Delegasi Banyumas hadir membawa semangat berbagi dan belajar, terdiri atas Taufieq Ariefiyanto, Sri Indriyanti, dan Nurrina Dyahpuspita. Kehadiran mereka didampingi pengurus PGRI, Kasiyanto, sebagai bagian dari upaya mendorong guru-guru daerah untuk aktif dalam jejaring pengembangan profesional.
“Forum ini menjadi kesempatan berharga untuk saling belajar dan menambah wawasan, terutama dalam mengembangkan budaya menulis serta mendokumentasikan praktik baik di sekolah,” ujar salah satu peserta dari Banyumas.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua PGRI Jawa Tengah, Muchdi, yang menegaskan pentingnya guru menjadi penggerak perubahan. Ia menilai kemajuan pendidikan sangat bergantung pada kemauan guru untuk terus belajar, berkarya, dan membagikan pengalaman baik kepada sesama pendidik.
Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi fondasi utama membangun pendidikan yang bermutu. Menurutnya, sekolah yang maju lahir dari guru-guru yang memiliki kebiasaan berpikir reflektif, berani berinovasi, dan konsisten menghasilkan karya.
“Guru harus terus meningkatkan kompetensi dan tidak berhenti belajar. Pendidikan yang maju lahir dari guru-guru yang mau berkarya, menulis, dan berbagi inspirasi,” tegas Dr. Muchdi di hadapan peserta.
Materi inti forum menghadirkan narasumber inspiratif dari berbagai latar belakang pendidikan. Salah satunya Chitra Sintarani yang membawakan materi tentang growth mindset menuju best practice. Dalam paparannya, ia mengajak guru agar tidak terjebak pada persoalan semata, tetapi fokus menciptakan solusi pembelajaran yang berdampak langsung bagi siswa.
Peserta diajak memahami bahwa inovasi tidak selalu hadir dari program besar. Hal-hal sederhana seperti strategi pembelajaran kreatif di kelas, pemanfaatan media digital, atau metode penilaian yang bermakna dapat menjadi best practice apabila dijalankan konsisten dan didokumentasikan dengan baik.
“Jangan hanya fokus pada masalah, tetapi hadirkan inovasi dan praktik baik yang bisa menginspirasi,” pesan Chitra yang disambut antusias para guru.
Narasumber lain, Arif Ediyanto, membagikan pengalamannya membangun budaya literasi dan inovasi di sekolah. Ia menekankan pentingnya keberanian guru menulis, mendokumentasikan karya, serta mempublikasikan praktik baik agar manfaatnya meluas ke satuan pendidikan lain.
Menurutnya, banyak guru sebenarnya memiliki karya luar biasa, namun sering berhenti di ruang kelas karena tidak terdokumentasi. Melalui forum ini, para guru diajak menuliskan proses, tantangan, dan hasil pembelajaran agar menjadi inspirasi sekaligus referensi pengembangan pendidikan.
“Setiap guru punya cerita hebat di kelas. Tugas kita adalah menuliskannya agar menjadi ilmu bagi yang lain,” kata Arif saat sesi diskusi.
Delegasi Banyumas tampak aktif mengikuti seluruh rangkaian. Mereka berdiskusi, bertukar pengalaman, serta menyerap berbagai materi terkait penyusunan best practice, penulisan karya ilmiah, refleksi pembelajaran, hingga strategi membangun komunitas belajar di sekolah. Bagi mereka, forum ini bukan hanya pelatihan, tetapi juga ruang menyalakan semangat baru.
“Banyak inspirasi yang kami dapatkan. Ini akan menjadi motivasi untuk lebih berani menulis dan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah,” ungkap salah satu delegasi Banyumas usai kegiatan.
Forum FPGL ini juga menjadi pengingat bahwa profesi guru menuntut pembaruan terus-menerus. Di tengah perubahan teknologi, kurikulum, dan karakter peserta didik, guru perlu adaptif sekaligus produktif. Menulis menjadi salah satu jalan untuk mengabadikan gagasan, mengevaluasi praktik, dan memperluas dampak pembelajaran.
Bagi delegasi Banyumas, perjalanan ke Semarang bukan sekadar menghadiri forum. Mereka membawa pulang semangat baru bahwa literasi harus hidup di setiap ruang kelas. Bukan hanya siswa yang dibiasakan membaca dan menulis, tetapi guru pun harus menjadi teladan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Melalui forum ini, para guru dari Banyumas berharap budaya literasi di sekolah semakin kuat. Inspirasi yang diperoleh dari para narasumber diharapkan menular ke rekan sejawat, menumbuhkan keberanian berkarya, serta memperkuat ekosistem belajar yang kolaboratif di sekolah-sekolah.
Dari ruang aula di Semarang, suara para guru berkumpul bukan sekadar bertukar pengalaman, melainkan meneguhkan tekad bahwa pendidikan yang maju lahir dari guru yang tak lelah belajar. Dan dari Banyumas, langkah kecil itu telah dimulai, menulis, berbagi, dan menyalakan cahaya literasi untuk masa depan yang lebih terang.
Kontributor: Nurrina Dyahpuspita
Posting Komentar