Pisau yang Diam-Diam Mengarah ke Dalam Dada

 


Qurban dalam Perspektif Psikologi Agama

Oleh: Riswo Mulyadi

 

Setiap tahun, pada hari-hari qurban, halaman masjid berubah wajah. Tali-tali diikat. Takbir mengalun. Orang-orang berkumpul dengan wajah yang berbeda-beda: ada yang sibuk, ada yang khidmat, ada yang sekadar ingin menyaksikan. Di tengah suasana itu, sering muncul satu pertanyaan yang diam-diam penting: benarkah yang sedang dikorbankan hanyalah seekor hewan?


Islam mengajarkan bahwa qurban bukan perayaan darah. Ia juga bukan pertunjukan kemampuan ekonomi. Qurban adalah bahasa batin cara manusia belajar berbicara kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhan.


Ada sesuatu yang menarik bila qurban dibaca melalui perspektif psikologi agama.


Manusia, sejak dahulu, adalah makhluk yang gemar menggenggam. Kita mengumpulkan benda, mengumpulkan pengakuan, mengumpulkan rasa aman. Sedikit demi sedikit, apa yang kita miliki kadang berubah menjadi sesuatu yang memiliki kita.


Harta yang awalnya alat, berubah menjadi pusat kecemasan. Jabatan yang semula amanah, berubah menjadi cermin harga diri. Bahkan kadang, amal pun diam-diam ingin dipamerkan agar mendapat tepuk tangan.


Di titik inilah qurban hadir seperti sebuah pertanyaan yang lembut tetapi tajam:


Apa yang sesungguhnya paling sulit engkau lepaskan?

Dalam kisah Nabi Ibrahim, kita sering terpaku pada ujian yang tampak. Padahal yang sedang diuji bukan sekadar kemampuan kehilangan, melainkan kemampuan menempatkan cinta secara benar.


Ibrahim bukan diminta membenci dunia. Ia hanya diajak memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang boleh menempati ruang terdalam selain Allah.


Dan di situlah letak kehalusan spiritual qurban.

Yang diuji ternyata bukan tangan melainkan hati.


Karena sering kali yang paling sulit dikorbankan bukan kambing, bukan sapi, bukan uang. Yang paling sulit adalah ego: keinginan selalu dipuji, kebutuhan selalu dianggap penting, rasa ingin menguasai, dan ketakutan untuk kehilangan.


Psikologi agama menyebut bahwa manusia bertumbuh bukan hanya ketika memperoleh, tetapi juga ketika belajar melepaskan.


Anak kecil ingin memiliki. Jiwa yang matang mulai belajar berbagi.


Maka qurban sesungguhnya adalah latihan kedewasaan jiwa.


Kita diajak mengalami satu pengalaman yang paradoks: memberi, tetapi justru merasa lapang; melepaskan, tetapi tidak merasa berkurang.


Bukankah itu pengalaman yang aneh sekaligus indah?


Barangkali karena selama ini kita terlalu sering mengira bahwa kebahagiaan datang dari menambah. Padahal kadang ketenangan datang dari mengurangi.


Mengurangi gengsi.
Mengurangi rasa paling benar.
Mengurangi keinginan untuk dipuji.
Mengurangi kecemasan bahwa semua harus berada dalam kendali kita.


Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bukan daging dan darah yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan.


Kalimat itu seperti membuka rahasia besar qurban.


Tuhan tidak membutuhkan hewan.


Yang sedang dibentuk adalah manusia.


Daging dibagikan agar manusia belajar empati. Hewan disembelih agar manusia menyadari bahwa ada sisi liar dalam dirinya yang juga perlu ditundukkan.


Karena sesungguhnya setiap manusia memiliki “hewan batin”: kerakusan yang ingin terus makan, ego yang ingin terus menang, dan nafsu yang ingin selalu didahulukan.


Qurban menjadi semacam cermin tahunan.


Kita berdiri di depannya dan bertanya:


Sudahkah aku menjadi manusia yang lebih ringan memberi daripada meminta?
Sudahkah aku mampu mencintai tanpa harus memiliki?
Sudahkah aku beribadah tanpa diam-diam meminta tepuk tangan?


Mungkin itulah sebabnya qurban selalu terasa hangat meski berlangsung di pagi yang sederhana.


Sebab pada akhirnya, qurban bukan hanya peristiwa di halaman masjid.


Ia adalah pekerjaan sunyi di dalam dada.


Dan bisa jadi, qurban yang paling besar bukan saat kita membeli hewan termahal—melainkan ketika kita berhasil menyembelih satu hal yang selama ini diam-diam kita sembah selain Tuhan: ego kita sendiri.




Karang Anjog, 27 Mei 2026

 

 

Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama