Kegiatan tersebut secara resmi dibuka pada pukul 07.00 WIB dengan suasana yang sarat akan nilai-nilai religius dan seni budaya lokal. Sejak pagi buta, halaman dan ruang-ruang kelas di SDN 1 Rawaheng telah dipadati oleh para peserta yang datang dengan ambisi positif untuk menampilkan kemampuan terbaik mereka. Kehadiran para tokoh pendidikan, mulai dari Koordinator Kecamatan (Korwilcam) Wangon, Pengawas PAI, Pengawas SD, hingga jajaran pengurus K3S, memberikan legitimasi bahwa agenda tersebut merupakan prioritas dalam pengembangan karakter peserta didik di wilayah Banyumas bagian barat.
Penyelenggaraan Lomba Ramadan Ceria tahun ini dirancang untuk menyentuh dua aspek utama perkembangan anak, yakni literasi keagamaan dan ekspresi seni visual. Dalam pelaksanaannya, panitia menetapkan cabang Lomba Membaca Tartil Al-Qur'an sebagai pilar utama untuk menguji kefasihan dan tajwid siswa dalam melantunkan ayat suci. Selain itu, cabang Lomba Gambar Bercerita turut dihadirkan guna memberi ruang bagi siswa untuk memvisualisasikan makna Ramadan melalui goresan warna dan imajinasi. Kedua cabang lomba tersebut dipisahkan dalam kategori putra dan putri guna memastikan distribusi apresiasi yang merata dan kompetitif.
Nuansa kemeriahan semakin terasa dengan adanya sisipan pertunjukan kearifan lokal yang memukau para hadirin. Penampilan musik Thek-thek Sahur yang dibawakan secara enerjik oleh perwakilan siswa-siswi SD di Gugus Majapahit menjadi daya tarik tersendiri dalam acara tersebut. Alunan bambu yang dipukul berirama bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat akan tradisi luhur masyarakat dalam membangunkan warga saat sahur, yang kini coba dilestarikan oleh generasi zilenial di lingkungan sekolah.
Pihak panitia menjelaskan bahwa pendaftaran untuk mengikuti rangkaian kompetisi tersebut telah ditutup sejak 9 Februari 2026, dengan antusiasme pendaftar yang melampaui ekspektasi awal. Hal ini menunjukkan bahwa kerinduan akan ruang kompetisi yang bernuansa religi sangat tinggi di kalangan siswa sekolah dasar. Lebih lanjut, mekanisme penjurian dalam kegiatan tersebut dilakukan secara ketat dan transparan oleh para ahli di bidangnya masing-masing untuk menjaga kredibilitas hasil perlombaan.
Koordinator Kecamatan Wangon, Bapak Eko Purnomo, S.Pd., yang membuka secara langsung acara ini, menaruh harapan besar terhadap dampak jangka panjang dari kompetisi ini. Dalam pidato pembukaannya, beliau menekankan bahwa esensi dari kegiatan tersebut adalah pembentukan mentalitas juara yang tetap berpijak pada nilai-nilai kejujuran. Beliau juga menginstruksikan agar seluruh hasil dari pelaksanaan tahun ini dijadikan catatan penting sebagai bahan evaluasi untuk penyempurnaan di tahun-tahun mendatang.
Sejalan dengan visi tersebut, Kordinator Lomba, Sofyanudin, S.Pd.I., menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar seremoni musiman. Kegiatan tersebut diproyeksikan sebagai filter prestasi untuk menjaring bibit-bibit unggul yang akan membawa nama baik Kecamatan Wangon di level yang lebih tinggi. Sofyanudin menyebutkan bahwa proses seleksi dalam kompetisi tersebut bersifat final, di mana para pemenang tidak hanya mendapatkan piala, tetapi juga tanggung jawab besar sebagai duta kecamatan.
Dalam sesi wawancara di sela-sela peninjauan lomba, Koordinator Kecamatan Wangon, Eko Purnomo, S.Pd., memberikan apresiasi mendalam kepada seluruh elemen yang terlibat sembari mengingatkan pentingnya integritas bagi para dewan juri.
"Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia, guru, dan terutama para siswa yang telah bersiap sedemikian rupa. Kepada para peserta, jadikan ini motivasi untuk terus belajar, namun yang paling utama saya menekankan sportivitas juri dalam melaksanakan tugasnya. Penilaian harus objektif karena hasil dari Ramadan Ceria tahun ini harus kita jadikan bahan evaluasi yang mendalam agar tahun depan kita bisa tampil lebih hebat lagi. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara intelektual, tapi juga memiliki adab dan iman yang kuat," tegas Eko Purnomo.
Senada dengan hal tersebut, Sofyanudin, S.Pd.I., selaku Kordinator Lomba, menjelaskan mengenai teknis lanjutan bagi para juara yang berhasil menorehkan prestasi dalam ajang ini.
"Kami telah menyiapkan standar penilaian yang tinggi karena target kami jelas. Kegiatan ini bukan hanya untuk memeriahkan suasana Ramadan di sekolah, tetapi juga sebagai ajang seleksi serius. Peserta yang berhasil meraih Juara 1 di setiap cabang lomba nantinya akan berhak mewakili Kecamatan Wangon untuk melaju ke tingkat Kabupaten. Kami ingin memastikan bahwa siapapun yang dikirim nanti adalah mereka yang benar-benar siap secara kualitas dan mental untuk bertanding dengan perwakilan dari kecamatan lain," ungkap Sofyanudin dengan penuh keyakinan.
Hingga berita ini diturunkan, suasana di SDN 1 Rawaheng masih dipenuhi keriuhan positif. Suara lantunan Tartil Al-Qur'an yang syahdu bersahutan dengan konsentrasi tinggi para siswa yang sedang mewarnai lembar gambar bercerita. Lomba Ramadan Ceria 2026 ini bukan sekadar ajang perebutan piala, melainkan jembatan bagi para siswa di Kecamatan Wangon untuk menapaki tangga "Iman Naik Kelas".
Dengan kolaborasi yang solid antara KKKS, KKGPAI, dan dukungan penuh dari Korwilcam Wangon, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter berbasis agama tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan dasar. Masyarakat berharap, semangat Ramadan yang berkualitas dan totalitas dalam beribadah ini akan terus membekas dalam keseharian siswa, jauh setelah kompetisi ini berakhir.

Posting Komentar