CILONGOK - Semangat sportivitas, kekompakan, dan kecintaan terhadap budaya lokal mewarnai pelaksanaan Lomba Permainan Tradisional dalam rangka Festival Budaya Wong Tani II di Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok, Jumat (3/7/2026). Memasuki hari kelima penyelenggaraan festival, ratusan peserta dari jenjang SD/MI, SMP, dan MTs memadati arena perlombaan untuk mengikuti berbagai permainan tradisional yang sarat nilai edukatif. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal kembali permainan warisan leluhur yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Lomba permainan tradisional merupakan salah satu agenda utama Festival Budaya Wong Tani II yang dirancang sebagai media pelestarian budaya sekaligus pembentukan karakter peserta didik. Berbagai cabang perlombaan digelar, di antaranya egrang dan tarik tambang. Kedua permainan tersebut dipilih karena mengandung nilai kerja sama, keseimbangan, keberanian, ketekunan, serta sportivitas yang sangat relevan dengan pembinaan karakter anak-anak dan remaja. Sejak pagi, lapangan desa telah dipenuhi peserta, guru pendamping, orang tua, dan masyarakat yang antusias menyaksikan jalannya perlombaan.
Ketua panitia menjelaskan bahwa penyelenggaraan lomba permainan tradisional merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali permainan rakyat yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. “Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak anak-anak kembali mengenal permainan tradisional yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, kerja keras, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Kami berharap festival ini menjadi ruang edukasi budaya yang mampu membangun karakter generasi muda,” ujarnya.
Suasana perlombaan berlangsung meriah sejak pertandingan pertama dimulai. Gelak tawa peserta, sorak-sorai para pendukung, serta tepuk tangan penonton terus menggema di sekitar arena. Setiap pertandingan berlangsung penuh semangat namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Para peserta saling memberi semangat, sementara para guru dan orang tua memberikan dukungan tanpa henti kepada anak-anak yang berlaga. Atmosfer kebersamaan tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang memperlihatkan bahwa permainan tradisional masih mampu menghadirkan kegembiraan di tengah dominasi hiburan digital.
Dari seluruh cabang perlombaan, tarik tambang menjadi pertandingan yang paling menyedot perhatian masyarakat. Setiap tim menampilkan kekompakan dan strategi terbaik untuk mengalahkan lawan. Tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, para peserta juga harus mampu menjaga ritme tarikan, komunikasi antarteman, serta konsentrasi agar mampu mempertahankan keseimbangan selama pertandingan berlangsung. Sorakan penonton yang memenuhi sisi arena semakin memacu semangat para peserta untuk memberikan penampilan terbaik.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian datang dari tim SD Negeri 2 Panusupan. Tim yang diperkuat enam orang murid tersebut tampil penuh percaya diri sejak babak penyisihan. Dengan koordinasi yang baik dan kekompakan yang terjaga, mereka berhasil mengalahkan lawannya pada babak pertama dengan skor meyakinkan 2–0. Kemenangan tersebut mengantarkan tim SD Negeri 2 Panusupan melangkah ke babak final dan semakin membangkitkan optimisme para guru serta pendukung yang hadir di arena pertandingan.
Memasuki babak final, pertandingan berlangsung semakin sengit. Kedua tim saling menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam adu kekuatan dan strategi. Tim SD Negeri 2 Panusupan tetap tampil tenang, kompak, dan disiplin mengikuti arahan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Berkat kerja sama yang solid, mereka akhirnya berhasil menaklukkan lawan dan keluar sebagai Juara I Lomba Tarik Tambang Festival Budaya Wong Tani II. Kemenangan tersebut langsung disambut sorak-sorai kegembiraan dari teman-teman, guru, serta masyarakat yang memberikan dukungan sejak awal pertandingan.
“Kemenangan ini bukan semata-mata karena tenaga, tetapi karena anak-anak mampu bekerja sama, saling percaya, dan tidak mudah menyerah. Nilai-nilai seperti inilah yang ingin kami tanamkan melalui berbagai kegiatan sekolah maupun keikutsertaan dalam festival budaya. Kami bangga atas semangat juang yang mereka tunjukkan,” ujar salah seorang guru pendamping SD Negeri 2 Panusupan usai pertandingan berakhir.
Keberhasilan meraih gelar juara menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SD Negeri 2 Panusupan. Lebih dari sekadar membawa pulang trofi, para peserta memperoleh pengalaman berharga mengenai arti disiplin, kerja sama, sportivitas, serta pentingnya menghargai lawan dalam sebuah kompetisi. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran karakter yang tidak selalu dapat diperoleh di dalam ruang kelas, melainkan tumbuh melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas yang melatih kebersamaan dan tanggung jawab.
Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi perlombaan menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat di hati warga. Kehadiran berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, orang tua, guru, hingga tokoh masyarakat, memperlihatkan besarnya dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal. Festival Budaya Wong Tani II pun tidak hanya menjadi ajang hiburan tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang perjumpaan antargenerasi untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus.
Melalui penyelenggaraan Lomba Permainan Tradisional dalam Festival Budaya Wong Tani II, Desa Panusupan kembali menegaskan bahwa budaya lokal merupakan kekayaan yang harus terus dijaga dan diwariskan. Permainan seperti egrang dan tarik tambang bukan sekadar perlombaan, melainkan media pendidikan karakter yang mengajarkan semangat kebersamaan, kejujuran, sportivitas, serta pantang menyerah. Prestasi yang diraih SD Negeri 2 Panusupan menjadi bukti bahwa ketika budaya diberi ruang untuk tumbuh, lahirlah generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga bangga terhadap jati dirinya. Dari lapangan sederhana di Panusupan, semangat melestarikan budaya terus berkobar, menghubungkan warisan masa lalu dengan harapan masa depan.
Kontributor: Laela Isna Maziatun
Posting Komentar