Oleh: Riswo Mulyadi
Ada sebuah getaran yang berbeda ketika kita menjejakkan kaki di
tanah yang dibasahi aliran Serayu atau berteduh di bawah bayang-bayang Gunung
Slamet. Di sana, udara tidak hanya membawa aroma tanah yang digarap, tetapi
juga percakapan yang terdengar lugas, tajam, dan penuh tenaga. Saat seorang
petani berteriak, "Nyong kencot, kepengin madhang karo mendhoan
anget," ia sedang tidak hanya bicara soal urusan perut. Ia sedang
menggemakan sebuah identitas yang jujur, sebuah dialek yang oleh dunia luar
sering disebut "ngapak", namun bagi penghuninya adalah sebuah pusaka:
Basa Penginyongan.
Bagi kita yang tumbuh besar dalam dekapan budaya ini, Penginyongan
bukanlah sekadar variasi bunyi vokal. Ia adalah sebuah perlawanan bisu terhadap
sejarah. Ketika pusat-pusat kekuasaan di pedalaman Jawa pada masa silam mulai
merajut sekat-sekat bahasa melalui tingkatan Krama dan Ngoko,
masyarakat di wilayah barat ini justru tetap setia pada akar yang egaliter. Di
sini, bahasa tidak digunakan untuk memetakan siapa yang lebih tinggi atau siapa
yang lebih rendah.
Keunikan dialek ini terletak pada kesetiaannya menjaga kemurnian
fonetis Jawa kuno. Vokal "a" tetap diucapkan tegas, tanpa perlu
dibelokkan menjadi "o". Kejujuran dalam berucap ini sejatinya adalah
cermin dari kejujuran jiwa manusianya. Dalam dialek Penginyongan, jarak antara
seorang pejabat dan rakyat jelata seolah meluruh ketika mereka saling bertukar
kata Inyong dan Rika. Inilah bahasa yang lahir dari rahim
kerakyatan, sebuah alat komunikasi yang memahami bahwa di atas tanah yang kita
pijak, setiap manusia memiliki derajat yang setara.
Sayangnya, perjalanan identitas ini sempat mengalami masa-masa
getir. Selama puluhan tahun, wajah kebudayaan kita sering kali hanya dijadikan
"pemanis" di panggung-panggung hiburan nasional dengan citra yang
menyedihkan. Dialek ngapak kerap kali diidentikkan dengan keluguan yang komikal
atau keterbelakangan kelas sosial. Stigma ini sempat membuat sebagian anak muda
kita merasa perlu "menyembunyikan" lidah aslinya saat berhadapan
dengan dunia luar karena takut dianggap kurang beradab.
Namun, angin perubahan mulai berembus. Di era digital saat ini,
harga diri itu tumbuh kembali. Generasi baru tidak lagi merasa perlu meminta
maaf atas dialeknya. Melalui konten kreatif, musik, hingga percakapan di media
sosial, kata Inyong kembali diteriakkan dengan kepala tegak. Mereka
mulai menyadari bahwa menjadi modern tidak harus berarti mencabut akar
identitas dan menjadi jiplakan orang lain.
Tentu, perjuangan menjaga nyala api ini belum selesai. Di saat
institusi pendidikan masih sering menempatkan bahasa Jawa standar sebagai
satu-satunya parameter kesopanan, Basa Penginyongan harus menemukan benteng
pertahanannya sendiri. Benteng itu bukanlah gedung-gedung sekolah, melainkan
dapur-dapur rumah, sudut-sudut pasar, dan obrolan di pos ronda yang ditemani
kepulan asap kopi.
Basa Penginyongan adalah simbol kemerdekaan kita dari sejarah
panjang feodalisme. Selama mendoan masih mengepul di wajan-wajan pinggir jalan
dan sapaan Rika masih terdengar di antara kerumunan, maka jati diri
Banyumas akan tetap tegak. Ia akan terus mengalir, sejujur air Serayu dan
sekuat batu-batu di kaki Slamet, menjaga martabat manusia yang merdeka.
Karang Anjog, Juni 2026
Tentang Penulis:
Riswo
Mulyadi, seorang
guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati
keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu
saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.
Posting Komentar