Oleh: Riswo Mulyadi
Ada zaman ketika orang yang terlalu jujur dianggap berbahaya.
Orang yang masih bisa sedih melihat sungai keruh disebut
sentimental. Orang yang marah melihat hutan dibabat dianggap menghambat
pembangunan. Orang yang bertanya terlalu banyak dicurigai punya kepentingan.
Padahal, mungkin justru kemampuan merasa terganggu itulah tanda
bahwa seseorang masih waras.
Hari ini banyak orang mengira waras berarti mampu menyesuaikan diri
dengan keadaan. Padahal tidak selalu begitu. Sebab ada keadaan-keadaan yang
memang tidak layak diterima dengan tenang.
Kalau rumah terbakar lalu semua orang duduk santai sambil minum
kopi, mungkin masalahnya bukan pada orang yang panik. Mungkin justru ada
sesuatu yang salah dengan cara kita memahami kewarasan.
Karena manusia yang benar-benar mati bukanlah manusia yang berhenti
bernapas.
Melainkan manusia yang sudah kehilangan kemampuan untuk peduli.
Dunia modern sering membuat orang lelah berpikir. Informasi datang
seperti banjir. Masalah muncul bergantian. Akhirnya banyak orang memilih diam
demi bertahan hidup.
Dan diam yang terlalu lama kadang berubah menjadi kebiasaan.
Dari situlah lahir generasi yang melihat kerusakan sebagai hal
biasa. Sungai kotor dianggap lumrah. Udara sesak dianggap risiko kemajuan.
Kebohongan dianggap strategi. Ketidakadilan dianggap nasib.
Semua diterima perlahan sampai hati kehilangan daya kejutnya.
Padahal hati manusia seharusnya bukan gudang untuk menimbun
kepasrahan.
Ia diciptakan untuk mengenali mana yang baik dan mana yang rusak.
Maka di tengah dunia yang sibuk mengajarkan cara menyesuaikan diri,
mungkin menjaga kewarasan justru berarti menjaga nurani agar tidak ikut tumpul.
Sebab ketika manusia sudah tidak lagi terusik oleh kerusakan di
sekelilingnya, mungkin saat itulah yang hilang bukan cuma harapan.
Tetapi juga dirinya sendiri.
Cilangkap, 25 Mei 2026

Posting Komentar