Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Pesawatnya Terbang, tetapi Apakah Penumpangnya Bertumbuh?
Konon, pesawat terbang mempunyai black box.
Namanya saja black box. Warnanya malah oranye menyala.
Barangkali dunia penerbangan memang sejak dulu sudah memahami satu filosofi
penting pendidikan: jangan menilai sesuatu hanya dari namanya. Periksa
isinya.
Black box merekam data penerbangan dan percakapan di
kokpit. Kalau suatu hari penerbangan mengalami masalah, manusia bisa membuka
kembali rekamannya.
Pendidikan juga punya black box.
Namanya ruang kelas.
Bedanya, black box pesawat baru dicari ketika pesawat
mengalami kecelakaan.
Sedangkan black box pendidikan setiap hari sebenarnya
sudah terbuka.
Ia bernama kelas VIII-A, VIII-B, IX-A, dan seterusnya.
Di sanalah seluruh kebijakan pendidikan akhirnya
mendarat.
Kurikulum mendarat.
TKA mendarat.
SPMB mendarat.
Dapodik mendarat.
MBG mendarat.
Supervisi mendarat.
Rapor mendarat.
Bahkan jargon-jargon pendidikan yang terdengar gagah
dari podium pun akhirnya harus mendarat di papan tulis.
Dan ketika semuanya mendarat di ruang kelas, anak-anaklah yang menjadi penumpangnya.
Mari kita bayangkan sekolah sebagai sebuah maskapai
penerbangan.
Namanya:
Maskapai Pendidikan Indonesia.
Tujuannya sederhana: membawa anak-anak dari bandara
bernama masa kanak-kanak menuju bandara bernama kedewasaan.
Pesawatnya besar.Penumpangnya jutaan.Jadwal
penerbangannya padat.Bandaranya banyak.Menara pengawasnya banyak.Aplikasi
penerbangannya juga semakin canggih.Bahkan data penumpangnya semakin lengkap.
Kemendikdasmen sekarang memiliki Portal Data Pendidikan
yang menyajikan berbagai data tentang satuan pendidikan, peserta didik,
pendidik, kepala sekolah, rombongan belajar, lulusan, putus sekolah, dan
indikator pendidikan lainnya.Semuanya semakin digital.Hanya ada satu pertanyaan
kecil:
Apakah anak-anaknya juga semakin bertumbuh?
Nah.Pertanyaan kecil inilah yang kadang terasa besar.
KAPTEN DI KOKPIT
Dalam pesawat pendidikan, kepala sekolah adalah
kapten.
Ia tidak harus setiap saat memegang kemudi.Kalau setiap
saat memegang kemudi, kapan memeriksa mesin?Kapan melihat cuaca?Kapan
memastikan awak bekerja?Kapan memperhatikan penumpang?
Kapten yang baik justru harus mampu memastikan seluruh
penerbangan berjalan menuju tujuan.
Begitu pula kepala sekolah.Ia tidak cukup hanya pandai
membuat sekolah terlihat sibuk.Sekolah memang harus bergerak.
Tetapi bergerak tidak selalu berarti terbang.Ada
sekolah yang sangat sibuk.Rapatnya banyak.Kegiatannya banyak.Spanduknya
banyak.Dokumennya banyak.Foto kegiatannya banyak.Grup WhatsApp-nya bahkan lebih
banyak.
Tetapi pertanyaan paling sederhana kadang justru
terlupakan:
Anak-anak belajar apa hari ini?
Ini pertanyaan yang agak berbahaya.Sebab jawabannya tidak bisa selalu dibuat dalam bentuk tabel.
GURU: PILOT YANG BENAR-BENAR MENERBANGKAN
Kalau kepala sekolah adalah kapten, maka guru adalah
pilot penerbangan pembelajaran.
Kokpitnya adalah ruang kelas.Kemudinya adalah
kompetensi pedagogis dan profesional.
Navigasinya adalah tujuan pembelajaran.Bahan bakarnya
adalah semangat.Dan mungkin yang paling penting:
cintanya kepada anak-anak.
Guru bisa saja menguasai materi.Tetapi menguasai materi
belum tentu menguasai kelas.Guru bisa saja pintar.Tetapi kepintaran guru tidak
otomatis membuat murid menjadi pintar.
Guru bisa menjelaskan fotosintesis selama 40
menit.Tetapi kalau setelah 40 menit anak-anak hanya tahu bahwa fotosintesis
adalah proses pembentukan makanan pada tumbuhan, sementara mereka tidak pernah
diajak bertanya mengapa daun berwarna hijau, bagaimana cahaya bekerja, atau
mengapa tumbuhan penting bagi kehidupan, pesawat pembelajaran mungkin hanya
berputar-putar di atas bandara.
Mesinnya hidup.Pilotnya bekerja.Tetapi penerbangannya
tidak jauh-jauh.
CO-PILOT YANG SERING DIANGGAP PENUMPANG
Dalam penerbangan, co-pilot bukan pajangan.
Ia dapat menerbangkan pesawat, memantau instrumen,
berkomunikasi, menjalankan prosedur, dan mengambil alih kendali dalam kondisi
tertentu.
Dalam pendidikan, kita juga membutuhkan co-pilot.Wakil
kepala sekolah.Guru senior.Tim pengembang sekolah.Tenaga kependidikan.Orang
tua.Masyarakat.Dan yang paling menarik:
murid itu sendiri.
Sebab pendidikan yang berhasil seharusnya tidak membuat
anak selamanya menjadi penumpang.Anak harus belajar menjadi co-pilot atas
hidupnya sendiri.
Kalau selama dua belas tahun sekolah seorang anak hanya
diajari menunggu instruksi, menghafal jawaban, mengerjakan tugas, mengejar
nilai, kemudian bertanya, “Pak, yang keluar ujian apa?”, kita mungkin
perlu memeriksa black box.
Jangan-jangan pesawat pendidikan terlalu lama
mengajarkan anak menjadi penumpang.
KETIKA BLACK BOX BERTEMU TKA
Indonesia kini memiliki Tes Kemampuan Akademik atau
TKA. Pada 2026, TKA jenjang SD/MI dan SMP/MTs diikuti 98,12 persen peserta
pada jadwal utama. Hasilnya bahkan menghasilkan data dalam skala nasional.
Ini tentu bisa menjadi alat untuk membaca kemampuan
akademik.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan:
TKA merekam sebagian perjalanan. Bukan seluruh
kehidupan belajar anak.
Nilai dapat memberitahu kita sesuatu.
Tetapi nilai tidak bisa menceritakan semuanya.
Ia tidak selalu bisa menjelaskan anak yang sebenarnya
rajin tetapi kurang percaya diri.
Ia tidak selalu bisa menangkap anak yang pintar bekerja
sama.
Ia tidak selalu bisa membaca anak yang tumbuh dalam
keluarga penuh keterbatasan tetapi memiliki daya juang luar biasa.
Karena itu, angka penting.
Tetapi manusia jauh lebih luas daripada angka.
Jangan sampai black box pendidikan kita akhirnya hanya
berisi angka.
98. 87. 76. 64.
Lalu kita merasa sudah mengetahui seorang anak.
Padahal kita baru mengetahui sebagian dirinya.
DAPODIK: PESAWAT YANG TIDAK BOLEH KEHILANGAN DATA
Dunia pendidikan kita juga mengenal Dapodik.
Data harus benar.
Nama harus benar.
Tanggal lahir harus benar.
Rombel harus benar.
Guru harus benar.
Jumlah murid harus benar.
Karena pendidikan modern memang membutuhkan data yang
akurat.
Dalam pelaksanaan SPMB 2026/2027, misalnya, pemerintah
menggunakan data Dapodik untuk membantu pengendalian jumlah murid per rombongan
belajar dan daya tampung.
Bagus.
Tetapi ada satire kecil:
Kadang-kadang kita lebih takut salah mengetik data
murid daripada salah membaca kebutuhan murid.
Data harus valid.
Anak juga seharusnya valid sebagai manusia.
Jangan sampai Dapodik mengenali seorang anak sebagai:
NISN sekian.
Sedangkan guru tidak mengenalinya sebagai:
anak yang sedang kesulitan.
SPMB: SIAPA YANG BOLEH NAIK PESAWAT?
Kita juga punya SPMB.
Nama boleh berubah.
Sistem boleh diperbarui.
Jalur boleh diatur.
Ada domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi.
Pemerintah menekankan prinsip objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, dan
nondiskriminatif.
Ini semua penting.
Tetapi setelah anak berhasil naik ke pesawat,
pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Apakah kita sanggup menerbangkannya?
Jangan sampai perjuangan terbesar pendidikan hanya
terjadi di pintu keberangkatan.
Anak sudah diterima.Sudah mendapatkan seragam.Sudah
mendapatkan nomor induk.Sudah masuk Dapodik.Sudah masuk rombel.Sudah masuk grup
orang tua.
Lalu setelah itu?
Ia duduk di kelas.Hari berganti hari.Minggu berganti
minggu.Semester berganti semester.Dan suatu hari kita terkejut:
“Kok anak ini belum bisa?”
Barangkali bukan anaknya yang tiba-tiba tidak bisa.
Barangkali black box sebenarnya sudah merekamnya sejak
lama.
MBG DAN PERUT YANG TIDAK BOLEH LAPAR
Lalu datang pula MBG.Makan bergizi gratis.Secara
manusiawi, logikanya sederhana:
anak yang lapar sulit berkonsentrasi.
Kemendikdasmen pada 2026 melaporkan hasil evaluasi
terhadap lebih dari 1,2 juta responden murid dan menyebut sekolah penerima MBG
mengalami penurunan gangguan belajar akibat lapar yang lebih besar dibanding
sekolah yang belum menerima.
Maka kita bisa tersenyum.Tentu anak perlu makan.Tetapi
pendidikan tidak berhenti pada mengisi perut.
Setelah perut kenyang, kita masih punya pekerjaan:
mengisi kepala tanpa mengosongkan hati.
Anak perlu nasi.Tetapi juga perlu rasa ingin tahu.
Perlu protein.Tetapi juga perlu teladan.Perlu
sayur.Tetapi juga perlu kejujuran.Perlu buah.Tetapi juga perlu kesempatan untuk
bertanya:
“Mengapa?”
BLACK BOX TIDAK BISA DIBOHONGI
Ada satu hal menarik dari black box pesawat.
Ia tidak peduli apakah laporan penerbangan sudah bagus.
Ia tidak peduli apakah pilot sedang mendapat
penghargaan.
Ia tidak peduli apakah maskapai baru saja memasang
spanduk:
“Menuju Penerbangan Pendidikan Berkelas Dunia.”
Black box hanya merekam.Begitu pula ruang kelas.Ia
merekam semuanya.Guru yang mengajar dengan hati.Guru yang mengajar sekadarnya.
Kepala sekolah yang hadir sebagai pemimpin.Kepala
sekolah yang sibuk menjadi administrator.
Murid yang antusias.Murid yang kehilangan minat.Teman
yang saling membantu.Teman yang saling mengejek.Pertanyaan yang
dihargai.Pertanyaan yang dipatahkan.Kesalahan yang dijadikan kesempatan
belajar.Kesalahan yang justru dijadikan bahan mempermalukan.
Semua terekam.
Tidak selalu dalam bentuk suara.Kadang dalam bentuk
perubahan perilaku.Kadang dalam bentuk diam.Kadang dalam bentuk mata yang tidak
lagi berbinar ketika guru masuk kelas.Dan yang paling menyedihkan:
anak yang sudah berhenti berharap.
PESAWAT PENDIDIKAN TIDAK BOLEH HANYA TERLIHAT TERBANG
Pendidikan kita memiliki banyak instrumen.Ada
kurikulum.Ada asesmen.Ada TKA.Ada SPMB.Ada Dapodik.Ada supervisi.Ada rapor.Ada
berbagai program.
Semua diperlukan.
Tetapi instrumen adalah alat.Bukan tujuan.Jangan sampai
sekolah akhirnya seperti pesawat yang sangat modern:layarnya digital,radarnya
canggih,datanya lengkap,pilotnya berseragam rapi,pengumumannya terdengar
merdu,tetapi penumpangnya tidak pernah diberi tahu:
kita sebenarnya sedang menuju ke mana?
Maka mungkin sesekali kita perlu mematikan
layar.Menyimpan laptop.Menutup aplikasi.Meninggalkan meja administrasi.Masuk ke
kelas.Duduk di belakang.Diam.Lalu mendengarkan.Bukan mendengarkan guru.
Mendengarkan pendidikan.
Sebab bisa jadi suara paling penting justru berasal
dari anak yang tidak pernah berani mengangkat tangan.
DAN KETIKA SUATU HARI BLACK BOX DIBUKA...
Bayangkan dua puluh tahun lagi.
Anak-anak yang sekarang duduk di kelas sudah menjadi
orang dewasa.
Black box pendidikan mereka dibuka.Bukan oleh inspektur
kecelakaan.Bukan oleh auditor.Bukan oleh pejabat.Tetapi oleh kehidupan.
Lalu terdengar rekaman:
“Di sekolah itu saya pernah merasa bodoh.”
“Di sekolah itu saya pernah takut bertanya.”
“Di sekolah itu saya pernah menemukan guru yang percaya
kepada saya.”
“Di sekolah itu saya pertama kali tahu bahwa saya
ternyata bisa.”
“Di sekolah itu saya belajar bukan hanya tentang IPA,
matematika, bahasa, atau IPS.”
“Di sana saya belajar menjadi manusia.”
Semoga rekaman terakhir itulah yang paling banyak
terdengar.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pesawat
pendidikan bukan seberapa indah badan pesawatnya.
Bukan seberapa lengkap dokumennya.Bukan seberapa banyak
fotonya.Bukan seberapa canggih aplikasinya.Bukan pula seberapa panjang laporan
penerbangannya.
Ukuran paling sederhana adalah:
Apakah penumpangnya sampai di tujuan dengan membawa
kemampuan untuk menerbangkan kehidupannya sendiri?
Kalau jawabannya iya, kita boleh tersenyum.
Tetapi kalau ternyata pesawat pendidikan sudah terbang
bertahun-tahun dan penumpangnya masih menunggu seseorang berkata,
“Sekarang boleh berpikir.”
barangkali sudah waktunya kita membuka black box.
Pelan-pelan.Tanpa menyalahkan siapa-siapa.
Sebab mungkin di dalam sana tidak ada suara ledakan.
Tidak ada alarm.Tidak ada kepanikan.Hanya terdengar
suara seorang anak bertanya:
“Pak, kapan kita benar-benar mulai belajar?”
Dan justru pertanyaan sederhana itulah yang paling
ngilu.
Ajibarang, 23 Sept 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA SMP di Banyumas, dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
Posting Komentar