Bangsa Penuh Ajaran Jujur, Kosong dalam Laku
(Catatan Perih Moral dan Budaya Kita)
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Ada ironi yang menyakitkan, namun menjadi pemandangan lumrah
di negeri ini: sejak taman kanak-kanak, anak-anak kita dilatih berbaris,
diajarkan berbicara apa adanya, dan ditanamkan bahwa kejujuran adalah harga
diri tertinggi. Namun saat mereka tumbuh dewasa, melangkah ke arena kompetisi,
dan menguji kemampuan, mulai dari lomba cerdas cermat hingga persaingan hidup
nyata, mereka dihadapkan pada satu kenyataan pahit: kemenangan sering kali tidak
berpihak pada kebenaran, melainkan pada siapa yang punya akses, siapa yang
dikenal, dan siapa yang punya kuasa.
Kasus viral cerdas cermat 4 Pilar MPR RI di Pontianak
beberapa waktu lalu bukan sekadar berita lomba yang berakhir gaduh. Ia bukan
sekadar soal selisih poin, protes pendukung, atau kekeliruan teknis panitia.
Peristiwa itu adalah cermin besar yang diletakkan tepat di depan wajah bangsa
ini, memperlihatkan benturan keras antara apa yang kita ajarkan di dalam kelas
dengan apa yang kita praktikkan di kehidupan nyata. Di layar gawai kita, kita
semua menyaksikan sesuatu yang sangat menyayat hati dan merusak masa depan:
saat anak-anak berdiri tegak yakin jawabannya benar, namun sistem berkata
mereka salah. Saat keringat dan kerja keras bertemu keputusan yang terasa
sepihak. Saat pengetahuan yang luas harus tunduk pada otoritas yang tidak bisa
dibantah.
Luka semacam ini, dalam dunia psikologi, bukan sekadar
kekecewaan sesaat. Masa remaja adalah masa pembentukan karakter, fase di mana
seorang anak sedang berjuang menjawab pertanyaan terbesar dalam hidupnya:
"Apakah dunia ini adil? Apakah kejujuran masih berguna? Apakah
kemampuan akan dihargai?" Kompetisi akademik seharusnya menjadi
laboratorium moral, tempat mereka belajar bahwa kemenangan adalah buah kerja
keras, dan kekalahan adalah pelajaran untuk bangkit. Namun ketika ruang itu
dikotori oleh kepentingan, keberpihakan, dan ketidaktransparanan, yang rusak
bukan hanya piala yang tak didapat. Yang retak adalah kepercayaan mereka pada
nilai kebenaran itu sendiri. Dan ketika generasi muda mulai berpikir bahwa
"benar atau salah itu relatif, tergantung siapa yang memegang
kendali," maka bangsa ini sedang menanam bibit kehancuran yang perlahan
namun pasti akan tumbuh subur.
Warisan Budaya: Kita Mengagungkan Kebenaran, Tapi
Menyerah pada Kepentingan
Satu hal yang sangat menyedihkan sekaligus ironis: bangsa
ini sebenarnya tidak kekurangan ajaran tentang kejujuran dan sportivitas. Dari
ujung barat hingga timur, dari utara ke selatan, hampir setiap suku dan budaya
di Nusantara meletakkan nilai jujur sebagai tiang utama kehormatan.
Di Aceh, ada filosofi "Hukom ngon adat, adat ngon
hukom" yang menyatukan aturan dan kebiasaan, di mana berbohong
dianggap aib terbesar yang mencoreng muka keluarga dan kampung.
Orang Minangkabau memegang teguh "Alam takambang
jadi guru", mengajarkan bahwa kebenaran adalah seperti alam, tidak
bisa diputarbalikkan; orang yang tidak jujur akan kehilangan tempat berpijak di
tengah masyarakat.
Bagi suku Batak, kejujuran adalah nyawa dari Adat. Sumpah
dan perkataan laki-laki adalah harga diri; melanggar kebenaran berarti
meruntuhkan martabat marga dan keturunannya.
Di tanah Dayak, kejujuran dan kesetiaan pada perkataan
adalah bagian dari keberanian. Orang yang pandai berbicara namun dusta dianggap
tidak punya nyali, rendah derajatnya di mata adat.
Orang Sunda diajarkan "Cageur, Bageur, Bener",
di mana kata Bener (benar/jujur) ada di urutan kedua, berarti kejujuran adalah
syarat utama menjadi manusia yang baik.
Di Jawa, kita mengenal ajaran luhur "Aja dumeh, aja
gumedhe", jangan merasa hebat dan berkuasa lalu semena-mena, serta
"Sepira gedhene wit, oyod isih ing lemah" sebesar apa pun
kedudukan, tetap harus berpijak pada kebenaran.
Orang Madura memegang teguh harga diri; berbohong dianggap
memalukan dan bisa menjadi alasan putusnya hubungan persaudaraan.
Suku Bugis dan Makassar hidup dengan prinsip "Siri'
na' Pacce", di mana rasa malu berbuat salah dan menjaga kehormatan
membuat kejujuran menjadi harga mati. Seorang pemimpin atau orang terpandang
yang ketahuan curang akan jatuh derajatnya seumur hidup.
Di Manado dan tanah Papua, kebersamaan dan keterbukaan
adalah ciri utama. Berbicara tidak apa adanya, menyembunyikan kebenaran, atau
berbuat curang dianggap merusak ikatan persaudaraan yang dijunjung tinggi.
Di Bali, ajaran "Tri Hita Karana"
mengajarkan kesejahteraan lahir batin yang dibangun di atas keharmonisan dengan
Tuhan, sesama manusia, dan alam. Inti dari hubungan itu adalah kejujuran. Ada
prinsip "Satya" — setia dan benar dalam perkataan serta perbuatan.
Bagi orang Bali, berbohong atau berbuat curang adalah dosa yang merusak
keharmonisan, dianggap memanggul beban karma buruk, dan mempermalukan nama
keluarga di hadapan desa adat. Kejujuran bukan sekadar etika, melainkan syarat
utama kemuliaan hidup.
Di Lombok, Sumbawa, dan seluruh Nusa Tenggara, nilai
kejujuran tertanam kuat dalam prinsip "Lemaq Aiq, Lemaq Genah" —
satu air, satu tempat, bermakna persaudaraan yang tak boleh dikhianati. Budaya
Sasak, Sumbawa, dan komunitas Bajo (komunitas pelaut yang hidup di laut lepas)
menjunjung tinggi "Jati Diri", di mana perkataan adalah utang yang
wajib ditepati. Bagi masyarakat ini, orang yang pandai bicara tapi tidak benar
dianggap lebih rendah derajatnya daripada orang sederhana yang selalu jujur.
Kepercayaan adalah modal hidup; kehilangan kepercayaan berarti kehilangan
tempat bernaung di tengah komunitas.
Lihatlah betapa kayanya kita dengan ajaran luhur ini. Secara
teori budaya, kita adalah bangsa yang mulia. Di setiap pidato, di setiap
upacara adat, di setiap tulisan sejarah, kita memuji kejujuran setinggi langit.
Namun, ada satu penyakit besar yang menggerogoti kita: dalam pelaksanaannya,
nilai-nilai luhur itu kalah telak oleh kepentingan.
Kita tahu mana yang benar, tapi diam demi jabatan.
Kita paham mana yang adil, tapi memaklumi demi hubungan
kekeluargaan.
Kita mengajarkan sportivitas, tapi marah dan memanipulasi
saat kelompok kita yang kalah.
Kita bangga warisan budaya kita, tapi dalam nyata kita
melestarikan budaya tunduk pada kuasa.
Religiusitas: Pujian Penuh Kebenaran, Praktik Penuh
Kepalsuan
Ada satu lapisan luka yang lebih dalam lagi: bangsa ini
dikenal sangat religius. Kita adalah bangsa yang rajin beribadah, rajin ke
tempat suci, dan sangat fasih melantunkan ajaran kebenaran dari kitab-kitab
suci. Di setiap ajaran agama yang tumbuh subur di bumi ini, kejujuran adalah
tiang utama iman. Agama mengajarkan bahwa dusta adalah kepalsuan yang
menjauhkan manusia dari Tuhan, bahwa kebenaran adalah cahaya, dan bahwa orang
jujur adalah orang yang mulia di sisi Tuhan maupun sesama.
Namun lagi-lagi, kita mengalami keterputusan yang parah
antara ide dan laku.
Kita berdoa memohon kebenaran, tapi diam saat kebenaran
diinjak.
Kita mengaji atau membaca kitab tentang larangan menipu,
tapi berani memanipulasi aturan demi keuntungan.
Kita berdakwah tentang kejujuran, tapi diam saat pejabat
atau orang dekat kita berbuat curang.
Kita merasa orang yang saleh dan beragama, tapi lupa bahwa
ukuran kesalehan paling dasar adalah apa yang kita ucapkan dan kita perbuat itu
sama.
Sungguh ironis: kita bangga disebut bangsa yang religius,
tapi malu disebut bangsa yang jujur. Kita hebat dalam merayakan hari besar
keagamaan, tapi lemah dalam merayakan kebenaran di kehidupan sehari-hari.
Religiusitas kita sering kali hanya menjadi pakaian luar, bukan napas dalam
hati. Kita hebat berbicara tentang surga dan neraka, tapi lupa bahwa pintu
neraka terbuka lebar bagi mereka yang suka berdusta dan curang.
Kita memiliki begitu banyak kitab, begitu banyak pemuka
agama, begitu banyak tempat ibadah, tapi kita kekurangan satu hal: keberanian
menyamakan apa yang ada di lidah dengan apa yang ada di hati. Kebenaran hidup
dalam ayat-ayat kita, tapi mati dalam tindakan kita.
Kuasa Bekerja Diam-diam, Mengubah Nilai Menjadi Aib
Filsuf Michel Foucault pernah berkata bahwa kekuasaan tidak
selalu bekerja lewat pedang. Ia bekerja lewat aturan, lewat prosedur, lewat
legitimasi, dan lewat otoritas yang seolah benar dan tak boleh disangkal.
Inilah yang terjadi di banyak tempat, termasuk dunia pendidikan kita.
Dalam kompetisi apa pun, terasa ada pola samar namun tajam:
siapa penyelenggaranya, siapa juri yang dekat dengan siapa, siapa yang punya
akses, siapa yang "tidak enak" dikalahkan. Di permukaan semuanya
tertib, berprosedur, resmi. Tapi di balik layar, aroma ketidakberesan itu
tercium kuat: dari bahasa tubuh panitia, dari ekspresi peserta, hingga
keheningan yang memaksa penonton menerima keputusan sepihak.
Di titik itulah pendidikan berubah fungsi. Ia bukan lagi
tempat pembentukan karakter, melainkan panggung reproduksi budaya feodal. Di
sinilah anak-anak kita belajar pelajaran yang jauh lebih membekas daripada isi
buku pelajaran: "Di negeri ini, yang penting bukan benar atau salah.
Yang terpenting siapa yang punya kuasa."
Puluhan tahun lalu, Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia
sudah menulis ini tajam: bangsa ini punya watak munafik, lebih takut pada
kekuasaan daripada takut pada kebenaran, dan enggan bertanggung jawab atas
kesalahan. Tulisan itu masih cermin yang belum pecah. Kita gemar meneriakkan
kejujuran di panggung, tapi gelisah jika kejujuran itu mengganggu kepentingan.
Kita marah saat dicurangi, tapi diam saat kecurangan menguntungkan kita.
Negeri ini penuh anak jenius, penuh juara, penuh peringkat
satu. Tapi kita kekurangan parah: keberanian moral. Kita kekurangan orang yang
berani berkata "ini salah, mari perbaiki" meski rugi. Kita kekurangan
orang yang malu dan benci pada kebohongan, bukan hanya saat merugi, tapi benci
karena memang kebohongan itu salah, titik.
Ingat Laskar Pelangi? Ikal dan kawan-kawan menang
bukan hanya pintar, tapi karena publik percaya kemenangan itu murni, adil,
bermartabat. Di situ letak kekuatan: penonton tidak hanya melihat kecerdasan,
tapi melihat keadilan bekerja. Sayangnya sastra itu kini lebih jujur daripada
nyata. Di dunia nyata, Ikal kalah sistem, Lintang tersingkir bukan bodoh tapi
tak punya akses, Mahar dikalahkan bukan salah jawab tapi oleh aturan orang
dewasa penjaga gengsi.
Bahaya Terbesar: Saat Kejujuran Dianggap Kebodohan
Banyak bilang: "Ah, cuma kalah lomba, nanti
lupa." Pandangan itu dangkal. Dalam pendidikan, kalah secara jujur itu
bukan tragedi, itu pelajaran rendah hati. Yang berbahaya adalah saat anak-anak
menyimpulkan: "Ngapain jujur kalau yang curang menang? Ngapain usaha
kalau keputusan sudah diatur?"
Kalimat sederhana itu adalah benih kehancuran bangsa.
Korupsi besar tak lahir tiba-tiba di gedung parlemen. Penyalahgunaan kuasa tak
muncul mendadak. Semua tumbuh pelan dari pembiasaan kecil: nilai
dimanipulasi, lomba tak adil, ujian dibocorkan, budaya "sudah biasa
begitu", dan diamnya kita saat kebenaran diinjak.
Kita sakit karena kehilangan rasa malu salah dan rasa benci
bohong. Kita maklumi ketidakadilan sebagai nasib, terima kecurangan sebagai
kebijakan, biarkan kebenaran dikalahkan demi ketenangan semu. Padahal budaya
dan agama kita dari ujung ke ujung mengajarkan: hanya bangsa yang berani
memegang kebenaran meski kalah, yang pantas disebut beradab dan beriman.
Kompetisi, pemerintahan, hingga hidup bermasyarakat harusnya
ruang steril dari kuasa. Panitia boleh salah, juri bisa keliru, sistem cacat.
Tapi yang membedakan kita beradab atau tidak adalah keberanian mengakui dan
memperbaiki kesalahan dengan jujur. Karena pendidikan bukan menjaga gengsi
lembaga, tapi menjaga kepercayaan anak-anak: bahwa kebenaran itu ada, dan ia
harus dimenangkan.
Jika hari ini kita diam saja melihat jawaban benar
dikalahkan, kejujuran dipermalukan, nilai budaya dan agama dikhianati
kepentingan maka jangan heran nanti kita hidup di tengah masyarakat yang tak
lagi malu berbohong, tak lagi hormat pada kebenaran, dan hanya religius di
mulut saja.
Keadilan tak lahir dari pidato. Tak tumbuh dari slogan
budaya atau ayat indah semata. Keadilan lahir saat kita berani jujur meski
rugi. Dan kejujuran bangkit saat kita sepakat: kita malu dan benci pada
kebohongan, di mana pun, oleh siapa pun, dan dalam bentuk apa pun.
Ajibarang, 14 Mei 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar