AJIBARANG - Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang dirasakan berbagai kalangan aparatur sipil negara, muncul pesan kuat tentang pentingnya kreativitas dan kemandirian ekonomi. Pesan itu disampaikan Armo, S.Pd.SD., M.Pd., Pengawas Korwilcam Dindik Ajibarang, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, yang mengajak ASN dan generasi muda untuk tidak ragu turun ke sektor pertanian sebagai langkah nyata memperkuat ketahanan pangan.
Ajakan tersebut bukan sekadar wacana. Armo menunjukkan teladan langsung dengan menekuni budidaya cabai varietas Ori 212 atau yang dikenal masyarakat sebagai japlak. Di tengah tingginya harga pasar cabai yang saat ini mencapai Rp76 ribu per kilogram, pertanian dinilai menjadi peluang produktif yang mampu menambah penghasilan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Di tengah efisiensi anggaran, ASN harus kreatif. Jangan hanya menunggu, tetapi harus mampu melihat peluang yang ada di sekitar kita,” ujar Armo saat ditemui di lahan pertaniannya.
Menurutnya, profesi sebagai ASN tidak menutup ruang untuk tetap produktif di sektor lain, selama dijalankan secara jujur, profesional, dan tidak mengganggu tugas utama sebagai pelayan masyarakat. Justru, keterlibatan ASN dalam usaha produktif seperti pertanian dapat menjadi contoh positif tentang pentingnya etos kerja dan kemandirian.
Budidaya cabai dipilih karena memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan serta kebutuhan pasar yang stabil. Selain itu, tanaman cabai relatif dikenal masyarakat sehingga lebih mudah dikembangkan, baik oleh petani pemula maupun kalangan muda yang ingin mulai terjun ke dunia usaha pertanian.
Ia menilai, tantangan terbesar saat ini bukan semata keterbatasan lahan atau modal, melainkan rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Banyak anak muda lebih tertarik pada pekerjaan formal, padahal pertanian menyimpan potensi besar jika digarap dengan inovasi dan semangat kewirausahaan.
Karena itu, Armo mendorong dunia pendidikan untuk mulai mengenalkan pertanian sejak dini melalui kegiatan nyata. Menurutnya, sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori dengan praktik lapangan, sehingga siswa memahami pentingnya pangan dan proses produksinya.
“Jangan hanya tentang teori, tetapi praktik langsung di lapangan. Anak-anak harus dikenalkan cara menanam, merawat, hingga memanen agar mereka paham nilai kerja keras dan ketahanan pangan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda dalam pertanian juga dapat menjadi solusi jangka panjang menghadapi tantangan ekonomi serta ancaman krisis pangan global. Jika anak muda mulai tertarik bertani, maka regenerasi petani akan berjalan dan ketahanan pangan daerah akan semakin kuat.
“Kita bangkitkan generasi muda untuk giat bertani. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Pertanian bukan hanya soal hasil panen, tetapi soal masa depan bangsa,” pungkas Armo, menegaskan bahwa dari ladang sederhana, harapan besar bisa tumbuh untuk Indonesia.
Kontributor: Armo, S.Pd.SD.
, M.Pd
Posting Komentar