Catatan dari Gigir Bukit Sinawing
Oleh: Riswo Mulyadi
Ada sejenis keheningan yang purba yang mendadak runtuh di
ruang-ruang kelas ketika pertengahan Juni tiba. Angin kemarau yang mulai
mengetuk jendela kaca seperti membawa kabar tentang sebuah akhir, sekaligus
sebuah mula yang masih samar. Di luar, riuh rendah anak-anak yang berlarian di
halaman perlahan melambat, sementara di dalam, papan tulis berdiri tegak dalam
kepasrahan—bersih dari coretan rumus, seolah baru saja membasuh diri dari air
mata kecemasan dan peluh harapan yang tumpah selama satu tahun ajaran.
Menjelang kenaikan kelas, sekolah bukan lagi sekadar bangunan bata
dan semen, melainkan sebuah halte eksistensial. Ia menjadi ruang antara; sebuah
ambang pintu tempat masa lalu yang telah menjadi angka-angka di dalam rapor
bersentuhan dengan masa depan yang masih berupa teka-teki.
Kita acap kali terjebak pada ritus angka. Modernitas yang
digerakkan oleh syahwat kuantifikasi cenderung menyempitkan arti "naik
kelas" sebatas perpindahan fisik dari satu lantai ke lantai yang lebih
tinggi, atau pergantian logo angka pada lengan seragam. Kita mengukur
pertumbuhan manusia seperti para tengkulak menimbang komoditas: dengan
angka-angka dingin yang mengilap di atas kertas laporan.
Namun, jika kita mau merunduk sedikit lebih dalam, mengais
remah-remah makna yang terserak di bawah kolong bangku, kita akan menemukan
bahwa esensi dari kenaikan kelas adalah sebuah pengembaraan spiritual yang
sunyi.
- Apakah
waktu yang luruh sepanjang tahun telah menumbuhkan sepasang sayap kearifan
di pundak mereka?
- Apakah
hati anak-anak itu kian peka mengeja kesunyian temannya yang merana di
pojok kelas?
- Ataukah
kita sedang mementaskan ironi: menaikkan tingkat intelektual mereka,
seraya membiarkan emosinya menetap di kelas bawah?
Kurikulum bisa diganti, nilai yang jeblok bisa ditambal dengan
remedial yang mekanis. Namun, jiwa yang telanjur garing dari mata air empati
adalah sebuah kehilangan yang tak akan pernah bisa ditebus oleh selembar ijazah
dengan stempel kebesaran mana pun.
Bagi seorang guru si penjaga gawang peradaban di ruang-ruang
sunyi hari-hari menjelang kenaikan kelas adalah masa-masa penuh dialektika
batin. Di hadapan tumpukan buku rapor yang menanti bubuhan tanda tangan, guru
sesungguhnya tidak sedang menilai murid; ia sedang mengadili dirinya sendiri di
depan cermin retak masa lalu.
Setiap nama yang tertera di lembar kertas itu bukan sekadar deretan
huruf mati. Mereka adalah jiwa-jiwa hidup, "malaikat-malaikat kecil"
yang setahun lalu datang membawa kepolosan yang rapuh. Ada wajah si penakut
yang kini berani menatap ufuk dengan kepala tegak; ada pula si pemberontak
kecil yang sebenarnya hanya sedang merindukan pelukan hangat yang absen di
rumahnya.
Mengantarkan mereka naik kelas adalah sebuah seni melepaskan yang
paling getir dalam hidup seorang pendidik. Guru, pada hakikatnya, hanyalah
jembatan tua yang pasrah. Kita berdiri di sini, membiarkan kaki-kaki mungil itu
menginjak punggung kita untuk menyeberang menuju masa depan yang mungkin tak
akan pernah sempat kita saksikan. Kita merawat sayap-sayap mereka, justru agar
mereka mampu terbang menjauh dan meninggalkan kita dalam kesendirian yang
tulus.
Menjelang kenaikan kelas adalah waktu bagi semesta pendidikan untuk
merawat jeda, untuk melakukan asketisme spiritual. Ia mengajak orang tua, guru,
dan pembuat kebijakan untuk bertanya kembali pada nurani: untuk apa sebenarnya
kita mengajari anak-anak ini membaca, jika pada akhirnya mereka gagal membaca
penderitaan sesamanya?
Mari kita pungut kembali serpihan hikmah yang tertinggal di
sudut-sudut kelas yang mulai berdebu. Selamat merayakan transisi yang sakral
ini. Mari kita rapikan kembali niat yang sempat kusut oleh rutinitas, memaafkan
segala khilaf yang sempat menggores hati, dan bersiap menyongsong fajar baru
dengan jiwa yang jauh lebih kaya.
Cilangkap, 18 Juni 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
Posting Komentar