Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Ada tulisan yang sekadar dibaca, ada pula tulisan yang
bekerja seperti alarm sunyi. Ia tidak berteriak, tidak memekakkan telinga
dengan kata-kata keras, namun berhasil mengguncang kesadaran siapa saja yang
membacanya. Tulisan Riswo Mulyadi adalah contoh nyata dari yang kedua.
Kekuatannya tidak terletak pada bahasa yang rumit atau istilah akademik yang
sulit dimengerti, melainkan pada kesederhanaan kalimat yang mampu menembus
langsung ke dalam rasa resah kolektif manusia modern. Ia berbicara tentang sesuatu
yang kita semua rasakan namun jarang berani ucapkan: tentang bagaimana kita
perlahan menjadi terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya tidak biasa, dan
bagaimana kewarasan kita justru dipertaruhkan di tengah dunia yang makin hari
makin tidak waras.
Namun, sehebat apa pun sebuah gagasan, selalu ada ruang
untuk melihatnya dari berbagai sisi. Sebuah opini yang kuat bisa menjadi lebih
tajam jika kita membedah di mana letak kekuatannya, mengenali di mana letak
kelemahannya, dan memperluas sudut pandangnya agar pesan yang disampaikan bisa
semakin menghantam kesadaran publik.
Inti Gagasan: Kewarasan di Tengah Dunia yang Tidak Waras
Tema sentral yang diangkat Riswo sangat mendalam namun
sederhana: makna "kewarasan" itu sendiri. Bagi penulis ini, kata
waras tidak dipahami dalam pengertian medis atau kesehatan jiwa semata,
melainkan dalam makna moral dan sosial. Ia sedang membicarakan kondisi ketika
manusia dipaksa beradaptasi dengan kebusukan sistemik, hingga pada titik
tertentu kita mulai kehilangan sensitivitas kita terhadap apa yang benar dan
apa yang salah.
Gagasan utamanya tertuang dalam satu kalimat yang menjadi
poros seluruh tulisan: “Ketika manusia tidak lagi terganggu oleh kerusakan,
mungkin justru di situlah kewarasannya hilang.” Ini adalah kritik tajam
terhadap budaya normalisasi yang kini merajalela. Kita diajak melihat bagaimana
masyarakat perlahan menganggap wajar segala sesuatu yang seharusnya mengganggu
hati nurani: normalisasi kebohongan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan,
banjir informasi yang tidak bermutu, hingga sikap acuh tak acuh terhadap nasib
orang lain.
Secara emosional, tulisan ini dibangun dengan alur yang
sangat efektif: dimulai dari rasa gelisah, lalu berubah menjadi pembiasaan,
berujung pada mati rasa, dan berakhir pada hilangnya nurani. Pembaca diajak
masuk perlahan-lahan ke dalam suasana yang muram ini, tanpa merasa sedang
digurui atau disalahkan. Salah satu kalimat paling kuat yang menjadi jantung
pesannya adalah: “Padahal, mungkin justru kemampuan merasa terganggu itulah
tanda bahwa seseorang masih waras.” Di balik tulisan ini, terselip
pandangan yang sangat dekat dengan filsafat eksistensial dan teori alienasi
sosial—tentang bagaimana manusia terpisah dari kemanusiaannya sendiri karena
sistem yang tidak manusiawi.
Walau tidak pernah menyebutkan nama pihak atau lembaga
tertentu, kritik sosial yang disasar sangat luas dan tajam. Ia menyentil
negara, cara kita memahami pembangunan, peran media, perilaku masyarakat di
dunia digital, hingga cara hidup manusia modern secara umum. Riswo menyoroti
pembangunan yang berjalan tanpa hati nurani, tumpukan informasi yang justru
membuat empati kita tumpul, serta budaya bertahan hidup yang memaksa banyak
orang memilih diam daripada berbicara benar.
Di Mana Letak Kekuatan Tulisan Ini?
Tulisan Riswo memiliki daya tarik yang luar biasa, dan
kekuatannya terletak pada empat hal utama.
Pertama, bahasanya sederhana namun sarat makna filosofis. Ia
tidak menggunakan istilah rumit yang hanya bisa dimengerti kalangan akademisi,
namun gagasan yang dibawanya sebenarnya menyentuh konsep-konsep besar seperti
alienasi, desensitisasi sosial, banalitas kejahatan, krisis empati, hingga
normalisasi penyimpangan. Inilah keunggulan terbesarnya: pembaca awam bisa
menikmati dan merasakan pesannya, sementara pembaca yang memiliki wawasan lebih
luas tetap bisa menemukan lapisan makna yang dalam di balik setiap kalimatnya.
Kedua, tulisan ini puitis namun tidak kehilangan substansi.
Banyak tulisan reflektif yang gagal karena terlalu sibuk merangkai kata indah
hingga isinya menjadi kosong. Riswo berhasil menjaga keseimbangan yang sulit
itu: keindahan bahasa tetap ada, namun pesan sosial yang ingin disampaikan
tetap tegas dan jelas.
Ketiga, gagasannya bersifat universal dan sangat relevan.
Tulisan ini bisa dibaca dan diterapkan dalam berbagai konteks kehidupan: mulai
dari persoalan kerusakan lingkungan, kualitas pendidikan, kancah politik,
perilaku di media sosial, praktik korupsi, budaya kerja, hingga hubungan dalam
keluarga. Inilah alasan mengapa tulisan seperti ini mudah menyebar dan diterima
oleh siapa saja, dari latar belakang mana pun.
Keempat, pendekatannya bersifat moral, bukan ideologis. Ia
tidak menggurui dengan jargon-jargon politik yang memecah belah, melainkan
berbicara langsung ke hati nurani. Karena itu, pembaca dari berbagai kubu
pandangan bisa merasa tersentuh dan merenungkan pesannya, tanpa merasa
diserang.
Celah yang Bisa Diperdalam: Kelemahan dan Batasan Gagasan
Meski sangat kuat dan menyentuh, tulisan ini tetap memiliki
sisi yang bisa diperluas dan diperdalam agar pesannya tidak berhenti sekadar
menjadi renungan.
Pertama, tulisan ini terasa terlalu umum dan abstrak. Ia
sangat kuat dalam membangun rasa dan kesadaran, namun lemah dalam memberikan
pijakan yang konkret. Tidak ada contoh kasus nyata, data yang mendukung,
konteks sosial yang spesifik, atau penjelasan siapa sebenarnya aktor yang
bertanggung jawab atas kondisi ini. Akibatnya, pembaca memang bisa merasa
tersentuh dan tergerak hatinya, namun sering kali tidak tahu harus berbuat apa
setelah membacanya. Tulisan ini berhenti di tahap kontemplasi, belum sampai pada
tahap ajakan bertindak.
Kedua, ada hal yang belum dibedakan dengan jelas: perbedaan
antara “adaptasi yang sehat” dan “kepanikan moral”. Tidak semua bentuk
penyesuaian diri itu buruk. Kadang manusia memang perlu beradaptasi dan menahan
rasa agar tidak hancur secara psikologis saat menghadapi tekanan hidup. Tulisan
ini sedikit berisiko jatuh pada romantisme kegelisahan, seolah-olah seseorang
baru dianggap waras jika terus marah dan terusik. Padahal, kemarahan yang
terus-menerus juga bisa melahirkan kelelahan sosial, sinisme, hingga depresi
kolektif yang justru melemahkan kita semua.
Ketiga, tulisan ini baru menggambarkan gejala, belum
membongkar akar masalahnya. Riswo menunjukkan bahwa kita sedang mati rasa,
namun belum sepenuhnya menjelaskan mesin apa yang sebenarnya memproduksi rasa
mati rasa itu. Padahal sumbernya bisa ditelusuri lebih jauh: dari algoritma
media sosial yang mengutamakan perhatian, sistem kapitalisme yang menjadikan
segalanya barang dagangan, budaya konsumsi yang mengajarkan kita hanya
memikirkan diri sendiri, sistem pendidikan yang justru menumpulkan daya kritis,
hingga birokrasi yang sering kali menghukum kejujuran. Saat ini, pandangan
Riswo masih berada di level moral individu, belum menyentuh perubahan sistem
yang lebih luas.
Keempat, ada nuansa nostalgia moral yang perlu dikoreksi.
Tulisan ini seolah mengandaikan bahwa di masa lalu manusia lebih peduli dan
lebih waras. Padahal, jika kita melihat sejarah, kehidupan manusia selalu penuh
dengan perang, kekerasan, eksploitasi, dan ketidakpedulian. Yang berubah saat
ini bukan sekadar kualitas moral manusia, melainkan skala dan kecepatan
kerusakan yang terjadi. Masalahnya bukan kita menjadi lebih jahat, tapi dampak
kejahatan itu kini menyebar lebih luas dan lebih cepat.
Memperluas Sudut Pandang: “Yang Gila Bukan Mereka yang
Marah, Tapi Mereka yang Sudah Terbiasa”
Jika tulisan Riswo mengajak kita menjaga nurani di tengah
dunia yang tidak waras, kita bisa memperkuat gagasan itu dengan sudut pandang
lain yang lebih tajam, khususnya melihat bagaimana budaya normalisasi kebusukan
ini ditanamkan sejak dini, mulai dari pendidikan hingga kehidupan sehari-hari.
Dulu, anak-anak diajarkan satu hal sederhana namun berharga:
jika melihat sampah, pungutlah. Jika melihat orang kesusahan, bantuilah. Peduli
itu kewajiban. Namun sekarang, pesan yang sering kali tersampaikan—secara
terang-terangan maupun tersirat—berubah menjadi: “Jangan terlalu peduli, nanti
capek sendiri. Urus saja dirimu sendiri.”
Dulu, seorang guru dianggap berhasil jika ia mampu membuat
muridnya berpikir, bertanya, dan memahami makna hidup. Sekarang, guru sering
kali dipaksa sibuk mengisi angka, melengkapi laporan, menyesuaikan aplikasi,
validasi data, dan urusan administrasi yang tak berujung, sampai-sampai lupa
bahwa di depan kelasnya ada manusia kecil yang sedang tumbuh jiwanya. Dan yang
paling mengerikan: semua kekacauan ini perlahan dianggap wajar, dianggap bagian
dari “profesionalisme” atau “tuntutan zaman”.
Kita hidup di masa di mana definisi kewarasan telah
terbalik. Kewarasan tidak lagi diukur dari seberapa jernih nurani seseorang,
melainkan dari seberapa baik ia bisa menyesuaikan diri terhadap kekacauan.
Orang yang terlalu jujur sering dianggap tidak realistis. Orang yang terlalu
peduli sering dicap cari panggung. Orang yang terlalu kritis sering dituduh
mengganggu stabilitas. Sementara mereka yang pandai diam, menunduk, ikut arus,
dan pandai berpura-pura, justru dipuji sebagai orang yang dewasa.
Mungkin memang ada yang salah dengan definisi “dewasa” yang
kita pegang saat ini. Masyarakat modern tampaknya lebih menghargai kemampuan
bertahan hidup daripada kemampuan menjaga hati tetap hidup.
Lihat saja apa yang terjadi di media sosial setiap hari.
Kita disuguhi penghinaan, berita bohong, pamer kekayaan, kebodohan yang
dipertontonkan, kekerasan verbal, hingga tragedi kemanusiaan yang dijadikan
bahan konten. Awalnya, kita marah. Kita sedih. Kita merasa terganggu. Namun
lama-kelamaan, kita lelah. Lalu kita mulai terbiasa. Dan ketika kebiasaan itu
menetap, lahirlah generasi yang menganggap semua kegilaan sosial itu sebagai
hiburan biasa.
Gejala yang sama terasa di sekolah-sekolah. Anak-anak masa
kini makin sulit merasa kagum, makin sulit diam dan hening, makin sulit
mendengarkan, dan makin sulit peduli. Mereka dibesarkan di dunia yang terlalu
bising, terlalu cepat, dan terlalu penuh informasi, sehingga tidak ada lagi
ruang kosong di hati untuk nurani bersemayam. Yang viral dianggap lebih penting
daripada yang benar. Yang ramai dianggap lebih berharga daripada yang bermutu.
Yang cepat dianggap lebih unggul daripada yang dalam. Lalu kita sering
bertanya-tanya, mengapa rasa empati anak-anak makin menurun?
Padahal mungkin masalahnya bukan karena manusia masa kini
kehilangan hati atau perasaan. Tetapi karena sejak kecil mereka sudah dilatih,
secara sadar maupun tidak, untuk menumpulkan rasa itu. Mereka diajarkan untuk
mematikan kepedulian agar bisa bertahan hidup di dunia yang terlalu gaduh dan
kejam.
Dan ironi terbesarnya adalah: sistem kita sering kali
menghukum orang yang masih punya rasa. Guru yang masih idealis dianggap
merepotkan. Pegawai yang masih jujur dianggap menghambat kerja. Aktivis yang
peduli lingkungan dicap anti-pembangunan. Anak yang berani bertanya dianggap
anak yang melawan.
Akhirnya, masyarakat kita secara perlahan menciptakan satu
jenis manusia baru: manusia yang selamat secara sosial, diterima di lingkungan,
punya pekerjaan, dan tampak baik-baik saja, namun lumpuh secara nurani. Mereka
masih tertawa, masih bekerja, masih beraktivitas seperti biasa. Namun, mereka
tidak lagi mampu benar-benar merasa terganggu.
Padahal, seperti yang diingatkan Riswo Mulyadi, justru
kemampuan untuk tetap terusik itulah benteng terakhir kemanusiaan kita.
Ketika manusia sudah merasa nyaman melihat ketidakadilan,
tertawa melihat penghinaan, diam melihat kebohongan, dan santai melihat
kerusakan, maka yang hilang bukan sekadar rasa peduli. Lebih dari itu,
pelan-pelan namun pasti, yang hilang adalah jiwanya sendiri. Maka, mari kita
jaga rasa terusik itu. Sebab di dunia yang makin gila ini, merasa terganggu
justru adalah tanda bahwa kita masih waras.
Ajibarang, 26 Mei 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Posting Komentar