Esensi Budaya dan Inovasi Kuliner Warnai Ujian Praktik Siswa SMPN 1 Lumbir

LUMBIR, INFO BANYUMAS – Suasana riuh rendah penuh semangat menyelimuti atmosfer SMP Negeri 1 Lumbir pada Senin (2/1/2026). Sekolah yang dikenal sebagai pionir pendidikan berbasis kearifan lokal ini menghelat rangkaian acara bertajuk "Pagelaran Seni, Pameran, dan Bazar Kreatif". Agenda besar ini bukan sekadar seremoni musiman, melainkan manifestasi dari ujian praktik bagi seluruh siswa kelas IX yang dirancang untuk menguji kompetensi seni, keterampilan kewirausahaan, sekaligus ketahanan karakter mereka sebelum purnawiyata.


Pelaksanaan ujian praktik kali ini bertransformasi menjadi sebuah festival besar yang melibatkan ratusan siswa. Lokasi sekolah disulap menjadi zona-zona ekspresi: Lapangan utama menjadi panggung megah untuk pagelaran tari, aula sekolah menjelma menjadi galeri seni lukis yang estetik, sementara area di depan perpustakaan dipenuhi aroma menggoda dari deretan stand bazar kreatif. Selama kurang lebih dua bulan, para siswa telah berjibaku melakukan persiapan intensif, mulai dari olah gerak, goresan kuas, hingga eksperimen resep makanan.

Kreativitas yang ditampilkan tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban akademik. Di ruang aula, karya-karya siswa kelas IX A dan IX B menjadi pusat perhatian. Lukisan-lukisan yang dipajang di sana merupakan hasil eksplorasi ide yang mendalam mengenai realitas sosial, keindahan alam, dan kekayaan budaya nusantara. Karya-karya tersebut membuktikan bahwa siswa tingkat menengah pertama memiliki kepekaan visual yang tajam dalam merekam fenomena di sekitar mereka dan menuangkannya secara artistik ke atas kanvas.


Di sisi lain, aroma sedap yang menguar dari arah perpustakaan mengundang kerumunan pengunjung. Siswa-siswi kelas IX F dan IX G menunjukkan taji mereka di bidang ekonomi kreatif melalui bazar kuliner. Berbagai menu inovatif disajikan dengan kemasan menarik, menunjukkan bahwa kurikulum sekolah berhasil menyisipkan nilai-nilai entrepreneurship. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar cara memasak, tetapi juga memahami dinamika pasar, manajemen modal, dan pentingnya kerja sama tim dalam menghadapi tekanan pesanan pembeli yang membeludak.


Puncak perhatian penonton tertuju pada lapangan sekolah saat alunan musik gamelan mulai menggema. Siswa kelas IX C, IX D, dan IX E bergantian naik ke panggung untuk membawakan sendratari tradisional yang sarat akan makna filosofis. Kehadiran sendratari "Ugem Setyo", "Sendyakala Bumi Banjarsari", dan "Srikandi Senopati" bukan tanpa alasan. Pemilihan lakon-lakon tersebut merupakan upaya konkret sekolah dalam menginternalisasi nilai-nilai kepahlawanan dan kesetiaan kepada para siswa melalui seni pertunjukan.


Kepala SMP Negeri 1 Lumbir, Sutomo, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah refleksi dari jati diri sekolah. Beliau menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk memiliki akar budaya yang kuat di tengah arus globalisasi yang kian kencang.


“SMP Negeri 1 Lumbir merupakan sekolah berbasis kebudayaan, salah satunya adalah Ebeg Edukasi yang sudah dikenal secara nasional. Alhamdulillah kita dapat terus melestarikan budaya di sekitar kita. Kita harus bangga karena memiliki budaya yang tidak dimiliki daerah dan negara lain,” ujar Sutomo dengan nada bangga saat ditemui di sela-sela peninjauan stand pameran.


Keberhasilan acara ini tentu tidak terlepas dari bimbingan intensif para guru pendamping. Titi Sugianti, S.Pd., wali kelas IX A yang membidangi pameran lukisan, menceritakan betapa emosionalnya melihat perkembangan anak didiknya dari titik nol hingga mampu memajang karya di galeri sekolah.


“Saya menyaksikan dan mengetahui kerja keras anak-anak mulai dari menentukan ide sampai menuangkannya di atas kanvas menjadi hasil karya terbaik versi mereka. Ini bukan soal bagus atau tidaknya lukisan, tapi keberanian mereka bersuara lewat warna,” tutur Titi.


Senada dengan Titi, Amar Rifai, S.Pd., wali kelas IX D yang mendampingi latihan tari, menyoroti aspek non-akademik yang tumbuh selama proses persiapan. Baginya, panggung pagelaran adalah laboratorium karakter yang paling efektif bagi siswa kelas IX.


“Apresiasi kepada anak-anak yang telah semangat untuk latihan. Pagelaran ini tidak hanya untuk mendapatkan nilai ujian praktik, tetapi bagaimana anak-anak membentuk karakter yang lebih baik serta mempererat kekompakan dan solidaritas antar siswa. Di sinilah mereka belajar ego masing-masing harus diredam demi harmoni kelompok,” jelas Amar.


Bagi para siswa, kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam yang akan menjadi memori indah di masa depan. Sari Ambarwati, salah satu siswi yang turut tampil dalam pagelaran seni, tidak mampu menyembunyikan rasa harunya setelah turun dari panggung. Baginya, tepuk tangan penonton adalah penghargaan atas lelahnya berlatih selama berminggu-minggu.


“Saya merasa sangat bangga dan terharu. Acara pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan biasa, ini adalah wadah ekspresi, cerminan kreativitas, dan bukti nyata dari kolaborasi yang luar biasa. Kami belajar bahwa hasil yang indah memerlukan proses yang tidak instan,” ungkap Sari dengan mata berkaca-kaca.


Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan evaluasi bersama dan pembersihan area secara gotong royong. Melalui sinergi antara Pagelaran, Pameran, dan Bazar Kreatif ini, SMP Negeri 1 Lumbir telah membuktikan bahwa ujian akhir sekolah bisa dikemas menjadi ajang perayaan ilmu pengetahuan dan seni. Lebih dari sekadar angka-angka di buku rapor, kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk tumbuh sebagai individu yang kreatif, mandiri, dan memiliki kebanggaan terhadap identitas budayanya sendiri.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama