Transformasi Asesmen Pendidikan: Ratusan Guru Purwokerto Utara Pertajam Kemampuan Menyusun Soal Bermakna

PURWOKERTO, INFO BANYUMAS.COM — Kelompok Kerja Guru (KKG) Guru Kelas Gugus Ki Hajar Dewantara dan Gugus Untung Suropati Purwokerto Utara menggelar agenda Hari Belajar Guru pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan yang terpusat di SD Muhammadiyah Purwokerto tersebut berlangsung secara produktif sejak pukul 12.30 hingga 15.00 WIB dengan melibatkan ratusan tenaga pendidik.


Pertemuan strategis ini difokuskan sebagai ruang belajar bersama dalam memperkuat kapasitas guru untuk menghadirkan instrumen evaluasi pembelajaran yang jauh lebih komprehensif, relevan, serta berbobot.


Panitia mengusung tema “Dari Soal Biasa Menjadi Soal Bermakna: Penguatan Literasi, Numerasi, dan HOTS dalam Asesmen” guna menjawab kebutuhan peningkatan kualitas evaluasi belajar.


Tema tersebut dipilih untuk mendorong para pendidik agar mampu melampaui metode penilaian konvensional dan beralih ke penyusunan instrumen yang mengukur potensi murid secara berimbang.


Penguatan literasi, numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) menjadi pokok bahasan utama yang dibedah secara mendalam sepanjang forum berlangsung.


Acara dibuka secara resmi oleh Korwilcam Dindik Purwokerto Utara, Bapak Djahid, S.Pd.SD., yang menekankan krusialnya budaya belajar berkelanjutan di kalangan para pendidik. Korwilcam Dindik Purwokerto Utara tersebut menggarisbawahi bahwa guru dituntut untuk selalu melakukan evaluasi internal serta refleksi mendalam terhadap seluruh rangkaian proses mengajar.


Bapak Djahid, S.Pd.SD., menyatakan bahwa pembenahan praktik pembelajaran di dalam kelas harus berawal dari komitmen pendidik untuk terus memperbarui wawasan dan teknik pengajarannya.


“Seorang guru harus terus belajar dan tidak berhenti melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang diterapkan, termasuk dalam penyusunan instrumen asesmen,” ujar Djahid.


Sesi pendampingan materi menghadirkan narasumber Korwilcam Dindik Lumbir, Arifin Nur Hayadi, S.Pd., M.Pd., yang secara intensif membimbing peserta meretas paradigma baru penyusunan soal. Narasumber memaparkan gagasan bahwa asesmen sejatinya bukan sekadar alat pengumpul angka, melainkan sarana stimulasi agar murid terbiasa bernalar logis serta memecahkan masalah.


Arifin Nur Hayadi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pandangan kunci yang menjadi bahan perenungan bersama bagi seluruh tenaga pendidik yang hadir dalam ruangan tersebut.


“Mengubah cara kita menilai adalah langkah pertama mengubah cara murid kita belajar,” pukas Arifin di hadapan ratusan peserta yang antusias menyimak pemaparannya.


Ia menyoroti bahwa soal yang dirancang dengan stimulus kontekstual akan memaksa siswa membaca secara kritis, memahami konteks, dan melatih logika berpikir tingkat tinggi secara alami.


Penggunaan instrumen evaluasi yang tepat diyakini mampu mengubah alur pembelajaran di kelas menjadi lebih hidup, interaktif, serta berorientasi pada pemahaman konsep yang mendalam.


Para peserta tidak sekadar menyimak materi teoretis, melainkan langsung diterjunkan dalam lokakarya pembuatan stimulus soal berbasis masalah kehidupan nyata yang aplikatif dan menantang.


Materi pelatihan juga membedah implementasi Taksonomi Barrett guna membantu pendidik memetakan tingkat pemahaman membaca murid dari jenjang sederhana hingga tingkat lanjut.


Penguasaan Taksonomi Barrett ini diarahkan agar guru dapat merumuskan pertanyaan yang presisi dan tidak terjebak pada hafalan teks semata saat menyusun lembar ujian. Selain itu, pendalaman terhadap pembagian kriteria soal Lower Order Thinking Skills (LOTS), Middle Order Thinking Skills (MOTS), dan HOTS dikupas secara mendetail.


Pemahaman proporsional mengenai ketiga tingkatan tersebut sangat dibutuhkan agar komposisi ujian yang dibuat guru menjadi lebih adil, bervariasi, dan terukur. Melalui simulasi praktik ini, para pendidik didorong untuk mampu memproduksi instrumen asesmen yang kontekstual, menantang, serta merangsang daya nalar siswa di sekolah masing-masing.


Kegiatan Hari Belajar Guru ini sekaligus menjadi wadah kolaborasi antar pendidik untuk saling melempar gagasan, berbagi pengalaman, dan mengevaluasi kendala asesmen selama ini. Sinergi antar gugus ini diharapkan mampu memicu efek domino positif dalam mengerek standar kompetensi profesionalisme guru di wilayah Purwokerto Utara secara merata.


Para guru diharapkan membawa pulang cara pandang baru dalam merancang asesmen, sehingga pengalaman belajar yang dirasakan oleh peserta didik di kelas turut mengalami perubahan.


Ikhtiar kolektif melalui forum KKG ini menjadi bukti nyata komitmen dunia pendidikan setempat untuk terus bertransformasi demi menghadirkan mutu pembelajaran yang berdampak panjang.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama