Kegiatan yang berlangsung dalam suasana serius namun tetap komunikatif tersebut diikuti oleh seluruh juri dari berbagai cabang lomba FLS3N tingkat Korwilcam Lumbir. Tidak melibatkan pelatih atau guru pembina, forum ini secara khusus dirancang sebagai ruang diskusi dan penyamaan standar penilaian antarjuri agar tidak terjadi perbedaan interpretasi dalam menilai karya maupun penampilan peserta nantinya.
Dalam sesi pembukaan, Sugino menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kualitas pelaksanaan lomba. Ia menjelaskan bahwa kesamaan persepsi antarjuri menjadi kunci utama dalam menciptakan hasil penilaian yang adil dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa adanya kesepahaman, menurutnya, potensi perbedaan penilaian akan sangat besar dan dapat menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai pihak.
Sugino juga menambahkan bahwa melalui kegiatan ini, setiap juri diharapkan benar-benar memahami pedoman lomba yang telah ditetapkan. Dengan demikian, seluruh proses penilaian dapat berjalan sesuai aturan dan tidak dipengaruhi oleh subjektivitas pribadi. Ia menekankan bahwa profesionalisme juri menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan FLS3N.
Selanjutnya, Sumadi memberikan pemaparan mengenai cabang lomba mendongeng dan pantomim. Ia menjelaskan bahwa dalam kedua cabang tersebut, terdapat batasan-batasan yang harus diperhatikan, khususnya terkait konten yang ditampilkan oleh peserta. Ia mengingatkan bahwa materi yang dibawakan tidak boleh mengandung unsur kekerasan maupun pornografi, serta harus mengedepankan nilai-nilai edukatif dan moral.
Sumadi secara tidak langsung menegaskan bahwa juri harus mampu menilai tidak hanya dari aspek teknis, tetapi juga dari sisi pesan yang disampaikan. Ia menambahkan bahwa ekspresi, penguasaan panggung, serta kreativitas dalam menyampaikan cerita menjadi aspek penting yang harus diperhatikan dalam penilaian.
Pada sesi berikutnya, Duto memaparkan ketentuan dalam cabang lomba gambar bercerita, menulis cerita, dan menyanyi solo. Ia menjelaskan bahwa dalam lomba gambar bercerita, penilaian lebih difokuskan pada kekuatan garis dan kemampuan peserta dalam menyampaikan alur cerita melalui visual. Sementara itu, penggunaan warna bukan menjadi aspek utama dalam penilaian.
Untuk lomba menulis cerita, Duto menjelaskan bahwa peserta akan menghadapi sistem undian tema, di mana terdapat tiga pilihan tema yang harus dipilih secara acak. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan berpikir kreatif dan spontanitas peserta dalam menyusun cerita. Sedangkan dalam lomba menyanyi solo, terdapat lagu wajib dan lagu pilihan yang harus dikuasai oleh peserta, dengan penilaian meliputi teknik vokal, penghayatan, dan penampilan.
Lebih lanjut, Sutrisno menjelaskan aturan dalam cabang lomba kriya dan tari. Ia menekankan bahwa dalam lomba kriya, bahan yang digunakan harus berasal dari alam, seperti bambu, kayu, atau bahan alami lainnya. Penggunaan bahan sintetis tidak diperkenankan karena lomba ini juga mengandung nilai edukasi terkait pemanfaatan sumber daya alam secara bijak.
Dalam cabang lomba tari, Sutrisno menyampaikan bahwa setiap kelompok terdiri dari tiga peserta yang dapat terdiri dari putra, putri, atau campuran. Ia juga menambahkan bahwa sinopsis menjadi bagian penting dalam penilaian, karena memberikan gambaran tentang konsep dan makna dari tarian yang ditampilkan.
Dalam pernyataan langsungnya, Sugino kembali menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai dasar penilaian yang profesional. “Kegiatan ini kami laksanakan khusus untuk para juri agar memiliki kesamaan persepsi. Harapannya, tidak ada perbedaan penafsiran dalam menilai, sehingga hasilnya benar-benar objektif dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Sumadi juga memberikan penegasan terkait nilai edukatif dalam setiap cabang lomba. “Kami mengingatkan bahwa dalam mendongeng dan pantomim tidak boleh ada unsur kekerasan maupun pornografi. Juri harus tegas dalam hal ini, karena lomba ini juga menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa,” ungkapnya.
Sementara itu, Duto menekankan pentingnya pemahaman teknis yang detail bagi juri. “Penilaian harus sesuai dengan kriteria. Misalnya pada gambar bercerita, yang dilihat adalah kekuatan garis, bukan warna. Jadi juri harus benar-benar memahami indikatornya,” jelasnya.
Di sisi lain, Sutrisno juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam penilaian. “Dalam kriya, bahan harus dari alam. Ini sudah menjadi ketentuan. Begitu juga dalam tari, sinopsis harus menjadi bagian yang dinilai. Semua harus sesuai pedoman,” katanya.
Kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan penuh keseriusan dari seluruh peserta. Diskusi yang terjadi menunjukkan adanya komitmen kuat dari para juri untuk menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya.
Melalui kegiatan Technical Meeting ini, Korwilcam Dindik Lumbir berharap pelaksanaan FLS3N tahun 2026 dapat berjalan dengan lebih tertib, transparan, dan berkualitas. Dengan juri yang memiliki pemahaman yang sama, diharapkan hasil lomba benar-benar mencerminkan kemampuan terbaik peserta.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa persiapan yang matang merupakan langkah penting dalam menciptakan ajang kompetisi yang sehat dan bermartabat. Dengan sinergi antarjuri yang semakin kuat, FLS3N di wilayah Lumbir diharapkan mampu melahirkan talenta-talenta muda yang tidak hanya berbakat, tetapi juga berkarakter.
Dengan demikian, FLS3N 2026 bukan hanya menjadi ajang perlombaan semata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi semua pihak, khususnya dalam menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesionalisme, dan sportivitas dalam dunia pendidikan.
Kontributor: Suripto
Editor: Suripto


Posting Komentar