Menyontek: Dosa Akademik atau Adaptasi Zaman?

 

Menyontek: Dosa Akademik atau Adaptasi Zaman?

(Sebuah esai dari sudut pandang evaluasi belajar dan psikologi pendidikan)

 

Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Di ruang ujian, kita selalu berpura-pura hidup dalam dunia yang bersih: meja rapi, soal dibagikan, pengawas berdiri seperti penjaga moral. Tetapi di bawah meja itu, sejarah pendidikan berdenyut: kertas kecil, lirikan mata, kode batuk, hingga kini ponsel dan AI.

 

Pertanyaannya bukan lagi apakah siswa menyontek, melainkan: mengapa sistem kita masih memproduksi kondisi yang membuat menyontek terasa “rasional”?

 

1. Apakah menyontek itu baik dan boleh?

Mari kita luruskan sejak awal: dalam kerangka etika akademik, menyontek tetaplah pelanggaran. Ia merusak prinsip dasar evaluasi: validitas (apakah tes benar-benar mengukur kemampuan siswa) dan reliabilitas (apakah hasilnya konsisten dan dapat dipercaya).

Dalam teori evaluasi belajar (Nitko & Brookhart), ujian seharusnya menjadi alat pengukuran autentik atas kompetensi individu. Ketika siswa menyontek, yang diukur bukan lagi pengetahuan atau keterampilan, tetapi kemampuan mengelabui sistem. Maka hasilnya menjadi noise, bukan data.

Namun, berhenti di sini terlalu dangkal. Karena jika menyontek terus terjadi secara masif, itu bukan sekadar masalah moral individu melainkan indikator kegagalan desain sistem pembelajaran.

 

2. Sisi “positif” menyontek: kecerdasan yang salah arah?

Ini bagian yang tidak nyaman, tapi perlu diakui:

Menyontek sering kali melibatkan kognisi tingkat tinggi merencanakan, mengantisipasi, membaca situasi, bahkan berkolaborasi.

Dalam perspektif psikologi kognitif:

Ada executive function (perencanaan strategi),

Ada problem solving (bagaimana mengakses jawaban),

Bahkan ada social intelligence (membangun jaringan “kerjasama”).

Artinya, siswa tidak bodoh. Mereka cerdas tetapi diarahkan ke jalur yang keliru.

Ini mirip dengan konsep dalam teori Goal Orientation (Dweck):

 

Jika sistem menekankan performance goal (nilai tinggi), bukan mastery goal (pemahaman), maka siswa akan mencari cara tercepat mencapai nilai termasuk menyontek.

Jadi, apakah menyontek itu kreatif?

Ya, dalam arti sempit.

Tetapi itu adalah kreativitas yang lahir dari tekanan sistem, bukan dari hasrat belajar.

 

3. Larangan menyontek vs realitas KKM: hipokrisi sistem?

Di sinilah dilema menjadi telanjang.

Sekolah berkata:

Dilarang menyontek. Harus jujur.”

Tetapi sistem berkata:

Semua harus lulus. Nilai minimal harus tercapai.”

Ketika KKM menjadi angka sakral, sering kali terjadi “inflasi nilai”.

Guru didorong secara halus maupun terang untuk memastikan siswa tidak gagal.

Dalam teori evaluasi:

Ini menciptakan washback effect negatif: ujian tidak lagi mendorong belajar, tetapi sekadar formalitas administratif.

Terjadi distorsi fungsi asesmen: dari alat diagnosis menjadi alat legitimasi.

Akhirnya, siswa menangkap pesan tersembunyi:

Nilai itu yang penting, bukan prosesnya.”

Dalam konteks ini, menyontek bukan pemberontakan. Ia justru adaptasi logis terhadap sistem yang kontradiktif.

 

4. Era digital: jika jawaban ada di mana-mana, apa arti ujian?

Kita hidup di zaman di mana:

Google lebih cepat dari ingatan,

AI lebih rapi dari catatan,

Video pembelajaran lebih jelas dari ceramah.

Pertanyaan kritisnya:

Apakah masih relevan menguji hafalan di era di mana informasi tak terbatas?

Dalam teori 21st Century Skills, yang penting bukan lagi:

Mengingat informasi, tetapi:

mengakses, mengevaluasi, dan menggunakannya secara kritis.

Maka, melarang siswa menggunakan internet saat ujian tanpa mengubah bentuk soal adalah kontradiksi.

Jika soal masih:

Sebutkan… Jelaskan… Definisikan…”

Maka siswa akan berpikir:

Kenapa tidak boleh mencari jawaban, kalau dunia nyata justru menuntut itu?”

Di sinilah muncul konsep open-book exam dan authentic assessment:

Boleh membuka sumber,

Tetapi soal menuntut analisis, sintesis, dan refleksi.

Dengan kata lain:

Masalahnya bukan pada akses informasi, tetapi pada kedalaman berpikir.

 

5. Guru dan “contekan yang dilegalkan”

Ini bagian yang paling sensitif.

Hari ini, banyak guru:

Mengajar dengan PowerPoint,

Mengandalkan Canva, AI, atau platform lain,

Bahkan kadang membaca slide di depan kelas.

Secara jujur, itu juga bentuk “ketergantungan pada sumber eksternal”.

Bedanya? Guru menyebutnya media pembelajaran, siswa disebut menyontek.

Padahal dalam teori belajar konstruktivisme:

Guru seharusnya menjadi fasilitator makna, bukan sekadar penyampai informasi.

Media hanyalah alat, bukan inti pembelajaran.

Jika guru sendiri tidak menguasai materi secara mendalam, maka yang terjadi adalah:

transfer of content, bukan transfer of value.

Di titik ini, siswa kehilangan figur otoritatif intelektual.

Dan ketika otoritas itu hilang, aturan moral pun ikut melemah.

 

6. Digitalisasi vs kembali ke tulisan tangan: paradoks global

Menariknya, beberapa negara maju justru mulai:

Mengurangi ketergantungan layar,

Kembali ke menulis tangan,

Menekankan deep work dan konsentrasi.

Mengapa?

Karena riset menunjukkan:

Menulis tangan meningkatkan retensi memori,

Membantu pemrosesan kognitif lebih dalam,

Mengurangi distraksi.

 

Sementara di Indonesia, kita sedang euforia digital:

Semua serba aplikasi,

Semua serba cepat,

Semua serba instan.

Dampaknya:

Positif:

Akses belajar meluas,

Sumber pengetahuan tak terbatas,

Pembelajaran lebih fleksibel.

 

Negatif:

Dangkalnya pemahaman (shallow learning),

Ketergantungan pada jawaban instan,

Menurunnya daya tahan berpikir,

Meningkatnya praktik “copy-paste”, termasuk dalam bentuk baru: AI-assisted cheating.

 

Jadi, apa yang sebenarnya perlu kita perbaiki?

Menyontek bukan akar masalah. Ia gejala.

Akar masalahnya ada pada:

Desain asesmen yang usang

terlalu fokus pada hafalan.

Budaya nilai, bukan belajar

angka lebih penting dari makna.

Ketidaksiapan guru dalam transformasi peran

dari pengajar menjadi pembimbing berpikir.

Euforia digital tanpa literasi kritis

teknologi digunakan, tapi tidak dipahami.

 

Penutup: Menggugat Kejujuran yang Dangkal

Kita terlalu sering menyederhanakan kejujuran menjadi:

Tidak menyontek saat ujian.”

Padahal kejujuran dalam belajar jauh lebih dalam:

Berani tidak tahu,

Mau berproses,

Tidak mencari jalan pintas untuk validasi semu.

 

Jika sistem tetap seperti sekarang, maka kita hanya akan menghasilkan dua tipe siswa:

 

Siswa yang jujur tapi kalah dalam sistem,

Siswa yang curang tapi berhasil dalam angka.

 

Dan itu adalah kegagalan pendidikan yang paling sunyi.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi:

Bagaimana mencegah siswa menyontek?”

Tetapi:

Apakah sistem kita masih layak untuk tidak ditipu?”


Ajibarang, 24 April 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama