Bangsa Ramah yang Sedang Kehilangan Cermin

 


 Menyambung Catatan Riswo Mulyadi tentang Wajah Ganda Kita

(https://www.infobanyumas.com/2026/06/wajah-ganda-kita-santun-saat-bertemu.html)

 Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Riswo Mulyadi dalam catatannya dari Gigir Bukit Sinawing mengajukan kegelisahan yang layak direnungkan bersama: Mengapa bangsa yang dikenal santun ketika bertemu muka, tiba-tiba berubah garang ketika bertemu layar? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sedang menyentuh urat saraf kebudayaan kita.

 

Kalau dikaitkan lebih dalam, media sosial bukanlah penyebab utama berubahnya manusia Indonesia. Ia hanyalah cermin yang memperbesar sisi-sisi batin yang selama ini tersembunyi. Yang sedang kita lihat hari ini bukan sekadar perilaku netizen yang berubah, melainkan wajah asli masyarakat yang selama puluhan tahun tertutup rapat oleh tata krama dan norma sosial.

 

Sejak kecil kita memang diajari hal-hal yang mulia: menghormati orang tua, menjaga perasaan tetangga, tidak membuat keributan, dan menekan konflik. Itu baik, sangat baik. Namun dalam praktiknya, pendidikan sosial kita sering kali lebih menekankan kepatuhan daripada kejujuran. Anak lebih sering diajari diam daripada mengemukakan alasan, lebih sering disuruh manut daripada berdialog, lebih sering diminta menyesuaikan diri daripada berpikir mandiri.

 

Maka lahirlah generasi yang pandai menjaga ketertiban, tetapi belum tentu terampil mengelola perbedaan. Akibatnya, banyak emosi, kekecewaan, dan ketidakpuasan yang tidak pernah selesai diproses, ia hanya disimpan, ditumpuk, dipelihara diam-diam seperti sampah yang terus dimasukkan ke dalam gudang tanpa pernah dibersihkan. Lalu datanglah internet dan media sosial, dan tiba-tiba gudang itu terbuka lebar. Kita kaget melihat isinya, seolah-olah keburukan itu baru muncul, padahal sudah ada sejak lama.

 

Dalam tulisannya, Riswo menyebut budaya ewuh pakewuh, rasa malu, dan kecenderungan mengikuti kelompok sebagai salah satu akar masalah. Pengamatan itu tidak keliru, tetapi mungkin persoalannya lebih dalam lagi. Kita hidup di tengah paradoks kebudayaan: di satu sisi kita bangga menyebut diri masyarakat kolektif yang saling peduli, di sisi lain kita semakin kehilangan ruang percakapan yang sehat. Kita berkumpul lebih sering, tetapi semakin jarang benar-benar mendengar. Kita terhubung dengan ribuan orang, tetapi semakin sulit memahami mereka yang berbeda pendapat. Yang tumbuh bukan kedewasaan sosial, melainkan mentalitas kerumunan—dan kerumunan hampir selalu lebih emosional daripada individu.

 

Keadaan menjadi semakin rumit karena media sosial ternyata tidak netral. Ia bukan balai desa, bukan pendopo, bukan ruang musyawarah yang didasari kesepakatan bersama. Ia adalah mesin bisnis raksasa yang hidup dari perhatian manusia. Semakin marah kita, semakin lama kita menatap layar; semakin lama kita menatap layar, semakin besar keuntungan yang dihasilkan. Kemarahan pun menjadi barang dagangan paling laku abad ini. Kita mengira sedang berdebat mempertahankan kebenaran, padahal sering kali hanya menjadi bahan bakar algoritma yang bekerja untuk keuntungan pemilik platform.

 

Di sinilah gagasan Riswo menjadi semakin relevan: bukan karena netizen Indonesia paling buruk, melainkan karena sifat-sifat yang selama ini tersembunyi akhirnya menemukan panggung yang sempurna untuk tampil. Ada ironi yang mencolok: kita sering bangga disebut bangsa religius—masjid penuh, pengajian ramai, ceramah bertebaran, kutipan bijak membanjiri status media sosial—tetapi di saat yang sama ruang digital kita dipenuhi fitnah, caci maki, dan penghakiman massal. Seolah-olah ajaran agama berhenti di jempol yang menekan tombol "suka", tetapi tidak sampai ke jempol yang menulis komentar. Padahal hampir semua keyakinan mengajarkan hal yang sama: mengendalikan diri, bukan mengendalikan orang lain.

 

Maka sesungguhnya persoalan yang diingatkan Riswo bukanlah soal media sosial itu sendiri. Ia hanyalah gejala. Yang lebih mendasar adalah kemampuan manusia mengelola dirinya sendiri. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kedewasaan batin berjalan jauh lebih lambat. Tangan kita sudah memegang telepon pintar, namun pikiran kita masih sering dikuasai amarah, gengsi, fanatisme buta, dan keinginan semata-mata menjadi bagian dari kerumunan. Kita hidup di zaman ketika kecerdasan buatan berkembang pesat, tetapi banyak manusia justru semakin malas menggunakan kecerdasan alaminya.

 

Karena itu, solusi yang diperlukan bukan sekadar literasi digital agar bisa membedakan berita benar dan salah. Yang jauh lebih penting adalah literasi diri: belajar mengenali emosi sebelum menuliskannya, memahami sebelum bereaksi, memeriksa fakta sebelum menyebarkannya, dan berani tidak ikut ramai hanya karena semua orang sedang ramai.

 

Ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak terletak pada jumlah pengikut media sosialnya, tidak pula pada kecepatan internetnya, melainkan pada kemampuan warganya untuk tetap beradab ketika dunia sedang kehilangan kewarasan. Dan mungkin itulah inti kegelisahan yang ditulis Riswo Mulyadi dari gigit Bukit Sinawing: tantangan terbesar bangsa ini bukanlah kekurangan teknologi atau informasi, melainkan kekurangan kemampuan untuk memimpin pikiran sendiri.

 

Di zaman ketika semua orang bebas berbicara, kebijaksanaan justru dimulai dari mengetahui kapan harus diam, kapan harus berpikir, dan kapan harus menolak ikut menjadi bagian dari kerumunan yang melempari seseorang dengan batu digital. Sebab bangsa yang benar-benar santun bukanlah bangsa yang hanya ramah saat bertemu muka, melainkan bangsa yang tetap beradab bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat wajahnya.

 

Ajibarang, 10 Juni 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama