Telkom University Purwokerto Kenalkan DBD DEFENDER sebagai Edukasi Pencegahan Demam Berdarah bagi Anak





PURBALINGGA - Upaya meningkatkan kesadaran kesehatan sejak usia dini terus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif dan edukatif. Salah satunya dilakukan Telkom University Purwokerto yang mengenalkan DBD DEFENDER, sebuah media edukasi digital tentang pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), kepada anak-anak di Limbah Pustaka Desa Mutang, Purbalingga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan sekitar 35 anak yang didampingi orang tua dan guru.


Program ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan masyarakat, khususnya di kalangan anak-anak. Di tengah masih tingginya kasus demam berdarah di berbagai daerah, edukasi mengenai bahaya penyakit dan langkah pencegahannya dinilai sangat penting untuk ditanamkan sejak dini melalui metode yang mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak-anak.


“Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan agar mereka memiliki kesadaran untuk melindungi diri dan sekitarnya dari bahaya demam berdarah,” ujar salah satu tim pelaksana kegiatan dari Telkom University Purwokerto.


Program pengabdian masyarakat ini didanai oleh LPPM Universitas Telkom dan dipimpin oleh Aminatus Sa’adah bersama anggota tim Angga Kurniawan dan Gusnita Linda. Selain melibatkan dosen, kegiatan ini juga didukung oleh mahasiswa, yaitu Muhammad Nafal Fiqrian, M. Hanif Al Faiz, dan Elisa Kusumaningsih yang turut aktif mendampingi jalannya edukasi di lapangan.


Melalui media DBD DEFENDER, anak-anak diajak mengenal lebih dekat tentang penyakit demam berdarah, mulai dari penyebab penyakit, ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti, gejala yang harus diwaspadai, hingga langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Materi disampaikan secara interaktif menggunakan tampilan digital yang menarik sehingga anak-anak dapat belajar sambil bermain.


“Pendekatan digital seperti ini membuat anak-anak lebih mudah memahami materi. Mereka terlihat antusias karena belajar dilakukan dengan cara yang menyenangkan,” ungkap salah satu guru pendamping yang hadir dalam kegiatan tersebut.


Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat sejak awal hingga akhir. Anak-anak tampak aktif menjawab pertanyaan, memperhatikan tayangan materi, hingga ikut berdiskusi bersama para pemateri. Gelak tawa dan rasa penasaran terlihat menghiasi jalannya kegiatan, menciptakan suasana belajar yang hidup dan tidak membosankan.


Keterlibatan orang tua dan guru juga menjadi bagian penting dalam program ini. Mereka diharapkan dapat melanjutkan edukasi yang telah diberikan dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat di rumah maupun lingkungan sekolah. Kebiasaan sederhana seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan membuang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut.


“Kami berharap edukasi seperti ini tidak berhenti saat kegiatan selesai, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga dan lingkungan sekitar,” tutur salah satu anggota tim pengabdian masyarakat.


Ketua Limbah Pustaka Desa Mutang turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan edukasi tersebut. Menurutnya, pembelajaran tentang kesehatan perlu diberikan sejak dini agar anak-anak memiliki pemahaman dan kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Ia menilai metode yang digunakan dalam DBD DEFENDER sangat sesuai dengan karakter anak-anak sehingga pesan kesehatan lebih mudah diterima.


“Program ini sangat baik karena mampu mengajarkan pentingnya pencegahan demam berdarah melalui cara yang menarik dan dekat dengan dunia anak-anak,” ujarnya.


Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana edukasi yang efektif jika digunakan dengan tepat. Melalui pendekatan digital yang interaktif, pesan-pesan kesehatan tidak lagi terasa kaku, tetapi dapat disampaikan dengan lebih ringan dan menyenangkan bagi anak-anak.


Bagi Telkom University Purwokerto, program DBD DEFENDER bukan sekadar kegiatan pengabdian masyarakat biasa, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap kesehatan masyarakat melalui pendidikan yang aplikatif dan mudah diterapkan. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya hadir di ruang akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat di lapangan.


Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat pada anak-anak sejak dini. Kesadaran menjaga lingkungan menjadi langkah sederhana namun penting dalam memutus rantai penyebaran demam berdarah yang hingga kini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat.


Di tengah antusiasme anak-anak Desa Mutang yang belajar sambil bermain bersama DBD DEFENDER, tersimpan harapan besar bahwa generasi muda dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya. Dari ruang sederhana di Limbah Pustaka, semangat melawan demam berdarah pun mulai ditanamkan melalui edukasi yang hangat, kreatif, dan penuh makna.


Kobtributor: Dasril Aldo

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama