RAHASIA TUJUH AYAT : Percakapan Kresna dan Arjuna Sebelum Kresna Duta

 



Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Konon, setiap negeri memiliki kitab yang tidak pernah tertulis.

 

Kitab itu tidak disimpan di perpustakaan, tidak pula dibacakan oleh para brahmana. Kitab itu ditulis setiap hari oleh perilaku manusia.

 

Pagi itu, di sebuah padepokan yang jauh dari hiruk-pikuk Istana Hastina, Kresna duduk bersila memandangi embun yang menggantung di ujung ilalang.

 

Arjuna datang dengan langkah yang tidak serapi biasanya.

 

"Kakang..."

 

Kresna tidak menoleh.

"Engkau datang membawa pertanyaan."

 

"Bukankah Kakang belum mendengarnya?"

 

"Pertanyaan selalu lebih berat daripada langkah kaki."

 

Arjuna tersenyum hambar.

"Aku baru kembali dari Hastina."

 

"Lalu?"

 

"Aku tidak mengenali negeri itu lagi."

 

"Yang berubah negerinya?"

"Atau mataku?"

 

Kresna mengambil secangkir teh hangat.

"Kadang-kadang, Arjuna, yang berubah bukan dunia. Melainkan keberanian kita untuk melihatnya."

 

"Bagaimana keadaan istana?"

 

Arjuna terdiam sejenak.

"Ramai."

 

"Ramai oleh apa?"

 

"Pidato. Rapat. Perayaan. Penghargaan."

 

"Lalu rakyat?"

 

"Antri."

 

"Antri apa?"

 

"Harapan."

 

Kresna mengangguk perlahan.

"Lalu bagaimana Duryudana?"

 

"Nah... itu yang membuatku bingung."

 

"Mengapa?"

 

"Semakin lama aku melihatnya, semakin aku merasa Duryudana tidak sepenuhnya jahat."

 

Kresna tersenyum.

"Baru sekarang engkau mengerti."

 

"Bukankah ia penyebab kekacauan?"

 

"Belum tentu."

 

"Lho?"

 

"Seekor harimau tidak pernah bersalah karena menjadi harimau. Yang perlu ditanya ialah: mengapa seluruh hutan sepakat membiarkan harimau mengatur padang rumput?"

 

Arjuna termenung.

 

"Kakang..."

 

"Ya."

 

"Aku mendengar sendiri Duryudana berkata kepada para menterinya:

'Aku hanya ingin Hastina kuat. Kalau aku keras, itu demi ketertiban. Kalau aku menyingkirkan lawan, itu demi stabilitas. Kalau rakyat harus berkorban, bukankah setiap kejayaan selalu membutuhkan pengorbanan?'"

 

Arjuna berhenti bicara.

"Aneh, Kakang."

 

"Apa yang aneh?"

 

"Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal."

 

Kresna tertawa lirih.

"Itulah sebabnya kebatilan jarang datang memakai wajah buruk. Ia selalu meminjam bahasa kebaikan.

 

Keserakahan paling berbahaya bukan yang berteriak, melainkan yang pandai berpidato tentang pengorbanan."

 

"Apakah Duryudana tahu bahwa ia keliru?"

 

"Tidak selalu."

 

"Lho?"

 

"Manusia yang paling sulit diselamatkan bukan yang berdosa, tetapi yang selalu merasa sedang berbuat jasa."

 

Arjuna memejamkan mata.

 

Kresna melanjutkan:

"Jangan terlalu sibuk memusuhi Duryudana. Musuhilah setiap Duryudana yang mungkin sedang tumbuh di dalam dirimu."

 

Angin menggoyangkan daun-daun jati. Seekor burung hinggap sebentar, lalu terbang pergi.

 

"Kakang... mengapa semua orang di istana selalu memuji Duryudana?"

 

"Karena pujian lebih murah daripada kejujuran."

 

"Mereka takut?"

 

"Sebagian takut. Sebagian berharap jabatan. Sebagian berharap proyek. Sebagian berharap anaknya menjadi pejabat. Sebagian lagi bahkan sudah lupa mengapa mereka memuji—mereka hanya ikut-ikutan."

 

"Lalu Duryudana?"

 

"Ia akhirnya percaya bahwa dirinya selalu benar. Padahal, yang membunuh seorang raja bukan musuh, melainkan para penjilat."

 

Kresna memungut ranting kecil di tanah.

"Arjuna."

 

"Ya."

 

"Kalau sebuah cermin retak, siapa yang salah? Cerminnya? Atau wajahnya?"

 

"Bukan keduanya."

 

"Benar. Yang salah adalah orang yang berhenti bercermin."

 

"Kakang.. aku menemukan sebuah gulungan tua di perpustakaan padepokan."

 

"Judulnya?"

 

Rahasia Tujuh Ayat.

 

Kresna tersenyum.

"Itu bukan kitab."

 

"Lalu apa?"

 

"Itu hanya cara semesta mengingatkan manusia."

 

"Isinya apa?"

 

"Tidak banyak. Hanya tujuh ayat. Namun tujuh ayat itu lebih berat daripada tujuh gunung."

 

 

 

Ayat Pertama

 

Bila penguasa lebih sibuk mempertahankan kursinya daripada menjaga rakyatnya...

sesungguhnya kursi itulah berhala yang sedang memerintah.

 

Ayat Kedua

 

Bila kaum pandai lebih takut kehilangan harta pemberian Raja daripada kehilangan kejujuran...

maka ilmu sedang berubah menjadi dagangan.

 

Ayat Ketiga

 

Bila para kesatria lebih berani kepada rakyat kecil daripada setia kepada ketidakadilan...

pedang telah kehilangan dharmanya.

 

Ayat Keempat

 

Bila guru dan brahmana lebih sibuk mengumpulkan pengikut daripada menumbuhkan manusia...maka

pelita penerang kehidupan berubah menjadi lampu panggung keserakahan.

 

Ayat Kelima

 

Bila saudagar menghitung untung tanpa menghitung keringat dan air mata...

pasar akan menjadi tempat paling sunyi bagi nurani.

 

Ayat Keenam

 

Bila pemuda diwarisi beban utang, kebencian,perselisihan dan kebohongan...

mereka akan tumbuh tanpa cita-cita dan dewasa sebagai para durjana.

 

 

Arjuna menatap lekat-lekat wajah Kresna.

"Dan ayat terakhir?"

 

Kresna menarik napas panjang.

"Itulah ayat yang paling pendek, namun paling sulit diamalkan."

 

Ayat Ketujuh

 

Setiap manusia akan menjadi seperti orang-orang yang selalu bertepuk tangan di sekelilingnya.

 

Arjuna terdiam lama.

"Itu saja?"

 

"Itu saja."

 

"Tidak ada tentang koruptor?"

 

Kresna tersenyum tipis.

"Koruptor lahir jauh sebelum uang dicuri.

Ia lahir ketika tepuk tangan dibayar.

Ketika kritik dianggap pengkhianatan.

Ketika kejujuran dianggap ancaman.

Ketika orang baik memilih diam.

Dan ketika semua orang berkata:

'Baginda selalu benar.'"

 

Matahari mulai condong ke barat. Dari kejauhan terdengar alunan gamelan istana. Mungkin sedang ada pesta. Mungkin peresmian. Atau mungkin penghargaan bagi mereka yang paling pandai berkata: "Siap, Baginda."

 

Arjuna berdiri perlahan.

"Kakang..."

 

"Ya."

 

"Apakah Hastina masih bisa diselamatkan?"

 

Kresna menatap mata Arjuna lama sekali.

"Hastina tidak membutuhkan pahlawan.

Hastina membutuhkan lebih banyak orang yang berani mengatakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu membuat dirinya kehilangan keuntungan."

 

Kresna berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara pelan:

"Ingatlah, Arjuna...

Yang paling berbahaya bukan Duryudana, karena setiap zaman pasti melahirkan Duryudana.”

 

Yang paling berbahaya adalah ketika para Bisma memilih diam, para Drona memilih nyaman, para Karna memilih setia kepada kekeliruan, dan rakyat memilih tepuk tangan daripada berpikir.

 

Pada saat itulah, kerajaan runtuh bukan karena musuh datang dari luar, melainkan karena nurani pergi meninggalkan istana."

 

Arjuna memandang dalam-dalam sosok kakaknya, lalu memohon dengan penuh kerendahan hati agar Kresna sudi datang ke Istana Hastina, menyampaikan nasihat kepada seluruh penghuni istana, serta membisikkan kebenaran di telinga Duryudana agar ia segera sadar dan berhenti berlaku adharma.

 

Mendengar permohonan itu, Kresna tersenyum tipis lalu tertawa lirih penuh sindiran, menjawab dengan lembut namun tegas bahwa ia tak mau dan tak bisa melakukannya, sebab di dalam setiap diri manusia—termasuk di dalam dirinya sendiri—juga selalu ada bagian yang berperilaku layaknya Duryudana.

 

Angin sore berembus perlahan. Daun-daun tua berguguran tanpa gaduh.

 

Alam tidak pernah bertepuk tangan kepada pohon yang tinggi. Alam hanya setia pada keseimbangan.

 

Dan barangkali itulah rahasia paling sunyi dari tujuh ayat seluruhnya :

 

Kejahatan tidak pernah cukup kuat untuk menghancurkan sebuah negeri. Yang menghancurkannya adalah ketika kebaikan kehilangan keberanian untuk berkata:

"Baginda, kali ini Paduka keliru."

 

Ajibarang, 31 Juli 2026





Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama