Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Konon, setiap negeri memiliki kitab yang tidak
pernah tertulis.
Kitab itu tidak disimpan di perpustakaan,
tidak pula dibacakan oleh para brahmana. Kitab itu ditulis setiap hari oleh
perilaku manusia.
Pagi itu, di sebuah padepokan yang jauh dari
hiruk-pikuk Istana Hastina, Kresna duduk bersila memandangi embun yang
menggantung di ujung ilalang.
Arjuna datang dengan langkah yang tidak serapi
biasanya.
"Kakang..."
Kresna tidak menoleh.
"Engkau datang membawa pertanyaan."
"Bukankah Kakang belum
mendengarnya?"
"Pertanyaan selalu lebih berat daripada
langkah kaki."
Arjuna tersenyum hambar.
"Aku baru kembali dari Hastina."
"Lalu?"
"Aku tidak mengenali negeri itu
lagi."
"Yang berubah negerinya?"
"Atau mataku?"
Kresna mengambil secangkir teh hangat.
"Kadang-kadang, Arjuna, yang berubah
bukan dunia. Melainkan keberanian kita untuk melihatnya."
"Bagaimana keadaan istana?"
Arjuna terdiam sejenak.
"Ramai."
"Ramai oleh apa?"
"Pidato. Rapat. Perayaan.
Penghargaan."
"Lalu rakyat?"
"Antri."
"Antri apa?"
"Harapan."
Kresna mengangguk perlahan.
"Lalu bagaimana Duryudana?"
"Nah... itu yang membuatku bingung."
"Mengapa?"
"Semakin lama aku melihatnya, semakin aku
merasa Duryudana tidak sepenuhnya jahat."
Kresna tersenyum.
"Baru sekarang engkau mengerti."
"Bukankah ia penyebab kekacauan?"
"Belum tentu."
"Lho?"
"Seekor harimau tidak pernah bersalah
karena menjadi harimau. Yang perlu ditanya ialah: mengapa seluruh hutan sepakat
membiarkan harimau mengatur padang rumput?"
Arjuna termenung.
"Kakang..."
"Ya."
"Aku mendengar sendiri Duryudana berkata
kepada para menterinya:
'Aku hanya ingin Hastina kuat. Kalau aku
keras, itu demi ketertiban. Kalau aku menyingkirkan lawan, itu demi stabilitas.
Kalau rakyat harus berkorban, bukankah setiap kejayaan selalu membutuhkan
pengorbanan?'"
Arjuna berhenti bicara.
"Aneh, Kakang."
"Apa yang aneh?"
"Kalimat-kalimat itu terdengar masuk
akal."
Kresna tertawa lirih.
"Itulah sebabnya kebatilan jarang datang
memakai wajah buruk. Ia selalu meminjam bahasa kebaikan.
Keserakahan paling berbahaya bukan yang
berteriak, melainkan yang pandai berpidato tentang pengorbanan."
"Apakah Duryudana tahu bahwa ia
keliru?"
"Tidak selalu."
"Lho?"
"Manusia yang paling sulit diselamatkan
bukan yang berdosa, tetapi yang selalu merasa sedang berbuat jasa."
Arjuna memejamkan mata.
Kresna melanjutkan:
"Jangan terlalu sibuk memusuhi Duryudana.
Musuhilah setiap Duryudana yang mungkin sedang tumbuh di dalam dirimu."
Angin menggoyangkan daun-daun jati. Seekor
burung hinggap sebentar, lalu terbang pergi.
"Kakang... mengapa semua orang di istana
selalu memuji Duryudana?"
"Karena pujian lebih murah daripada
kejujuran."
"Mereka takut?"
"Sebagian takut. Sebagian berharap
jabatan. Sebagian berharap proyek. Sebagian berharap anaknya menjadi pejabat.
Sebagian lagi bahkan sudah lupa mengapa mereka memuji—mereka hanya
ikut-ikutan."
"Lalu Duryudana?"
"Ia akhirnya percaya bahwa dirinya selalu
benar. Padahal, yang membunuh seorang raja bukan musuh, melainkan para
penjilat."
Kresna memungut ranting kecil di tanah.
"Arjuna."
"Ya."
"Kalau sebuah cermin retak, siapa yang
salah? Cerminnya? Atau wajahnya?"
"Bukan keduanya."
"Benar. Yang salah adalah orang yang
berhenti bercermin."
"Kakang.. aku menemukan sebuah gulungan
tua di perpustakaan padepokan."
"Judulnya?"
Rahasia Tujuh Ayat.
Kresna tersenyum.
"Itu bukan kitab."
"Lalu apa?"
"Itu hanya cara semesta mengingatkan
manusia."
"Isinya apa?"
"Tidak banyak. Hanya tujuh ayat. Namun
tujuh ayat itu lebih berat daripada tujuh gunung."
Ayat Pertama
Bila penguasa lebih sibuk mempertahankan
kursinya daripada menjaga rakyatnya...
sesungguhnya kursi itulah berhala yang sedang
memerintah.
Ayat Kedua
Bila kaum pandai lebih takut kehilangan harta
pemberian Raja daripada kehilangan kejujuran...
maka ilmu sedang berubah menjadi dagangan.
Ayat Ketiga
Bila para kesatria lebih berani kepada rakyat
kecil daripada setia kepada ketidakadilan...
pedang telah kehilangan dharmanya.
Ayat Keempat
Bila guru dan brahmana lebih sibuk
mengumpulkan pengikut daripada menumbuhkan manusia...maka
pelita penerang kehidupan berubah menjadi
lampu panggung keserakahan.
Ayat Kelima
Bila saudagar menghitung untung tanpa
menghitung keringat dan air mata...
pasar akan menjadi tempat paling sunyi bagi
nurani.
Ayat Keenam
Bila pemuda diwarisi beban utang,
kebencian,perselisihan dan kebohongan...
mereka akan tumbuh tanpa cita-cita dan dewasa
sebagai para durjana.
Arjuna menatap lekat-lekat wajah Kresna.
"Dan ayat terakhir?"
Kresna menarik napas panjang.
"Itulah ayat yang paling pendek, namun
paling sulit diamalkan."
Ayat Ketujuh
Setiap manusia akan menjadi seperti
orang-orang yang selalu bertepuk tangan di sekelilingnya.
Arjuna terdiam lama.
"Itu saja?"
"Itu saja."
"Tidak ada tentang koruptor?"
Kresna tersenyum tipis.
"Koruptor lahir jauh sebelum uang
dicuri.
Ia lahir ketika tepuk tangan dibayar.
Ketika kritik dianggap pengkhianatan.
Ketika kejujuran dianggap ancaman.
Ketika orang baik memilih diam.
Dan ketika semua orang berkata:
'Baginda selalu benar.'"
Matahari mulai condong ke barat. Dari kejauhan
terdengar alunan gamelan istana. Mungkin sedang ada pesta. Mungkin peresmian.
Atau mungkin penghargaan bagi mereka yang paling pandai berkata: "Siap,
Baginda."
Arjuna berdiri perlahan.
"Kakang..."
"Ya."
"Apakah Hastina masih bisa
diselamatkan?"
Kresna menatap mata Arjuna lama sekali.
"Hastina tidak membutuhkan pahlawan.
Hastina membutuhkan lebih banyak orang yang
berani mengatakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu membuat dirinya
kehilangan keuntungan."
Kresna berhenti sejenak, lalu berkata dengan
suara pelan:
"Ingatlah, Arjuna...
Yang paling berbahaya bukan Duryudana,
karena setiap zaman pasti melahirkan Duryudana.”
Yang paling berbahaya adalah ketika para Bisma
memilih diam, para Drona memilih nyaman, para Karna memilih setia kepada
kekeliruan, dan rakyat memilih tepuk tangan daripada berpikir.
Pada saat itulah, kerajaan runtuh bukan karena
musuh datang dari luar, melainkan karena nurani pergi meninggalkan
istana."
Arjuna memandang dalam-dalam sosok kakaknya,
lalu memohon dengan penuh kerendahan hati agar Kresna sudi datang ke Istana
Hastina, menyampaikan nasihat kepada seluruh penghuni istana, serta membisikkan
kebenaran di telinga Duryudana agar ia segera sadar dan berhenti berlaku
adharma.
Mendengar permohonan itu, Kresna tersenyum
tipis lalu tertawa lirih penuh sindiran, menjawab dengan lembut namun tegas
bahwa ia tak mau dan tak bisa melakukannya, sebab di dalam setiap diri
manusia—termasuk di dalam dirinya sendiri—juga selalu ada bagian yang
berperilaku layaknya Duryudana.
Angin sore berembus perlahan. Daun-daun tua
berguguran tanpa gaduh.
Alam tidak pernah bertepuk tangan kepada pohon
yang tinggi. Alam hanya setia pada keseimbangan.
Dan barangkali itulah rahasia paling sunyi
dari tujuh ayat seluruhnya :
Kejahatan tidak pernah cukup kuat untuk
menghancurkan sebuah negeri. Yang menghancurkannya adalah ketika kebaikan
kehilangan keberanian untuk berkata:
"Baginda, kali ini Paduka
keliru."
Ajibarang, 31 Juli 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar