ingin mereka tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga memahami lingkungan dan budaya yang membesarkan mereka,” jelas Dian saat mendampingi siswa mengulek bumbu.


Senada dengan hal tersebut, Kepala SDN 2 Kutaliman, Atik Lusiani, S.Pd., menyambut positif inovasi yang dilakukan di kelas VI. Beliau menegaskan komitmen sekolah untuk terus mendukung pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata. Menurutnya, sekolah harus menjadi laboratorium kehidupan bagi siswa agar mereka siap menghadapi tantangan di luar pagar sekolah.


“Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi sekolah untuk berinovasi. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar memasak, tetapi juga belajar nilai gotong royong, menghargai kearifan lokal, serta membangun karakter pelajar Pancasila. Ilmu yang kalian pelajari hari ini adalah bekal masa depan. Teruslah belajar dengan rasa ingin tahu, kreatif, dan bangga terhadap budaya daerah sendiri,” ungkap Atik Lusiani dengan penuh motivasi kepada para siswa yang sedang sibuk menyajikan hidangan.


Melalui praktik memasak soto khas Banyumas ini, SDN 2 Kutaliman berharap dapat menciptakan pola pembelajaran yang jauh dari kesan membosankan. Pembelajaran yang menyenangkan dipercaya akan meningkatkan efektivitas penyerapan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Hasil akhir dari kegiatan ini bukan hanya sepiring soto yang lezat, melainkan terbentuknya peserta didik yang memiliki daya saing global namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal Banyumasan.


Kegiatan ini ditutup dengan sesi makan bersama yang mempererat kekeluargaan antara siswa, guru, dan pihak sekolah. Sorot mata antusias dan tawa riang siswa saat menikmati hasil jerih payah mereka sendiri menjadi bukti bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang memanusiakan dan memberikan makna dalam setiap detiknya. SDN 2 Kutaliman telah membuktikan bahwa ruang kelas bisa menjadi tempat yang sangat lezat untuk mengecap ilmu pengetahuan.

Kontributor: SIMAS KORWILCAM KEDUNGBANTENG

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama