Kegiatan tersebut menjadi ruang strategis bagi para pendidik dan pengelola informasi sekolah untuk meningkatkan kompetensi jurnalistik, sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai sumber informasi yang kredibel dan bertanggung jawab. Workshop ini tidak hanya menekankan aspek teknis penulisan berita, tetapi juga membangun kesadaran etika dan literasi digital dalam praktik kehumasan sekolah.
Workshop jurnalistik yang diinisiasi Korwilcam Dindik Wangon tersebut menghadirkan dua narasumber yang dikenal aktif di dunia jurnalistik dan literasi media, yakni Andi Dwi Atmoko dan Suripto. Keduanya berbagi pengalaman praktis mengenai proses jurnalistik, mulai dari pencarian fakta, penulisan berita, hingga strategi penyajian informasi yang menarik namun tetap berlandaskan kaidah jurnalistik.
Kehadiran narasumber tersebut memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan workshop. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual dengan kebutuhan sekolah di era digital. Peserta diajak memahami bagaimana informasi sekolah dapat dikemas secara profesional, sehingga mampu membangun citra positif lembaga pendidikan sekaligus menjadi sarana edukasi publik.
Koordinator Korwilcam Dindik Wangon, Eko Purnomo, S.Pd.,M.Pd., hadir langsung membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kemampuan jurnalistik bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh insan pendidikan. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi yang benar, berimbang, dan mendidik di tengah maraknya hoaks dan disinformasi.
“Sekolah hari ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat informasi. Oleh karena itu, kemampuan mengolah dan menyampaikan informasi secara benar menjadi sangat penting,” ujar Eko Purnomo dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa workshop jurnalistik tersebut sejalan dengan visi Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas dalam mendorong transformasi pendidikan berbasis literasi dan teknologi informasi. Melalui kegiatan ini, sekolah diharapkan mampu mengoptimalkan media informasi sebagai sarana pembelajaran dan komunikasi dengan masyarakat.
Lebih lanjut, Eko Purnomo menyampaikan bahwa literasi digital harus dibangun sejak dini melalui lingkungan sekolah. Menurutnya, pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai kritis, etis, dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi maupun memproduksi informasi.
“Ketika sekolah mampu menyajikan informasi yang valid dan inspiratif, maka secara tidak langsung kita sedang mendidik peserta didik untuk berpikir kritis dan bijak dalam bermedia,” tegasnya.
Workshop tersebut juga menjadi ajang berbagi praktik baik antar sekolah dalam pengelolaan informasi dan publikasi kegiatan. Peserta memperoleh pemahaman mengenai struktur berita, teknik penulisan teras berita, serta pentingnya validasi data sebelum informasi dipublikasikan ke ruang publik.
“Berita yang baik bukan hanya melaporkan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu penting untuk diketahui,” kata Andi.
Sementara itu, Suripto mengajak peserta untuk memahami jurnalisme sebagai proses belajar yang berkelanjutan. Menurutnya, keterampilan menulis berita dapat dilatih melalui kebiasaan membaca, mengamati, dan menulis secara konsisten. Ia juga menekankan pentingnya etika jurnalistik dalam setiap produk informasi yang dihasilkan oleh sekolah.
“Di era digital, siapa pun bisa menulis dan menyebarkan informasi. Namun, tidak semua informasi layak disebut berita. Di sinilah pentingnya etika dan tanggung jawab,” ujarnya.
Workshop jurnalistik tersebut dirancang interaktif dengan sesi diskusi dan praktik langsung. Peserta diberikan kesempatan untuk mencoba menyusun berita berdasarkan simulasi peristiwa sekolah, kemudian mendapatkan umpan balik dari narasumber. Metode ini dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman sekaligus kepercayaan diri peserta dalam menulis berita.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta yang berasal dari berbagai satuan pendidikan di wilayah Wangon. Mereka menilai workshop ini sangat relevan dengan tantangan pengelolaan informasi sekolah di era media sosial, di mana kecepatan sering kali mengalahkan akurasi.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa melalui workshop ini, ia semakin memahami pentingnya struktur dan bahasa jurnalistik dalam menyampaikan informasi sekolah kepada masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Selama ini kami menulis informasi sekolah seadanya. Setelah mengikuti workshop ini, kami jadi lebih paham bagaimana menulis berita yang rapi, menarik, dan bertanggung jawab,” ungkapnya.
Melalui workshop jurnalistik Infokom Sekolah tersebut, Korwilcam Dindik Wangon menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan berbasis literasi informasi. Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat peran sekolah sebagai agen perubahan yang tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga mencerdaskan masyarakat melalui informasi yang berkualitas.
Dengan bekal keterampilan jurnalistik yang diperoleh, sekolah diharapkan mampu menjadi sumber informasi terpercaya sekaligus laboratorium literasi bagi peserta didik. Di tengah derasnya arus informasi digital, langkah Korwilcam Dindik Wangon tersebut menjadi ikhtiar nyata untuk menyalakan api jurnalisme sekolah yang kritis, etis, dan berdaya edukatif.
Kontributor: Bayu/ SDN 1 Pengadegan


Posting Komentar