Menanam Akar di Tanah Lumbir: Catatan Kebudayaan dari Pelepasan Angkatan ke-41 SMP Negeri 1 Lumbir



Oleh: Riswo Mulyadi

Jika Anda berjalan ke arah barat daya Banyumas, menembus jalanan yang membelah perbukitan dan rumpun-rumpun bambu yang meliuk ditiup angin, Anda akan sampai di Lumbir. Sebuah wilayah yang secara geografis mungkin terasa seperti tepian, namun secara kultural justru menjadi salah satu benteng pertahanan paling kukuh bagi sukma Banyumasan. Di tanah yang egaliter inilah, pada hari ini, Selasa, 2 Juni 2026, sebuah peristiwa budaya yang bersahaja namun mendalam tengah berlangsung di SMP Negeri 1 Lumbir.


Hari ini bukan sekadar hari perpisahan bagi anak-anak berseragam putih-biru Angkatan ke-41. Di bawah tatapan teduh Kepala Sekolah, Bapak Sutomo, S.Pd., M.Pd., acara pelepasan bertajuk "Melangkah dengan Ilmu, Mengukir Prestasi, Meraih Cita-cita" ini mewujud menjadi sebuah ritus peralihan (rite of passage) yang kental dengan wewangian tradisi. Sekolah ini menolak larut dalam perpisahan gaya modern yang gersang dari nilai lokal. Mereka justru memilih pulang ke rumah kebudayaan mereka sendiri.


Ebeg, Sendratari, dan Jiwa yang Tetap Membumi

Keriuhan pagi itu pecah bukan oleh dentum musik elektronik, melainkan oleh harmoni gerak yang lahir dari rahim tanah Jawa. Pertunjukan Sendratari Ramayana yang dibawakan oleh para siswa menjadi perlambang bahwa kisah-kisah adiluhung masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dan mengalir dalam darah generasi Z Lumbir, mengajarkan mereka tentang kesetiaan, darma, dan kepahlawanan.


Lalu, ada pula Semaphore Dance yang dinamis. Sebuah perpaduan apik antara ketangkasan kepanduan yang universal dengan kelenturan estetika tari. Ini seolah merefleksikan sosok anak-anak Lumbir: mereka siap menerima modernitas, terampil, namun tubuh mereka tetap bergerak dalam ritme kebersamaan yang santun.


Namun, daya hidup kebudayaan Banyumasan sesungguhnya memuncak ketika lapangan sekolah itu dipenuhi oleh entakan kaki dalam Kolaborasi Ebeg Edukasi. Ebeg atau kuda lumping, bagi masyarakat Banyumas, bukan sekadar tontonan rekreasi. Ia adalah simbol daya hidup (vitalitas) rakyat kecil—yang lincah, tangguh, dan tak mudah menyerah oleh keadaan. Menambahkan kata "Edukasi" di belakangnya adalah sebuah ikhtiar kultural yang cerdas. Ini adalah pembuktian bahwa kesenian rakyat bisa diselaraskan dengan nilai-nilai budi pekerti dan pembentukan karakter di bangku sekolah.


Ketika "Ngapak" Menemukan Singgasananya

Momen paling menggetarkan dalam tinjauan budaya hari ini adalah hadirnya Wanto Tirta, sang Presiden Geguritan Banyumas. Ketika beliau mulai melantunkan bait-bait geguritan, udara Lumbir seperti dipenuhi oleh roh leluhur yang intim. Bahasa Jawa Banyumasan yang sering kali dianggap kasar atau lucu oleh orang luar—di tangan Wanto Tirta menjelma menjadi untaian sastra yang sangat berwibawa, penuh pitutur luhur, namun tetap renyah dan blakasuta (apa adanya).


Kolaborasi antara gerak magis Ebeg Edukasi dan kedalaman makna Geguritan Wanto Tirta menjadi sebuah khotbah kebudayaan yang hidup. Anak-anak yang hari ini dilepas diingatkan dengan sangat keras namun lembut: Aja pisan-pisan kowe isin dadi wong Banyumas. (Jangan sekali-kali kamu malu menjadi orang Banyumas). Ilmu yang mereka kejar setinggi langit harus tetap dipijakkan pada bumi tempat mereka dilahirkan.


Membawa Sangu Kebudayaan

Melihat apa yang disajikan di SMP Negeri 1 Lumbir hari ini, kita seperti melihat sebuah oase di tengah gempuran zaman digital yang cenderung mencerabut identitas anak-anak muda dari tanah airnya. Sekolah ini telah berhasil menjalankan fungsinya tidak hanya sebagai pabrik nilai akademis, tetapi sebagai "rahim" yang melahirkan manusia-manusia Banyumas yang utuh.


Anak-anak Angkatan ke-41 melangkah keluar dari gerbang sekolah tidak dengan tangan kosong. Di dalam tas mereka, selain selembar ijazah, ada gemuruh tabuhan Ebeg, ada keanggunan Ramayana, dan ada petuah Geguritan yang luhur. Merantau atau bersekolah sejauh apa pun mereka nanti, anak-anak ini telah memiliki "sangu" budaya yang cukup untuk menjaga mereka agar tetap eling dan waspada.


Selamat melangkah, anak-anak Lumbir. Ukirlah prestasimu di langit, tapi biarkan akarmu tetap menghujam dalam di tanah Banyumas.


 

Kang RM, Juni 2026


 

Tentang Penulis:

Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama