Jejak Rasa Banyumas di Bangku Sekolah: Dari Dapur Kecil SDN 2 Randegan, Sroto Sokaraja Menjadi Ujian Kehidupan





WANGON - Aroma rempah khas Banyumas menyeruak dari lingkungan SDN 2 Randegan, Selasa, 9 Februari 2026, saat sekolah dasar tersebut menggelar ujian praktik memasak sroto Sokaraja bagi seluruh siswa kelas VI. Kegiatan ini bukan sekadar penilaian akhir pembelajaran, melainkan upaya menanamkan keterampilan hidup sekaligus kecintaan pada kearifan lokal sejak dini.
Pihak sekolah memaknai ujian praktik ini sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pengetahuan di kelas dengan realitas kehidupan sehari-hari.


“Anak-anak tidak hanya diuji secara teori, tetapi juga bagaimana mereka mempraktikkan, bersikap, dan bertanggung jawab atas proses yang mereka lakukan,” ungkap guru kelas VI, Renita Nur Rahmawati, S.Pd.

Pelaksanaan ujian praktik memasak sroto Sokaraja tersebut berlangsung di lingkungan sekolah dengan pendampingan penuh guru kelas, menciptakan suasana belajar yang hidup dan partisipatif. Seluruh siswa kelas VI terlibat aktif, mulai dari persiapan hingga penyajian, dalam balutan semangat kerja sama yang kuat.
Menurut pihak sekolah, kegiatan ini dirancang agar siswa belajar mengelola tugas secara mandiri sekaligus menghargai proses.


“Setiap anak memiliki peran, tidak ada yang hanya menonton. Semua belajar bertanggung jawab,” ujar Renita.

Sebelum kegiatan dimulai, guru kelas memberikan pengarahan menyeluruh terkait tujuan ujian praktik, aturan pelaksanaan, serta aspek kebersihan dan keselamatan kerja selama memasak. Pengarahan ini menjadi fondasi penting agar siswa memahami bahwa memasak bukan hanya soal rasa, tetapi juga disiplin dan sikap.


Guru menekankan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil akhir masakan.
“Kebersihan, kerapian, dan keselamatan adalah bagian dari penilaian utama,” tegas Renita di hadapan siswa.

Dalam sesi pengarahan tersebut, siswa juga diajak mengenal lebih dekat sroto Sokaraja sebagai salah satu ikon kuliner Banyumas yang sarat nilai sejarah dan budaya. Penjelasan mencakup bahan utama, racikan bumbu, hingga teknik penyajian yang membedakan sroto Sokaraja dari soto daerah lain.
Pengenalan ini dimaksudkan agar siswa memahami identitas daerahnya melalui makanan tradisional.


“Sroto Sokaraja bukan hanya makanan, tetapi bagian dari jati diri Banyumas,” tutur Renita.

Usai pengarahan, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mempersiapkan bahan dan peralatan memasak. Pembagian tugas dilakukan secara merata agar setiap anggota kelompok berperan aktif sesuai kemampuannya.


Model kerja kelompok ini diharapkan mampu melatih komunikasi dan kolaborasi antarsiswa.
“Kami ingin anak-anak belajar bekerja sama dan saling menghargai peran teman,” kata Renita.

Selama proses memasak, suasana sekolah berubah layaknya dapur kecil yang penuh aktivitas. Siswa tampak serius membersihkan bahan, meracik bumbu, hingga memasak kuah sroto dengan penuh kehati-hatian.


Guru mendampingi sekaligus mengamati proses kerja siswa sebagai bagian dari penilaian.
“Melihat mereka fokus dan saling membantu adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujar Renita.


Ujian praktik ini dirancang tidak hanya untuk mengukur keterampilan teknis memasak, tetapi juga menilai sikap, tanggung jawab, dan kerja sama siswa dalam kelompok. Setiap tahapan menjadi bagian dari proses pembelajaran karakter.
Menurut guru kelas, pendekatan seperti ini membuat siswa belajar secara utuh.


“Anak-anak belajar sabar, disiplin, dan menghargai proses, bukan sekadar hasil,” ungkap Renita.

Penilaian ujian praktik dilakukan oleh guru SDN 2 Randegan, Keni Supriyatin, yang bertindak sebagai penilai utama kegiatan tersebut. Penilaian dilakukan secara langsung selama proses berlangsung hingga hasil akhir disajikan.
Aspek penilaian dirancang komprehensif agar kemampuan siswa terlihat secara objektif.


“Kami menilai dari kesiapan bahan, kebersihan, kerja sama, hingga cita rasa dan penyajian,” jelas Keni Supriyatin.

Menurut Keni, penilaian tidak semata-mata berfokus pada rasa masakan, melainkan juga proses yang dilalui siswa sejak awal. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan menunjukkan keunggulannya masing-masing.
Pendekatan ini dianggap lebih adil dan mendidik.


“Yang terpenting adalah proses belajar dan keberanian anak untuk mencoba,” ujarnya.

Bagi siswa, ujian praktik memasak sroto Sokaraja ini menjadi pengalaman baru yang berkesan dan menyenangkan. Mereka mengaku antusias karena dapat belajar langsung melalui praktik nyata.
Salah satu siswa kelas VI menyampaikan rasa senangnya mengikuti kegiatan tersebut.


“Seru sekali, kami jadi tahu cara memasak sroto dan bisa bekerja sama dengan teman,” katanya.

Melalui ujian praktik memasak berbasis kearifan lokal ini, SDN 2 Randegan berharap pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membekas dalam ingatan siswa. Sekolah ingin menanamkan kecintaan terhadap budaya Banyumas melalui pengalaman langsung yang menyenangkan.
Pihak sekolah optimistis pendekatan ini mampu membentuk karakter dan keterampilan hidup siswa sejak usia dini.


“Kami ingin anak-anak bangga dengan budaya sendiri dan siap menghadapi kehidupan nyata,” pungkas pihak sekolah.

Kontributor: Nawangsih Cahya Wulandari

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama