Momen Haru dan Bangga di Pelepasan dan Khotmil Qur’an Juz 30 Bil Hifzi MI MA’ARIF NU 1 SOKAWERA



CILONGOK – Suasana haru, bangga, dan penuh kekhusyukan menyelimuti halaman MI Ma’arif NU 1 Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Sabtu (13/6/2026), saat 36 siswa kelas VI mengikuti acara Pelepasan dan Khotmil Qur’an Juz 30 Bil Hifzi. Di bawah langit mendung yang teduh, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema dari bibir para siswa yang telah menuntaskan hafalan juz 30 sebagai salah satu program unggulan madrasah. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar sekaligus awal langkah mereka menuju masa depan yang lebih luas.


Sejak pagi hari, para siswa tampil dengan penuh percaya diri dan ketenangan. Satu per satu mereka melantunkan hafalan Al-Qur’an yang telah dipelajari selama bertahun-tahun. Para tamu undangan, orang tua, guru, dan masyarakat yang hadir tampak larut dalam suasana khidmat. Tidak sedikit yang meneteskan air mata saat mendengar kefasihan para siswa dalam membaca ayat demi ayat Al-Qur’an. Keberhasilan mereka menghafal juz 30 menjadi bukti kesungguhan belajar sekaligus hasil dari pembinaan intensif yang dilakukan oleh madrasah dan keluarga.


“Kami sangat bersyukur melihat anak-anak mampu menyelesaikan hafalan juz 30 dengan baik. Ini bukan hanya pencapaian akademik, tetapi juga pencapaian spiritual yang akan menjadi bekal mereka sepanjang hayat,” ungkap salah seorang wali murid yang hadir dalam kegiatan tersebut.


Kekhusyukan acara semakin terasa ketika salah satu siswa memimpin tawasul dengan lancar dan penuh penghayatan. Suara yang tenang dan tertata membuat seluruh hadirin terdiam mengikuti rangkaian doa yang dipanjatkan. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan berbasis keagamaan mampu membentuk karakter, keberanian, serta kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an. Bagi banyak orang tua, melihat putra-putri mereka memimpin doa dan melantunkan ayat suci di hadapan publik menjadi kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Suasana semakin menyentuh ketika Ustadz Mudzakir memimpin doa khotmil Qur’an. Dalam setiap untaian doa yang dipanjatkan, terselip rasa syukur atas nikmat ilmu yang telah diberikan Allah SWT kepada para siswa. Doa tersebut juga menjadi harapan agar ilmu yang diperoleh mampu menjadi cahaya kehidupan dan mengantarkan mereka menjadi generasi yang berakhlak mulia, cerdas, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.


“Al-Qur’an bukan sekadar hafalan yang berhenti di lisan. Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup yang membentuk akhlak, sikap, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari,” pesan Ustadz Mudzakir dalam tausiyahnya di hadapan para peserta dan tamu undangan.


Sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan para siswa menyelesaikan hafalan juz 30 dan lulus ujian tasmi’, madrasah memberikan syahadah atau sertifikat penghargaan kepada setiap peserta yang dinyatakan tuntas. Penyerahan syahadah berlangsung dengan penuh kebanggaan. Para orang tua tampak tersenyum haru menyaksikan putra-putri mereka menerima pengakuan atas perjuangan panjang yang telah dilalui. Penghargaan tersebut menjadi simbol bahwa proses belajar yang dijalani selama ini telah membuahkan hasil yang membanggakan.


Sebelum prosesi pelepasan berlangsung, siswa kelas VI mempersembahkan lagu berjudul Hafiz Qur’an. Lagu yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan itu menjadi ungkapan terima kasih kepada guru dan orang tua yang telah membimbing mereka selama menempuh pendidikan di madrasah. Suara merdu yang berpadu dengan makna lirik yang menyentuh membuat suasana berubah menjadi penuh emosi. Banyak tamu undangan yang tampak menyeka air mata saat lagu tersebut berkumandang.


“Kalian sudah memasuki masa akhir di madrasah. Bapak dan Ibu Guru sudah memberikan ilmu yang begitu banyak. Untuk itu, gunakan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, gapailah cita-cita kalian, jangan lupa melaksanakan salat lima waktu, dan kenanglah kami para guru yang selalu mendoakan kesuksesan kalian,” pesan Kepala MI Ma’arif NU 1 Sokawera, Isyarotul Khoeriyah, S.Pd., dalam sambutannya.


Puncak keharuan terjadi saat prosesi penerimaan ijazah dan penayangan cita-cita para siswa melalui layar yang dipasang di samping panggung. Satu per satu nama siswa dipanggil, sementara di layar muncul impian yang mereka cita-citakan. Ada yang bercita-cita menjadi polisi, CEO perusahaan, masinis, guru, guru bahasa Inggris, pemain sepak bola, hingga guru sejarah. Tayangan tersebut mengundang tepuk tangan sekaligus rasa bangga dari seluruh hadirin yang menyaksikan betapa besar mimpi yang sedang mereka gantungkan untuk masa depan.


Kepala madrasah juga menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua agar terus mendampingi putra-putri mereka dalam menempuh pendidikan berikutnya. Menurutnya, keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh doa, perhatian, dan dukungan keluarga yang terus mengiringi perjalanan mereka menuju masa depan.


“Kami berharap para orang tua terus membersamai anak-anak dengan doa dan kerja keras. Jangan pernah berhenti mendukung mereka untuk meraih cita-cita setinggi mungkin. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan kebersamaan,” tutur Isyarotul Khoeriyah.


Acara kemudian ditutup dengan prosesi sungkem siswa kepada orang tua dan guru. Satu per satu siswa bersimpuh memohon doa restu, sementara para orang tua memeluk anak-anak mereka dengan linangan air mata. Pemandangan tersebut menjadi penutup yang sangat menyentuh dari sebuah perjalanan enam tahun yang penuh perjuangan. Di balik tangis perpisahan tersimpan harapan besar agar para lulusan MI Ma’arif NU 1 Sokawera mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, menjadi generasi Qur’ani yang membanggakan, serta membawa manfaat bagi masyarakat. Dari halaman madrasah sederhana di Desa Sokawera itu, mereka kini melangkah menuju masa depan dengan bekal ilmu, hafalan Al-Qur’an, doa para guru, dan cinta yang tak pernah putus dari kedua orang tua.


Kontrobutor: Yuli Kismawati

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama