Kurikulum Ganti, Dompet Mati
Catatan Akhir Tahun Pelajaran 2025/2026: Labirin Baru
Pendidikan Kita
Ada pemandangan tidak biasa pada akhir Tahun Pelajaran
2025/2026. Jalanan kota kini lebih senyap dari knalpot brong. Seragam
putih-abu-abu tidak lagi dikorbankan menjadi kanvas corat-coret piloks yang
berakhir di tempat sampah. Perayaan kelulusan bergeser menjadi lebih sunyi,
tampak dewasa, atau mungkin—jangan-jangan—para siswa hanya sedang terlalu lelah
untuk sekadar bersorak.Inikah wajah baru pendidikan kita? Sebuah ketenangan
yang lahir setelah ditiadakannya "dewa penentu nasib" bernama Ujian
Nasional (UN).Selama puluhan tahun, UN sukses menjadi festival kecemasan
massal. Guru tegang, murid depresi, dan orang tua sibuk mencari bocoran kunci
jawaban demi target kelulusan seratus persen. Kejujuran dikorbankan di atas
altar statistik angka.
Lalu, era Merdeka Belajar datang menghapus UN, menggantinya
dengan Asesmen Nasional (ANBK), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
Secara konseptual, kebijakan ini terdengar sangat heroik. Katanya, sekolah
bukan lagi pabrik nilai, melainkan ruang tumbuh literasi. Namun di lapangan,
ANBK kerap hanya menjadi ritual pengisian data komputer tahunan. Banyak sekolah
gagap membaca hasilnya. Alih-alih memperbaiki mutu pembelajaran, rapor
pendidikan sekadar menjadi pajangan administrasi untuk menyenangkan dinas
terkait.
Belum selesai sekolah beradaptasi dengan ANBK, nakhoda
kementerian berganti. Kini, di era Menteri Abdul Mu'ti, kita disuguhi menu
baru: Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Tes Kemampuan Akademik Daerah
(TKAD).Kebijakan ini diklaim sebagai jembatan emas untuk mengukur capaian
akademik tanpa membuat siswa stres. Namun bagi mereka yang waras, ini terlihat
seperti gejala akut birokrasi kita: hobi gonta-ganti eksperimen.
Kita adalah bangsa yang memiliki bakat luar biasa dalam
mendaur ulang program lama dengan kemasan baru. Nama boleh berganti, logo boleh
diperbarui, dan aplikasi wajib diunduh hingga memori ponsel penuh.
Tetapi jika ruang kelas tetap menjadi panggung ceramah satu
arah yang membosankan, budaya baca sedalam kuburan, dan kemampuan berpikir
kritis dihukum sebagai pembangkangan, maka "transformasi pendidikan"
ini tak lebih dari sekadar tumpukan kertas surat edaran.
Sialnya, kerumitan di dalam kelas kini berkelindan dengan
proyek ambisius di luar kelas: Program Makan Bergizi Gratis (MBG).Secara moral,
menolak program ini tentu tabu. Siapa yang tega melihat anak-anak belajar
dengan perut keroncongan? Anak yang kenyang jelas lebih siap berpikir daripada
anak yang menahan lapar sejak pagi. Namun, ketika utopia politik ini menabrak
kenyataan lapangan, coreng-morengnya langsung terlihat.
Di berbagai daerah, cerita tentang distribusi yang
karut-marut, kualitas makanan yang ala kadar, dapur umum yang belum siap,
hingga aroma tak sedap korupsi anggaran skala lokal mulai bermunculan.
Proyek yang diklaim sebagai investasi emas masa depan ini
sering kali kedodoran urusan teknis dasar.MBG seolah-olah menjadi kompensasi
instan, sementara akar masalah pendidikan yang sesungguhnya dibiarkan
telanjang. Kita sibuk mengurusi isi piring, tetapi abai pada isi kepala.
Pendidikan telanjur dipaksa kawin silang dengan politik
perut, melahirkan ironi baru di tengah masyarakat yang sedang megap-megap
bertahan hidup.Lihat saja kalender di dinding. Tahun ajaran baru 2026/2027
sudah mengintip. Brosur sekolah swasta mulai disebar dengan deretan angka
investasi yang bikin merinding. Grup WhatsApp paguyuban orang tua mulai bising
memetakan pengeluaran.
Baju seragam baru harus ditebus. Tas, sepatu, buku paket,
hingga iuran "sukarela" yang dipatok secara sepihak mulai menagih
haknya. Belum lagi urusan uang transportasi, pulsa, dan kuota internet yang
sudah setara dengan kebutuhan pokok.
Di titik ini, dompet para orang tua tidak lagi menghela
napas panjang, melainkan sedang sekarat.
Pendidikan kita katanya gratis, tetapi "aksesori"
di sekelilingnya tetap berbayar mahal.Sialnya, siklus tahunan ini selalu datang
berbarengan dengan meroketnya harga bahan pokok. Beras mahal, minyak goreng
bergejolak, tarif transportasi menyesuaikan ego pasar, dan Pertamax kembali
naik kelas dalam hal harga. Ironi ini semakin menganga saat layar gawai
menampilkan parade berita korupsi yang angkanya di luar nalar sehat.
Sementara seorang bapak harus memutar otak mencari utangan
demi membelikan anaknya sepasang sepatu sekolah seharga seratus ribu, di tempat
lain pejabat negara dengan santainya menggarong uang rakyat hingga triliunan
rupiah. Ini bukan lagi perbandingan yang timpang, ini adalah lelucon satir
terbaik yang ditulis langsung oleh kenyataan hidup di republik ini.
Di tengah karut-marut antara ambisi menteri, proyek makanan,
dan jeritan dompet orang tua, ada satu aktor yang selalu dijadikan tumbal
moral: para guru.
Setiap tanggal dua Mei, mereka dihujani pujian lewat
pidato-pidato berapi-api. Mereka dijuluki pahlawan, garda terdepan, dan penentu
masa depan bangsa. Jika karakter anak zaman sekarang rusak, guru disalahkan.
Jika skor PISA anjlok, guru dituntut berbenah. Jika ada aplikasi baru dari
kementerian, guru dipaksa melek teknologi dalam semalam.Tetapi begitu bicara
tentang kesejahteraan, suara pemerintah mendadak lirih dan penuh prasyarat.
Sertifikasi dipersulit, administrasi berlapis-lapis, dan
bagi sebagian besar guru honorer di daerah, gaji layak masih menjadi fiksi yang
tak kunjung nyata. Kita bermimpi memiliki sistem pendidikan sekelas Finlandia
atau Jepang, tetapi memperlakukan gurunya dengan upah yang membuat mereka harus
menyambi menjadi pengemudi ojek online atau terjebak pinjaman online demi
menyambung hidup. Sungguh sebuah standar ganda yang menjijikkan.
Oleh karena itu, saat angka kelulusan tahun ini diumumkan
hampir mencapai seratus persen, berhentilah bertepuk tangan terlalu meriah.
Mari kita tanyakan dengan jujur: Apakah anak-anak kita benar-benar makin
cerdas, atau hanya makin mahir mengisi lembar jawaban format baru? Apakah
guru-guru kita sudah merdeka secara finansial, atau masih terpasung utang?
Apakah beban orang tua makin ringan, atau justru makin babak belur?
Jika yang berubah setiap tahun hanya akronim kebijakan,
warna sampul modul, dan versi aplikasi simdik, maka sesungguhnya kita tidak
sedang bergerak maju. Kita hanya sedang berjalan di tempat di atas mesin
treadmill birokrasi.
Akhir tahun pelajaran bukan sekadar ritual penutupan buku
administrasi sekolah. Ini adalah momen interogasi diri bagi sebuah bangsa. Masa
depan Indonesia dua puluh tahun lagi sedang duduk di bangku-bangku kelas hari
ini sebagian mengantre jatah makan gratis, sebagian membawa buku baru hasil
keringat darah orang tuanya, dan sebagian lagi menatap papan tulis di depan
guru yang mengajar dengan sisa-sisa keikhlasan karena gajinya tak cukup untuk
membayar kontrakan.
Mereka semua berhak mendapatkan sistem pendidikan yang jauh
lebih jujur dan waras daripada komedi birokrasi yang kita pertontonkan hari
ini.
Ajibarang, Juni 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar