KOPIKU TINGGAL AMPAS

 



Catatan Satire tentang Hidup, Kekuasaan, dan Sisa-Sisa yang Kita Banggakan

Oleh: Riswo Mulyadi

 

Ada pagi-pagi tertentu ketika kopi tidak lagi berfungsi sebagai minuman. Ia berubah menjadi semacam cermin kecil: memperlihatkan wajah kita yang masih mengantuk, pikiran yang belum selesai, dan hidup yang entah mengapa selalu merasa kekurangan waktu.

 

Pagi ini, kopiku tinggal ampas.

Tidak ada yang istimewa. Cangkir masih di atas meja. Sendok masih tergeletak di sampingnya. Aroma kopi perlahan menghilang, seperti janji yang terlalu sering diucapkan hingga kehilangan makna.

 

Aku memandangi ampas itu cukup lama.

Ternyata, ampas adalah bentuk paling jujur dari sebuah kopi.

Ketika masih penuh, kopi bisa membanggakan warna, aroma, dan kehangatannya. Tetapi setelah diminum, yang tertinggal hanyalah sesuatu yang dianggap tidak berguna.

 

Bukankah manusia juga begitu?

 

Kita sering dipuji ketika sedang berguna. Ketika masih punya jabatan, tanda tangan, kewenangan, dan kursi yang empuk, banyak orang datang membawa senyum yang ukurannya disesuaikan dengan kepentingan. Namun ketika kursi berpindah tangan, telepon mulai sepi.

 

Barangkali begitulah politik kehidupan bekerja: manusia tidak selalu dihargai karena dirinya, melainkan karena apa yang bisa diberikan oleh posisinya.


Kopiku tinggal ampas.

 

Aku jadi teringat pada mereka yang gemar berbicara tentang perubahan, tetapi takut mengubah kebiasaan sendiri.

 

Mereka menyerukan keadilan dari podium, sementara di bawah meja masih sibuk menghitung keuntungan.

 

Mereka berbicara tentang rakyat dengan suara penuh haru, seolah rakyat adalah puisi yang indah dibaca tetapi terlalu berat untuk benar-benar didengarkan.

 

Ada pula yang begitu rajin memamerkan kesederhanaan.

Fotolah yang sederhana.

Kata-katanya sederhana.

Bajunya sederhana.

Tetapi biaya untuk terlihat sederhana ternyata tidak sederhana.

 

Zaman kita memang unik.

Kemiskinan bisa menjadi konten.

Kesederhanaan bisa menjadi strategi pencitraan.

Bahkan kepedulian pun kadang membutuhkan kamera agar dianggap pernah terjadi.

 

Barangkali kita bukan kekurangan orang baik.

Kita hanya terlalu banyak orang yang ingin terlihat baik.

 

Ampas kopi mengajarkan satu hal yang sederhana: yang tersisa sering kali lebih jujur daripada yang tampak di awal.

 

Ketika seseorang kehilangan jabatan, kita bisa melihat siapa yang benar-benar menghormatinya.

Ketika seseorang tidak lagi memiliki uang, kita bisa melihat siapa yang masih mau duduk bersamanya.

Ketika tepuk tangan berhenti, kita bisa mengetahui apakah ia memang bekerja untuk kebaikan atau sekadar haus suara-suara yang memuja.

Sebab tepuk tangan adalah sesuatu yang mudah.

 

Keheninganlah yang sulit.

Di dalam keheningan, manusia bertemu dirinya sendiri.

Tidak ada kamera.

Tidak ada pengikut.

Tidak ada komentar.

Tidak ada kata luar biasa yang muncul dari layar.

Hanya diri sendiri dan pertanyaan yang sering kita hindari:

Setelah semua yang kita kejar habis, apa yang sebenarnya tinggal?

 

Mungkin itulah sebabnya aku tidak buru-buru membuang ampas kopi.

 

Ia memang tidak lagi memberikan rasa.

Tetapi ia memberi pelajaran.

Bahwa sesuatu tidak harus terus berguna untuk menjadi bermakna.

Bahwa akhir tidak selalu berarti kegagalan.

Bahwa sesuatu yang telah selesai diminum pun masih bisa meninggalkan jejak.

 

Dan mungkin manusia pun demikian.

 

Pada akhirnya, kita semua akan menjadi ampas dari sebuah perjalanan panjang.

Nama kita perlahan dilupakan.

Foto kita menguning.

Jabatan kita berganti.

Pidato kita kehilangan gema.

Bahkan orang-orang yang dulu berebut berdiri di samping kita mungkin sudah lupa pernah mengenal kita.

 

Lalu apa yang tersisa?

 

Mungkin bukan jabatan.

Bukan rumah.

Bukan kendaraan.

Bukan jumlah pengikut.

Melainkan cara kita pernah membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Cara kita menolong tanpa meminta disebut.

Cara kita berbicara kepada orang kecil tanpa merasa lebih besar.

Cara kita tetap waras ketika dunia memberi banyak kesempatan untuk menjadi licik.

 

Kopiku tinggal ampas.

 

Dan aku akhirnya tersenyum.

Ternyata hidup memang tidak selalu meminta kita menjadi kopi yang nikmat bagi semua orang.

 

Kadang-kadang kita hanya perlu menjadi manusia yang jujur terhadap rasa sendiri.

Pahit, ya pahit.

Manis, ya manis.

Tidak perlu menambahkan gula demi membuat semua orang menyukai kita.

Sebab terlalu sibuk menjadi manis di mata manusia bisa membuat kita lupa bertanya:

Apakah hidup kita masih punya rasa ketika tidak sedang dipertontonkan?

 

Aku mengangkat cangkir.

Kosong.

Di dasarnya, ampas masih menempel.

Seperti kenangan.

Seperti kesalahan.

Seperti keputusan-keputusan yang pernah kita sesali.

Tidak semuanya harus dibuang.

Sebagian cukup dipahami.

 

Sebab barangkali kedewasaan bukan tentang bagaimana menghindari kepahitan, melainkan bagaimana tetap duduk tenang setelah kopi habis lalu berkata kepada diri sendiri:

 “Tak apa. Yang penting, aku benar-benar pernah menikmati tegukannya.”

 

Karang Anjog, Medio Agustus 2026

 


Tentang Penulis:


Riswo Mulyadi, adalah seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi serta geguritan banyumasan. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama