Catatan dari
Gigir Bukit Sinawing
Oleh: Riswo
Mulyadi
Dari Gigir Bukit Sinawing, Jakarta
selalu tampak seperti sebuah anomali geografi sekaligus politik. Di atas bukit
ini, para petani merawat keyakinan purba yang berbasis pada kejujuran alam:
bahwa padi tidak akan tumbuh lebih cepat hanya karena diteriaki, air tetap
mengalir ke bawah meski otoritas memerintahkannya mengalir ke atas, dan rumput
tidak pernah menjadi hijau berkat retorika pidato. Alam memelihara satu sifat
yang belakangan kian langka dalam lanskap sosiopolitik kita: ia tidak pernah
memalsukan keadaan.
Maka, menyaksikan eskalasi
demonstrasi di ibu kota baru-baru ini, impresi pertama yang muncul bukanlah
kalkulasi numerik mengenai jumlah massa atau barisan aparat keamanan. Yang
segera mengemuka adalah potret sebuah bangsa yang kian piawai mengelola akibat,
namun teramat lambat membaca sebab. Ketika ribuan mahasiswa mengepung jalan dan
ribuan aparat memasang barikade besi, kita menyaksikan sebuah drama teatrikal
mengenai kegagalan komunikasi politik yang kronis.
Ada paradoks yang menggelitik di
sini. Saat harga-harga kebutuhan pokok melambung, rakyat diminta tenang. Saat
daya beli melemah, rakyat diimbau untuk sabar. Dan ketika lapangan kerja kian
menyempit, rakyat dipasok narasi untuk tetap optimistis. Namun, ketika rakyat
membawa sisa-sisa kesabaran yang mulai retak itu ke ruang publik, respons
negara mendadak menjadi sangat taktis dan represif. Manajemen konflik kita
tampaknya lebih terampil mengatur arus demonstrasi ketimbang mengelola arus
kegelisahan; lebih cekatan memasang pagar besi daripada membangun jembatan
kepercayaan.
Sejarah mengajarkan satu postulat
sederhana: tidak ada ekspresi massa yang lahir dari ruang hampa udara. Ia
adalah produk akumulasi kekecewaan struktural. Seperti bendungan yang retak
secara gradual, atau seperti perut yang dipaksa mengencangkan ikat pinggang
lubang demi lubang, ia akan menemukan titik jenuhnya untuk meluap. Sayangnya,
ketika luapan itu terjadi, elite kita kerap lebih sibuk menyalahkan air yang
mengalir ketimbang membenahi tanggul kebijakan yang rapuh.
Di sinilah letak paradoks demokrasi
kita hari ini. Di satu sisi, semua aktor politik mendaku sebagai pendengar
aspirasi rakyat yang paling setia. Namun di sisi lain, rakyat tetap merasa
harus berteriak di jalanan agar eksistensi mereka diakui. Suara dari bawah
seolah harus menempuh labirin birokrasi yang panjang dan berliku sebelum mampu
mengintervensi ruang pengambilan keputusan. Narasi tentang angka pertumbuhan
ekonomi makro selalu didengungkan secara masif, sementara diskursus mengenai
mahalnya harga beras di tingkat mikro kerap disederhanakan.
Secara intelektual, negeri ini
sesungguhnya tidak pernah mengalami defisit pemikir. Kita memiliki pasokan yang
melimpah untuk ahli ekonomi, sosiolog, pakar komunikasi, hingga perancang
strategi. Yang kini mengalami kelangkaan akut justru adalah "ahli
mendengar". Sebab, mendengar bukanlah sekadar aktivitas sensorik,
melainkan sebuah laku epistemik yang menuntut kerendahan hati. Dan dalam
sejarah kekuasaan di mana pun, kerendahan hati jarang sekali tumbuh secepat
pertumbuhan syahwat politik.
Jika kita menelisik lebih dalam ke
balik kawat berduri kemarin, sebuah ironi sosiologis segera menampar kita.
Mahasiswa yang berteriak memprotes kebijakan dan aparat yang berjaga
mengamankan objek vital sesungguhnya merepresentasikan entitas sosial yang sama.
Pasca-demonstrasi, mahasiswa itu kembali ke kamar kosnya untuk menghitung sisa
uang bulanan yang kian menipis, sementara sang aparat kembali ke rumah
tangganya demi menghadapi nota belanja dapur yang terus membengkak. Mereka
mengonsumsi beras dari pasar yang sama, menghadapi inflasi yang sama, dan
mencemaskan masa depan yang sama-sama mahal. Namun, arsitektur sistem
menempatkan mereka di dua sisi pagar yang saling berhadapan. Dan stabilitas
semu inilah yang kerap kita agungkan.
Sikap ambigu negara terhadap
ekspresi publik ini memicu pertanyaan mendasar: dalam artikulasi seperti apa
suara rakyat dianggap ideal? Ketika mengeluh dituduh kurang bersyukur, ketika
diam diasumsikan baik-baik saja, ketika berwacana dicap emosional, dan ketika
turun ke jalan didakwa mengganggu ketertiban.
Kita perlu mengingatkan kembali
bahwa derajat kualitas demokrasi suatu negara tidak diukur dari seberapa sering
para pemimpinnya memuji rakyat dalam pidato seremonial. Demokrasi diuji dari
seberapa lapang dada dan dewasanya negara dalam mengunyah kritik. Negara yang
kuat dan percaya diri tidak akan panik menghadapi demonstrasi, juga tidak akan
sibuk mencari motif di balik siapa yang berbicara. Ia akan memusatkan seluruh
energinya untuk memahami mengapa suara-suara tersebut harus muncul ke
permukaan.
Kembali ke Gigir Bukit Sinawing,
pelajaran kepemimpinan terbaik justru diberikan oleh filosofi padi: semakin
berisi, ia akan semakin merunduk. Postulat alam ini berlaku mutlak bagi
pemegang kekuasaan. Semakin besar kewenangan dan legitimasi yang digenggam,
semakin besar pula kebutuhan moral untuk merunduk dan mendengar.
Rakyat pada dasarnya tidak pernah
menuntut sebuah utopia kesempurnaan. Mereka hanya membutuhkan keyakinan
rasional bahwa kesulitan hidup mereka tidak dianggap sebagai ilusi oleh para
elite, bahwa kecemasan mereka tidak dikategorikan sebagai gangguan keamanan,
dan bahwa suara mereka tidak harus dikonversi menjadi teriakan massa agar bisa
diperhatikan.
Jika setiap pergantian musim politik
jalanan tetap menjadi ruang sirkulasi utama bagi percakapan antara rakyat dan
negara, maka yang keliru bukanlah volume pengeras suara para demonstran. Yang
patut dievaluasi adalah kualitas pendengaran kita sebagai sebuah bangsa.
Jalanan yang ramai kemarin bukanlah ancaman bagi eksistensi negara. Justru
sebaliknya, ia adalah indikator bahwa rakyat masih memiliki harapan besar
terhadap perbaikan.
Sebab, hal yang paling menakutkan
dalam sebuah republik bukanlah ketika jalanan riuh oleh kritik, melainkan
ketika jalanan mendadak sunyi karena rakyat telah benar-benar berhenti berharap
bahwa suara mereka masih mampu mengubah keadaan.
Cilangkap, 13 Juni 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
Posting Komentar