Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja: Guru yang Menolak Menjadi Mesin
Oleh: Riswo Mulyadi
Oleh sebab sejarah negeri ini terlalu sering ditulis oleh
orang-orang kota, kita kadang lupa bahwa Indonesia sesungguhnya masih disangga
oleh guru-guru kecil di kecamatan, oleh orang-orang yang mengajar di ruang
kelas bocor, oleh manusia yang hidupnya nyaris tak pernah masuk berita.
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja datang dari dunia itu.
Ia bukan pejabat pendidikan. Bukan pula intelektual yang lahir dari
ruang seminar berpendingin udara. Ia seorang guru. Dan seperti kebanyakan guru
di negeri ini, pekerjaannya lebih banyak memikul sunyi daripada penghormatan.
Tetapi justru dari kesunyian itulah ia menulis.
Tulisan-tulisan Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja memperlihatkan satu
kegelisahan besar: pendidikan Indonesia perlahan kehilangan manusianya. Sekolah
terlalu sibuk mengejar kelulusan, tetapi lupa bertanya apakah anak-anak masih
memiliki keberanian untuk jujur. Guru dipaksa menjadi petugas administrasi.
Murid dibentuk menjadi angka statistik. Dan manusia, sedikit demi sedikit,
diperas menjadi data.
Ia melihat semua itu dari dekat.
Dari bangku kelas.
Dari wajah anak-anak yang datang membawa kelelahan rumah tangga.
Dari orang tua yang menyerahkan seluruh beban pendidikan kepada
sekolah, sementara sekolah sendiri sudah megap-megap memikul perintah-perintah
birokrasi.
Membaca tulisan Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja, kita seperti sedang
mendengar suara seorang guru yang masih berusaha mempertahankan harga dirinya
di tengah dunia yang ingin mengubahnya menjadi mesin.
Dan itu penting.
Sebab bangsa yang membiarkan gurunya kehilangan martabat,
sesungguhnya sedang menggali kuburannya sendiri.
Dalam banyak tulisannya, Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja tidak
berbicara dengan bahasa akademik yang rumit. Ia memilih bahasa sehari-hari.
Kadang lirih. Kadang tajam. Tetapi justru karena itu tulisannya terasa hidup.
Ia tidak menulis untuk memamerkan teori. Ia menulis karena ada sesuatu yang
mengganjal dalam batinnya.
Tentang anak-anak yang makin jauh dari tata krama.
Tentang pendidikan yang terlalu mudah menyerah pada algoritma.
Tentang manusia yang makin pandai menggunakan teknologi, tetapi
makin sulit memahami sesama manusia.
Sebagai guru IPA, ia menarik. Sebab ia tidak memisahkan ilmu
pengetahuan dari kehidupan. Dalam pandangannya, sains bukan sekadar rumus dan
laboratorium. Sains harus membantu manusia menjadi lebih sadar terhadap semesta
dan dirinya sendiri.
Di sana tampak satu hal yang mulai langka di Indonesia hari ini:
pendidikan yang memiliki jiwa.
Kita hidup dalam masyarakat yang gemar membicarakan perubahan,
tetapi malas memperbaiki dasar-dasar kemanusiaan. Orang bicara revolusi
digital, kecerdasan buatan, modernisasi sekolah. Tetapi anak-anak tetap pulang
ke rumah dengan kesepian yang sama.
Dan guru seperti Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja melihat luka itu.
Ia tidak menulis sebagai pengamat dari menara. Ia menulis sebagai
orang yang ikut terluka.
Karena itu, tulisan-tulisannya terasa jujur.
Kejujuran adalah barang mahal di negeri yang terlalu banyak
sandiwara.
Barangkali nama Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja belum dikenal luas
dalam sastra Indonesia. Tetapi sejarah sering bergerak secara diam-diam. Banyak
suara penting lahir bukan dari pusat kekuasaan, melainkan dari pinggir. Dari
sekolah kecil. Dari meja guru yang catnya mulai mengelupas. Dari orang-orang
yang tetap berpikir meski dunia meminta mereka diam.
Dan mungkin, di tengah kerusakan moral yang semakin biasa dianggap
wajar, negeri ini memang lebih membutuhkan guru yang mau berpikir daripada
pejabat yang pandai berpidato.
Karang Anjog, Maret 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, Guru Madrasah ndesa yang gemar membaca dan menulis.
Posting Komentar