CILONGOK - Suasana religius bercampur haru menyelimuti SD Negeri 2 Cipete pada Senin, 18 Mei 2026, saat 13 siswa kelas 4 mengikuti kegiatan Tasyakur Khataman Nadhom Safinah. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikan karakter siswa, sekaligus penanda keberhasilan mereka menuntaskan pembelajaran dasar kitab Safinatun Naja melalui hafalan nadhom. Seluruh warga sekolah, mulai siswa kelas 1 hingga kelas 6, turut hadir menyaksikan prosesi yang berlangsung khidmat di lingkungan sekolah.
Acara tersebut bukan sekadar perayaan keberhasilan menghafal teks keagamaan, melainkan juga menjadi simbol kesungguhan sekolah dalam membangun pendidikan yang seimbang antara ilmu umum dan nilai spiritual. Dalam suasana sederhana namun sarat makna, para siswa menampilkan pembacaan nadhom secara bersama-sama, menunjukkan kemampuan mereka memahami dasar-dasar fiqih Islam yang telah dipelajari selama proses pembinaan. Tasyakur ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi kerja keras anak-anak yang selama berbulan-bulan berlatih dengan tekun.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk apresiasi atas kerja keras anak-anak kita dalam menuntut ilmu agama sejak dini. Semoga ilmu yang didapat menjadi pondasi akhlak yang kuat bagi mereka di masa depan,” ujar Bintari Pujiati dalam sambutannya.
Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi nuansa kebersamaan. Para siswa mengenakan busana yang rapi, sebagian didampingi orang tua, sementara guru dan tenaga kependidikan turut menata jalannya acara. Khataman Nadhom Safinah ini menjadi tradisi yang terus dijaga sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis keagamaan. Bagi sekolah, pembelajaran kitab dasar fiqih sejak usia sekolah dasar menjadi bekal penting agar anak-anak memiliki pemahaman ibadah yang benar sejak dini.
Dalam prosesi inti, satu per satu bait nadhom dibacakan dengan penuh percaya diri oleh para peserta. Meski masih duduk di bangku kelas 4, kemampuan mereka melafalkan dan mengingat bait-bait nadhom mendapat apresiasi dari seluruh hadirin. Tepuk tangan sesekali mengiringi pembacaan, namun suasana tetap terjaga khusyuk sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai keilmuan yang sedang dirayakan.
“Anak-anak menunjukkan kesungguhan yang luar biasa. Mereka tidak hanya hafal, tetapi juga mulai memahami makna dasar isi kitab yang dipelajari. Ini penting sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Miko Priatin.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Menurut pihak sekolah, para siswa menjalani pembinaan rutin di bawah pendampingan guru pembimbing. Setiap pekan, mereka menghafal bagian demi bagian nadhom, mempelajari maknanya, lalu diuji secara bertahap. Pendekatan ini dilakukan agar siswa tidak hanya mengingat secara verbal, tetapi juga memahami isi ajaran yang berkaitan dengan tata cara ibadah, bersuci, dan kehidupan sehari-hari sesuai tuntunan fiqih.
Tiga belas siswa yang dinyatakan khatam tahun ini adalah Adnan Pradipta Anafi, Akmal Fauzi, Anita Ulfa Azzahra, Asila Laila Nur Aini, Aqila Putri Ramadhani, Aura Bilqis Hijriyah, Gilang Abiya Zulfadli, Nesya Angela Putri, Muhammad Muazar, Zahra Fatun Nadya, Zahwa Adiba Felisa, Gibran Mualif, dan Daffa Fikri Lukman. Nama-nama tersebut dipanggil satu per satu sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian mereka, disambut tepuk tangan dari seluruh peserta yang hadir.
“Semoga ini menjadi motivasi bagi adik-adik kelas agar semakin semangat belajar ilmu agama. Apa yang dicapai hari ini adalah hasil kesungguhan dan ketelatenan,” kata salah satu guru saat sesi penyerahan apresiasi.
Bagi SDN 2 Cipete, kegiatan seperti ini menjadi bagian dari ikhtiar menanamkan nilai akhlak sejak dini. Di tengah tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks, sekolah berupaya menghadirkan ruang pembelajaran yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan spiritual. Melalui khataman, siswa belajar tentang kesabaran, disiplin, tanggung jawab, serta keberanian tampil di depan publik.
Kepala sekolah menilai bahwa pendidikan agama harus menjadi fondasi penting di sekolah dasar. Menurutnya, prestasi akademik akan lebih bermakna apabila dibarengi karakter yang baik. Karena itu, sekolah terus mendukung kegiatan-kegiatan yang membentuk kepribadian anak, termasuk pembelajaran kitab, doa bersama, dan pembiasaan ibadah harian.
“Kami ingin anak-anak tumbuh tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang baik, sopan santun, serta kecintaan terhadap ilmu agama,” tegas Bintari.
Momen tasyakur juga menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah bahwa proses pendidikan bukan hanya soal angka dan nilai rapor. Ada capaian lain yang tak kalah penting, yakni keberhasilan membangun kebiasaan baik, menanamkan akhlak, dan membentuk jiwa yang religius. Prosesi khataman menjadi simbol bahwa anak-anak mampu menapaki tahap pembelajaran yang lebih tinggi dengan bekal keimanan.
Suasana meriah tetap terasa saat seluruh peserta bersama-sama melantunkan bait-bait Nadhom Safinah. Wajah para siswa memancarkan kebanggaan, sementara guru-guru terlihat haru menyaksikan hasil pembinaan yang selama ini dijalankan. Bagi orang tua, kegiatan ini menjadi bukti bahwa sekolah turut menjadi mitra dalam mendidik anak-anak tidak hanya secara akademik, tetapi juga spiritual.
“Melihat anak-anak mampu khatam di usia sekolah dasar tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Ini akan menjadi kenangan yang sangat berarti bagi mereka,” ungkap salah satu wali siswa yang hadir.
Melalui kegiatan ini, SD Negeri 2 Cipete berharap tradisi pembelajaran keagamaan tetap terjaga dan terus berkembang. Tasyakur khataman bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi bagian dari perjalanan panjang membentuk generasi yang cerdas, santun, dan berlandaskan nilai agama. Sekolah percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh akhlak generasi penerusnya.
Di ruang sederhana sekolah desa itu, 13 anak berdiri membawa hafalan dan harapan. Dari bait-bait Nadhom Safinah yang mereka lantunkan, terselip doa para guru dan orang tua: agar langkah kecil hari ini menjadi awal perjalanan menuju pribadi yang berilmu, beriman, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Kontributor: Miko Priatin.
Posting Komentar