CITUNGGUL - Ratusan warga RT 03 Citunggul, Minggu malam (30/8/2026), larut dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan saat menggelar tasyakuran peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman rumah Bapak Kamidin. Dimulai pukul 20.00 WIB, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial memperingati kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, mengenang jasa para pahlawan, serta merawat tradisi gotong royong yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat. Warga dari berbagai kelompok usia hadir dan duduk bersama dalam suasana sederhana, menikmati rangkaian acara mulai dari sambutan, doa bersama, makan bersama, pemutaran dokumentasi kegiatan warga, hingga nonton bareng film legendaris Indonesia, Naga Bonar.
Kebersamaan warga sudah terasa sejak persiapan kegiatan. Masyarakat secara sukarela terlibat dalam berbagai kebutuhan acara, termasuk menyiapkan tempat, perlengkapan, serta hidangan untuk dinikmati bersama. Kaum ibu bahkan telah bergotong royong sejak siang hari menyiapkan makanan untuk tasyakuran. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan di tingkat lingkungan tidak selalu membutuhkan kemeriahan yang berlebihan. Justru melalui kegiatan sederhana yang dilakukan bersama, nilai persaudaraan dan kepedulian terhadap lingkungan dapat kembali diperkuat. Pembukaan acara dilakukan secara formal oleh Ketua RT 03 Citunggul, Bapak Teguh, yang memberikan apresiasi kepada seluruh warga atas partisipasi dan kekompakan mereka dalam menyukseskan kegiatan.
“Melalui tasyakuran ini, kita tidak hanya mengenang jasa para pahlawan nasional, tetapi juga merayakan semangat kebersamaan di lingkungan kita sendiri. Gotong royong adalah warisan kemerdekaan yang harus terus kita jaga,” ujar Bapak Teguh dalam sambutannya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa makna kemerdekaan tidak berhenti pada sejarah perjuangan bangsa, melainkan perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat RT 03, gotong royong menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana warga mengisi kemerdekaan melalui kepedulian, kerja sama, dan kesediaan untuk saling membantu. Semangat tersebut sekaligus menjadi modal sosial untuk menjaga kerukunan di tengah kehidupan masyarakat yang terus mengalami perubahan.
Rangkaian kegiatan kemudian memasuki suasana yang lebih khidmat melalui doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, Bapak Atmo. Warga menundukkan kepala dan memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa Indonesia sekaligus mengenang para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Doa bersama juga menjadi ungkapan rasa syukur atas kesempatan warga untuk hidup dalam suasana damai dan dapat berkumpul bersama. Setelah suasana khidmat tersebut, kegiatan berlanjut dengan makan bersama. Hidangan yang telah disiapkan secara gotong royong menjadi simbol sederhana bahwa makanan terasa lebih bermakna ketika dinikmati dalam suasana kebersamaan. Tidak ada sekat antara tua dan muda; seluruh warga larut dalam percakapan dan canda yang semakin menghidupkan suasana malam.
Kehangatan kegiatan semakin terasa ketika Bapak Sujitno, selaku tokoh sesepuh RT 03 Citunggul, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga tradisi berkumpul di lingkungan masyarakat. Menurutnya, pertemuan warga seperti tasyakuran kemerdekaan memiliki nilai sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Tradisi tersebut menjadi ruang bagi generasi tua untuk berbagi pengalaman sekaligus memberikan kesempatan kepada generasi muda mengenal lingkungan sosialnya.
“Melihat kebersamaan malam ini, terasa betul semangat kekeluargaan yang masih kental. Harapan kami para sesepuh, pemuda dan seluruh warga dapat terus mempertahankan rasa memiliki terhadap lingkungan RT 03 ini,” tutur Bapak Sujitno.
Harapan itu sekaligus menjadi pesan agar semangat kebersamaan tidak hanya muncul ketika peringatan kemerdekaan, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki sesi berikutnya, perhatian warga tertuju pada layar putih yang dipasang di halaman rumah Bapak Kamidin. Panitia menampilkan video dokumenter yang merangkum perjalanan dan berbagai aktivitas warga RT 03 Citunggul. Tayangan tersebut memperlihatkan sejumlah jejak pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara swadaya, antara lain proses pembangunan Balai Temu Wicara, pembangunan Pos Ronda, hingga penyediaan sarana air bersih. Dokumentasi itu seolah membawa warga kembali melihat perjalanan lingkungan mereka dari waktu ke waktu. Tepuk tangan dan gelak tawa pun beberapa kali terdengar ketika layar menampilkan berbagai aktivitas sehari-hari warga. Momen kebersamaan kaum ibu yang sejak siang bergotong royong memasak untuk hidangan tasyakuran juga menjadi salah satu tayangan yang mendapat perhatian dan apresiasi dari warga. Video tersebut bukan sekadar dokumentasi, melainkan pengingat bahwa berbagai fasilitas yang kini dinikmati masyarakat lahir dari kebersamaan dan kontribusi warga.
Rangkaian tasyakuran akhirnya ditutup dengan kegiatan nonton bareng film legendaris Indonesia, Naga Bonar. Pilihan hiburan tersebut membuat suasana malam semakin cair. Warga duduk bersama menikmati film, sementara gelak tawa sesekali terdengar dari berbagai penjuru halaman. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan yang sarat pesan tentang perjuangan, doa, gotong royong, dan kebersamaan, warga mendapatkan ruang untuk menikmati hiburan dalam suasana santai. Dari doa yang dipanjatkan bersama hingga layar yang menampilkan kisah perjuangan dalam Naga Bonar, malam tasyakuran RT 03 Citunggul menjadi potret sederhana bagaimana kemerdekaan dirayakan dari lingkungan terkecil. Bukan semata tentang pesta dan kemeriahan, tetapi tentang warga yang masih mau berkumpul, berbagi makanan, mengenang sejarah, mengapresiasi hasil kerja bersama, dan menjaga rasa memiliki terhadap lingkungan. Di halaman rumah Bapak Kamidin malam itu, kemerdekaan menemukan maknanya sendiri: ketika doa menyatukan hati, gotong royong menguatkan lingkungan, dan kebersamaan membuat sebuah kampung terasa seperti keluarga.
Kontributor: Luki Henderiansyah
Posting Komentar