MENEROPONG "PARA PAMAN" DENGAN TEROPONG SAINS DAN NURANI

 


Catatan dari Gigir Bukit Sinawing
Oleh: Riswo Mulyadi

Ada kalanya sebuah tulisan bertema ringan justru membawa beban perenungan yang sangat berat. Itulah yang saya rasakan ketika membaca esai “Negara Para Paman” karya Mas Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja. Sebagai seorang guru IPA di Banyumas yang terbiasa bergulat dengan logika sains namun memiliki kepekaan rasa, Mas Trisnatun berhasil membedah anatomi masyarakat digital kita hari ini bukan dengan pisau bedah yang kaku, melainkan dengan untaian kalimat satir yang penuh gizi spiritual.


Ia membuka catatannya dengan sebuah paradoks menarik tentang hari Minggu pagi. Hari yang lazimnya penuh ketenangan, justru disebutnya sebagai waktu yang paling berbahaya. Mengapa? Karena hukum alam batin manusia menyatakan: ketika aktivitas fisik melambat dan waktu luang melimpah, mesin berpikir kita akan bekerja dua kali lebih keras.


Celakanya, bahan bakar berpikir manusia modern hari ini bukan lagi buku atau pengamatan alam, melainkan algoritma telepon genggam. Maka yang terjadi di Minggu pagi bukanlah kedamaian batin, melainkan turbulensi emosi: semenit marah oleh berita pertama, semenit kemudian heran oleh berita kedua, lalu tertawa oleh berita ketiga, hingga akhirnya bingung pada berita keempat. Ruang digital telah mengubah realitas kehidupan menjadi panggung ketoprak humor yang absurd.


Dari fenomena inilah Mas Trisnatun mendiagnosis sebuah penyakit sosiologis baru. Negeri kita ini, secara de facto, seperti telah bergeser dari negara republik menjadi "Negara Para Paman". Sebuah ekosistem yang sesak oleh karakter-karakter artifisial yang gemar mendikte kehidupan.


Eksplorasi Karakrologi "Para Paman"

Dengan menggunakan pendekatan narasi yang humanistik, penulis memetakan beberapa prototipe "Paman" yang jamak kita temui dalam struktur sosial kita:


  • Paman Sam & Paman Gober: Simbol dari kekuatan makro (geopolitik dan kapitalisme global) yang menggunakan dominasi serta uang untuk satu tujuan: membeli pengaruh dan mengatur masa depan orang-orang kecil yang tak berdaya.
  • Paman Patih: Ini adalah personifikasi ego kekuasaan yang feodal. Karakter yang merasa berhak menentukan siapa yang boleh tampil di panggung sejarah dan siapa yang harus dikutuk menjadi figuran. Penulis mengingatkan sebuah hukum sejarah: kekuasaan yang terlalu lama mengatur akan melahirkan delusi bahwa matahari pun terbit atas izinnya.
  • Paman Pangon & Paman Eman: Paman Pangon adalah bahaya laten penyeragaman cara berpikir. Ketika semua manusia dipaksa berotak seragam seperti kawanan domba, maka sejatinya tidak ada lagi yang berpikir kritis. Sementara Paman Eman adalah personifikasi dari empati artifisial kepedulian palsu yang durasinya hanya sepanjang lampu kamera menyala.
  • Paman Galak: Mewakili kelompok bervolume suara tinggi yang mengira ego dan bentakan adalah validasi dari sebuah kebenaran.

Namun, episentrum dari kritik Mas Trisnatun sebenarnya tertuju pada Paman Ndasmu. Inilah mahluk mutan paling sukses di era internet. Manusia yang mengalami over-confidence akut, yang dalam hitungan jam bisa bermutasi dari ahli ekonomi, pakar hukum, pengamat geopolitik, hingga ahli agama. Modalnya sangat ekonomis: tidak perlu membaca buku, cukup membaca judul berita utama dan sekilas kolom komentar di media sosial.


Kontras yang dihadirkan penulis sangat tajam: jika filsuf Socrates mengedepankan asas skeptisisme yang bijak ("Aku tahu bahwa aku tidak tahu"), maka Paman Ndasmu mengidap sindrom sebaliknya ("Aku tidak tahu bahwa aku tidak tahu"). Ironisnya, dalam ekosistem digital kita, manusia jenis inilah yang justru panen pengikut, disokong oleh barisan relawan kurir hoaks yang menyebarkan kebodohan secara sukarela antar-grup obrolan tanpa memungut ongkos kirim.


Resonansi ke Dalam Ruang Batin

Sebagai seorang pendidik yang percaya bahwa belajar adalah tentang energi yang menghubungkan hati, Mas Trisnatun tidak membiarkan esai ini berhenti sebagai kritik sosial yang sinis. Di paruh kedua tulisan, ia melakukan manuver reflektif yang sangat cerdas. Ia menarik semua karakter "Para Paman" itu ke dalam diri kita sendiri.


Ia mengingatkan bahwa polusi terbesar hari ini bukan berada di atmosfer, melainkan di dalam ruang batin kita.


  • Ketika kita memelihara rasa sirik, Paman Gober sedang berkuasa di hati kita.
  • Ketika kita merasa paling benar sendiri, Paman Galak sedang menyetir emosi kita.
  • Ketika kita sok tahu mengomentari segala hal yang berada di luar kapasitas keilmuan kita, di situlah Paman Ndasmu sedang berceramah di kepala kita.


Secara tidak langsung, penulis sedang mengajak kita melakukan studi komparatif antara peradaban masa lalu dan masa kini. Dulu, manusia menempuh laku tirakat dan membaca serat-serat penuh makna demi setitik kebijaksanaan. Hari ini, manusia modern merasa telah mencapai puncak makrifat kehidupan hanya dari sebuah video pendek berdurasi 30 detik yang ditonton sambil rebahan. Ini adalah kemajuan teknologi yang sayangnya tidak dibarengi oleh kematangan akal dan evolusi budi pekerti.


Solusi Organik: Meneladani Kesunyian Alam

Bagian penutup esai ini adalah sebuah oase yang sangat teduh. Mas Trisnatun mengajak kita melakukan interupsi total. Ia meminta kita meletakkan gawai, kembali menyeduh kopi, dan merenungkan filosofi kepahitannya. Hidup tidak pernah menjanjikan manis yang konstan, melainkan kombinasi kehangatan, rasa pahit, dan ampas di akhir cerita.


Ia mengajak kita mengalihkan pandangan ke alam bebas sebuah laboratorium kearifan yang sejati. Awan bergerak tanpa membuat kegaduhan, angin berembus sejuk tanpa pidato pencitraan, pohon tumbuh tegap tanpa butuh validasi publik, dan burung bernyanyi tanpa kontrak agar menjadi viral. Mereka menjalankan fungsinya secara presisi dalam kesunyian yang agung.


Pesan moralnya sangat benderang: hidup kita tidak harus selalu dikonversi menjadi konten, opini, atau komentar. Ada kalanya kita hanya perlu menjadi manusia biasa yang bersyukur, berdzikir, dan membiarkan segala hiruk-pikuk digital itu menguap seperti asap kretek yang hilang di udara.


Tidak semua dinamika di dunia ini menuntut respons kita. Sebagian cukup kita pelajari polanya, sebagian cukup kita tertawakan absurditasnya, dan untuk hal-hal yang sudah terlampau bebal serta sok tahu, cukup kita hadapi dengan satu kata penutup yang sangat ringkas, padat, dan membumi:


"Ndasmu."


Sebuah esai reflektif yang sangat bertenaga. Mas Trisnatun berhasil membuktikan bahwa dari sudut sebuah desa di Banyumas, kita bisa meneropong cacat cela peradaban modern dengan sangat jernih. Selamat minum kopi dan merawat kewarasan batin.


Minggu Malam, 07 Juni 2026



Tentang Penulis:

Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama