Sintren: Tubuh, Mitos, dan Jejak Dunia yang Samar

 


Sintren: Tubuh, Mitos, dan Jejak Dunia yang Samar

Oleh: Riswo Mulyadi


Di dalam kebudayaan Jawa, tubuh tidak pernah sepenuhnya jasad. Ia sering dipahami sebagai lorong: tempat lalu-lalang ingatan, doa, bayang-bayang leluhur, juga rahasia kosmos yang tidak seluruhnya selesai diterangkan bahasa. Karena itu banyak kesenian tradisional Jawa lahir bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai cara masyarakat menjaga hubungan dengan dunia yang tak kasatmata. Di antara kesenian itu, sintren menempati ruang yang khas: ruang liminal, ruang antara.


Kita mengenalnya dari wilayah pesisir utara Jawa seperti Cirebon, Indramayu, hingga Pekalongan. Tetapi jejaknya juga hidup di beberapa wilayah Banyumas, terutama Gumelar. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa kebudayaan Jawa sejak lama bergerak melalui perlintasan batin dan geografis sekaligus. Laut dan pegunungan tidak sepenuhnya terpisah. Keduanya dihubungkan oleh nyanyian rakyat, jalur perdagangan, migrasi kesenian, dan ingatan kolektif masyarakat.


Sintren lahir dari dunia rakyat yang masih memandang alam sebagai sesuatu yang bernyawa. Dalam dunia seperti itu, angin, malam, hujan, pohon, bahkan kesunyian dipercaya memiliki dimensi simbolik. Maka pertunjukan sintren bukan sekadar tari trance sebagaimana sering dipahami secara dangkal hari ini. Ia sesungguhnya adalah dramatika spiritual masyarakat agraris dan pesisir dalam menghadapi misteri hidup.


Seorang gadis dimasukkan ke dalam kurungan.

Musik dimainkan perlahan.

Doa-doa dibisikkan.

Lalu tubuh itu berubah.


Di titik inilah sintren bergerak melampaui seni pertunjukan biasa. Tubuh penari menjadi medium perlintasan antara dunia empiris dan dunia imajinal. Dalam tradisi sufistik Islam, terutama sebagaimana pernah dibicarakan Ibnu Arabi, terdapat gagasan tentang alam mitsal: dunia antara yang mempertemukan realitas ruhani dan realitas inderawi. Sintren, dalam bentuknya yang paling purba, tampaknya bergerak di wilayah semacam itu.


Karena itu masyarakat tradisional tidak menonton sintren hanya dengan mata. Mereka menyaksikannya dengan lapisan kepercayaan yang lebih dalam. Ada rasa takzim, takut, kagum, sekaligus harapan. Sebab yang sedang berlangsung bukan hanya pertunjukan tubuh, melainkan pengalaman kolektif tentang kemungkinan hadirnya dunia lain di tengah kehidupan sehari-hari.


Ketika sintren tumbuh di Gumelar dan wilayah Banyumas lainnya, ia mengalami transformasi kultural yang menarik. Watak Banyumas yang agraris, egaliter, dan dekat dengan tradisi kebatinan membuat sintren di sana memiliki suasana berbeda dibanding sintren pesisir. Jika sintren pantura terasa seperti ombak yang bergerak ritmis dan terbuka, sintren Banyumasan lebih menyerupai kabut lereng gunung yang sunyi.


Di sana trance tidak selalu dipahami sebagai spektakel gaib, tetapi bagian dari laku batin rakyat desa. Masyarakat Banyumas sejak lama hidup dengan tradisi yang mempertautkan Islam, warisan Hindu-Buddha, dan kepercayaan lokal dalam satu ruang kebudayaan yang cair. Karena itu kesurupan dalam sintren tidak semata dimaknai sebagai gangguan, melainkan sebagai pengalaman simbolik yang terkait dengan keseimbangan kosmos.


Kesenian rakyat memang sering menjadi tempat paling jujur bagi sebuah masyarakat untuk memantulkan wajah batinnya.


Di dalam sintren kita menemukan bagaimana masyarakat Jawa memandang perempuan, tubuh, dan keindahan. Penari sintren bukan hanya penari. Ia adalah citra tentang feminitas yang disakralkan sekaligus dimisterikan. Tubuh perempuan dijadikan ruang hadirnya daya-daya simbolik masyarakat. Dalam pengertian ini, sintren menyimpan paradoks kebudayaan tradisional: perempuan dipuja sebagai lambang kesucian dan pesona, tetapi pada saat yang sama sering kehilangan subjektivitasnya sebagai manusia konkret.


Namun justru di dalam paradoks itulah kebudayaan bekerja.

Ia tidak pernah tunggal.

Ia selalu berlapis.


Hari ini sintren pelan-pelan bergerak menuju ambang kepunahan. Modernitas mengubah cara manusia memandang realitas. Dunia digital membuat manusia makin jauh dari pengalaman simbolik dan ritus kolektif. Banyak pertunjukan sintren kini dipadatkan menjadi sekadar tontonan festival. Unsur trance dihilangkan. Musik dipercepat. Ritual dipersingkat.


Kita hidup di zaman yang gemar mempertahankan bentuk, tetapi sering membiarkan ruh kebudayaan menguap diam-diam.


Padahal dalam tradisi seperti sintren tersimpan pengetahuan batin yang penting. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak hidup hanya dengan rasio. Ada wilayah samar dalam kehidupan yang justru membentuk kedalaman budaya manusia: mitos, simbol, doa, dan pengalaman transenden.


Mungkin karena itu sintren tetap bertahan di beberapa desa, meski hanya sebagai bara kecil.

Ia adalah ingatan.


Tentang manusia Jawa yang dahulu memandang dunia bukan sebagai benda mati, melainkan hamparan makna yang hidup. Tentang malam yang tidak sepenuhnya gelap. Tentang tubuh yang dapat menjadi lorong bagi rahasia kosmos.


Dan di tengah zaman yang semakin bising oleh teknologi, sintren diam-diam mengingatkan kita bahwa manusia sesungguhnya selalu membutuhkan yang gaib, agar hidup tidak berubah sepenuhnya menjadi mesin.


Karang Anjog,  15 Mei 2026







Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama