Wajah Ganda Kita: Santun Saat Bertemu, Bengis Saat Mengetik

 


Catatan dari Gigir Bukit Sinawing

Oleh: Riswo Mulyadi

Kalau kita jalan-jalan keliling kampung, lewat pos ronda, atau mampir ke warung kopi, rasanya adem betul. Orang kita itu terkenal ramah luar biasa. Ketemu tetangga saling sapa, ada yang kesusahan langsung dibantu lewat gotong-royong. Senyumnya tulus, bikin hati tenang.


Tapi coba sekarang kita buka HP. Masuk ke Facebook, Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp. Waduh, mendadak suasananya berubah jadi panas! Isinya caci maki, orang saling ejek, gampang kemakan berita bohong (hoaks), sampai hobi merundung (bully) orang ramai-ramai.


Kondisi ini bikin kita mikir: kenapa manusia Indonesia bisa punya dua wajah yang beda drastis begini? Ramah di dunia nyata, tapi galak setengah mati di dunia maya.


Sebenarnya, ada apa dengan isi kepala dan batin kita? Kalau kita bedah pakai ilmu psikologi dan sejarah, ternyata ada beberapa alasan kuat di baliknya.


1. Penyakit "Tak Enakan" dan Takut Omongan Tetangga

Secara ilmu psikologi, orang Indonesia itu tipikalnya kolektif alias hobi ngumpul dan berkelompok. Di negeri kita, kata "Aku" itu hampir tak bisa berdiri sendiri. Suka atau tidak, hidup kita selalu dikaitkan dengan "Mereka" entah itu keluarga besar, tetangga sekampung, atau teman se-geng.


Sifat ini melahirkan dua kebiasaan batin:

  • Budaya Tak Enakan (Ewuh Pakewuh): Bagi orang kita, menjaga kerukunan adalah nomor satu. Biar kelihatan akur, kita sering kali rela menahan kedongkolan, berbohong demi kebaikan, atau mendem unek-unek. Istilahnya, "yang penting kelihatan rukun di depan orang."
  • Budaya Malu (Shame Culture): Ketakutan terbesar kita bukan rasa bersalah di dalam hati, tapi takut dicap buruk oleh lingkungan. Kita paling ngeri kalau sampai digunjingkan (dirasani) atau dikucilkan sama tetangga.

Sisi Negatifnya: Sifat terlalu "tak enakan" ini bikin kita hobi memendam emosi (represi). Padahal, emosi yang dipendam itu tak pernah hilang. Dia cuma dikubur hidup-hidup di dalam dada. Nah, karena di dunia nyata tak bisa dikeluarkan, emosi ini bakal mencari jalan keluar lain yang sering kali meledak-ledak.


2. Mentalitas Minder dan Haus Pujian Orang Asing

Kita juga tak bisa lepas dari sejarah masa lalu. Dijajah selama ratusan tahun itu ternyata menyisakan luka di dalam alam bawah sadar kita, yaitu mentalitas minder atau rasa rendah diri yang akut.


Sifat minder yang diturunkan antar-generasi ini bikin ego kita rapuh, dan biasanya muncul dalam dua perilaku aneh sehari-hari:


  • Sok Kebarat-baratan: Menganggap apa pun yang datang dari luar negeri, orang bule, atau produk asing itu pasti lebih hebat, lebih pinter, dan lebih berkelas daripada buatan bangsa sendiri.
  • Haus Validasi (Gila Pujian): Kita bangganya minta ampun kalau ada artis luar negeri atau YouTuber asing nyebut kata "Indonesia" atau nyicip tempe. Tapi, begitu ada orang asing ngasih kritik yang jujur, kita langsung ngamuk massal tanpa mikir pakai logika.

3. Budaya "Asal Bapak Senang" yang Bikin Malas Berpikir

Sejak zaman kerajaan dulu sampai pola asuh di rumah, kita terbiasa dengan struktur yang hierarkis ada atasan, ada bawahan. Dari sini muncul sifat yang namanya "Bapakisme", yaitu kebiasaan mengultuskan atau menganggap pemimpin, tokoh, atau orang tua itu selalu benar dan tak boleh didebat.


Dampaknya secara psikologis, banyak dari kita yang malas berpikir mandiri. Kita lebih nyaman menyerahkan keputusan hidup dan isi kepala kita kepada orang yang dianggap "di atas".


Sifat "ikut kata Bapak" atau takut dibilang kualat ini akhirnya bikin nalar kritis kita lumpuh. Kita lebih milih rasa aman dengan cara ikut-ikutan, ketimbang repot-repot mencari kebenaran sendiri.


4. Medsos: Tempat Pelampiasan dan Ikut-ikutan Massal

Nah, apa yang terjadi waktu sifat-sifat di atas pindah ke dunia internet? Jadilah ledakan seperti yang kita lihat hari ini.


Di dunia nyata, batin kita dikurung oleh ribuan aturan kesopanan, rasa sungkan, dan takut kehilangan muka. Tapi di media sosial, sekat itu jebol semua! Kenapa? Karena di internet kita bisa pakai akun palsu, tak saling tatap muka, dan jaraknya jauh.


Internet akhirnya jadi tempat pelampiasan raksasa. Semua kekesalan, stres, dan emosi yang selama ini dipendam di dunia nyata, mendadak dimuntahkan tanpa saringan di kolom komentar orang lain. Itulah alasan kenapa netizen kita dicap galak di medsos.


Sialnya lagi, sifat suka ngumpul kita terbawa ke internet. Kita bergerak pakai mentalitas "kesadaran massa"—asal ikut ramai saja. Kalau ada satu orang diserang, semua ikut nyerang tanpa tahu duduk perkaranya (mobbing). Kita berubah jadi kurir hoaks sukarela, yang memindahkan berita bohong dari satu grup WA ke grup WA lain tanpa dibayar ongkos kirim. Kita merasa paling tahu segalanya, padahal cuma modal baca judul berita doang.


Saatnya Merawat Isi Kepala Sendiri

Melihat peta batin ini, kita sadar kalau masyarakat kita lagi bingung menghadapi zaman digital yang serbacepat ini. Kaki kita masih sedikit terikat oleh sifat malas mikir masa lalu, tapi tangan kita sudah sibuk mainan HP layar sentuh.


Sifat kita yang hangat, suka ngumpul, dan religius sebenarnya adalah modal yang bagus banget biar kita tak gampang stres atau kesepian seperti orang-orang di negara maju. Tapi, modal bagus ini bakal rusak kalau kita tak berani membenahi sisi gelapnya.


Ke depan, tantangan budaya kita bukan cuma soal melestarikan tarian atau rumah adat, tapi memerdekakan isi kepala sendiri.


Yuk, mulai sekarang kita belajar berpikir mandiri. Tak usah semua hal di medsos harus kita komentari. Tak usah semua gosip harus kita ikut-ikutan nimbrung. Kalau ada hal-hal yang bikin pusing, sok tahu, atau keributan tak penting di internet, belajar buat tak peduli. Cukup senyumin aja, taruh HP-nya, lalu seruput kopi hitam Anda hangat-hangat.


Sebab, tugas tertinggi dari manusia hidup adalah menjadi orang yang bijak, dan itu selalu dimulai dengan kemampuan memimpin pikiran kita sendiri. Selamat ngopi dan merawat kewarasan batin!


Sinawing, Juni 2026



Tentang Penulis:

Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama