![]() |
| Sumber Dokumentasi: Model Pendampingan Sekolah Banyumas yang Padukan Pendekatan Humanis dan Teknologi |
Gagasan tersebut dikembangkan Dra. Wiwi Parluki, M.Pd., pengawas sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, melalui sebuah model pendampingan bernama MENDOAN. Model tersebut memadukan pendekatan humanis dengan pemanfaatan teknologi digital untuk membantu sekolah mengenali kebutuhan, menentukan prioritas, menjalankan perbaikan, serta melihat hasilnya berdasarkan kondisi nyata.
MENDOAN merupakan akronim dari Menguatkan, Eksplorasi, Nyata, Digital, Optimalisasi, Adaptif, dan Numerasi. Ketujuh unsur tersebut menjadi rangkaian pendekatan dalam membangun pendampingan yang lebih dekat dengan kebutuhan sekolah.
Baca juga:
- Lumbir Bikin Geger Jambore Karang Taruna 2026, Empat Piala Dibawa Pulang, Prestasi Pemuda Makin Gemilang
- Rapat Koordinasi Tim Pengembang Pramuka Garuda Kwarran Lumbir, 462 Calon Siap Ikuti Tahapan Seleksi
Di dalam model tersebut, literasi ditempatkan sebagai bagian yang melekat dalam proses pendampingan. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengajukan pertanyaan, menelaah persoalan, membedakan fakta dan dugaan, serta menggunakan informasi sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Wiwi memandang setiap sekolah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendampingan tidak dapat dilakukan dengan pola yang seragam. Kondisi sekolah perlu dipahami terlebih dahulu melalui dialog, observasi, data, dan pengalaman warga sekolah.
Situation, Mengenali Kondisi Sekolah
Tahap pertama dalam pendekatan STAR adalah Situation, yakni mengenali situasi atau kondisi yang sedang dihadapi sekolah. Tahap tersebut menjadi pintu masuk sebelum menentukan tindakan.
Dalam praktiknya, pengawas perlu memberikan ruang kepada kepala sekolah dan guru untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, maupun kebutuhan mereka. Pendekatan tersebut menempatkan sekolah sebagai mitra yang memiliki pengalaman dan potensi, bukan sekadar pihak yang menerima instruksi.
Persoalan pembelajaran, misalnya, tidak langsung dijawab dengan solusi yang sama untuk semua sekolah. Data hasil belajar, kondisi siswa, kemampuan guru, sarana prasarana, hingga lingkungan sekolah perlu dilihat secara utuh.
Teknologi juga ditempatkan sebagai alat pendukung. Kehadiran aplikasi atau platform digital tersebut tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Teknologi akan memberikan manfaat ketika digunakan untuk membantu pekerjaan, mengakses informasi, mengelola data, memantau perkembangan, dan mendukung pengambilan keputusan.
Literasi dan numerasi pun dihadirkan dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan siswa. Membaca tabel, memahami grafik, menghitung kebutuhan, membandingkan harga, hingga menggunakan data untuk menentukan pilihan menjadi bagian dari pembelajaran yang kontekstual.
Task, Mengubah Masalah Menjadi Prioritas
Setelah kondisi sekolah dipahami, tahap berikutnya adalah Task, yaitu menentukan tugas, prioritas, dan langkah yang perlu dilakukan.
Pada tahap tersebut, kebutuhan yang telah ditemukan tidak berhenti sebagai catatan atau rekomendasi. Sekolah diajak menerjemahkannya menjadi rencana yang lebih konkret. Apa yang perlu dilakukan, siapa yang terlibat, sumber daya apa yang tersedia, serta indikator keberhasilannya perlu dirumuskan secara jelas.
Pendampingan diarahkan agar sekolah semakin mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Tujuannya bukan menciptakan ketergantungan kepada pengawas, tetapi membangun kemampuan kepala sekolah dan guru untuk menemukan, menjalankan, serta mengevaluasi solusi.
Guru juga mendapatkan ruang untuk melakukan eksplorasi. Strategi pembelajaran dapat dicoba, diamati, kemudian direfleksikan bersama untuk mengetahui bagian yang sudah efektif dan bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
Action, Menjalankan Tujuh Unsur MENDOAN
Tahap ketiga adalah Action, yakni menjalankan langkah yang telah direncanakan. Pada tahap tersebut, tujuh unsur MENDOAN menjadi arah dalam proses pendampingan.
Menguatkan berarti membangun kemampuan sekaligus kepercayaan diri kepala sekolah dan guru. Eksplorasi berarti mencari informasi dan memahami persoalan sebelum menentukan solusi. Nyata berarti pendampingan berangkat dari masalah yang benar-benar dihadapi sekolah.
Selanjutnya, Digital menempatkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat pekerjaan. Wiwi memanfaatkan sejumlah sarana digital, antara lain Si PEMODU, Si CANTIK, pintukaihwiwi.com, dan Pendikar.
Salah satunya adalah PINTU KAIH, sarana pemantauan pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di sekolah binaan yang juga menyediakan panduan bagi pendidik, sekolah, dan orang tua.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap membutuhkan kemampuan literasi. Guru dan warga sekolah perlu mampu memeriksa sumber informasi, memahami isi, serta memilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.
Optimalisasi berarti memanfaatkan sumber daya yang telah dimiliki sekolah, mulai dari pengalaman guru, buku, fasilitas, komunitas belajar, lingkungan sekitar, hingga dukungan orang tua.
Sementara Adaptif berarti sekolah terbuka terhadap perubahan. Strategi yang berhasil di satu sekolah belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di sekolah lain. Karena itu, sekolah perlu mencoba, mengamati, mengevaluasi, kemudian menyesuaikan langkah berdasarkan kondisi yang dihadapi.
Adapun Numerasi diarahkan untuk membangun kemampuan menggunakan angka, data, dan informasi kuantitatif dalam memahami persoalan serta mengambil keputusan.
Result, Mengukur Perubahan dan Dampak
Tahap terakhir dalam STAR adalah Result, yakni melihat hasil dari tindakan yang telah dilakukan.
Hasil pendampingan tidak selalu harus berupa pencapaian besar. Perubahan sederhana yang terjadi secara konsisten juga menjadi bagian dari keberhasilan. Guru yang mulai menggunakan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa, kepala sekolah yang semakin mampu membaca data, meningkatnya keterlibatan siswa, atau semakin tertibnya pemanfaatan teknologi merupakan perubahan yang dapat diamati.
Hasil tersebut perlu didukung bukti. Data hasil belajar, catatan refleksi, hasil observasi, kehadiran siswa, produk pembelajaran, dokumentasi kegiatan, maupun umpan balik siswa dapat menjadi bahan evaluasi.
Dengan cara tersebut, pendampingan tidak hanya didasarkan pada kesan. Sekolah dapat membandingkan kondisi sebelum dan sesudah tindakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi.
Jika sebuah strategi memberikan hasil positif, langkah tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan. Sebaliknya, apabila hasilnya belum sesuai harapan, kondisi tersebut menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki strategi.
MENDOAN dan STAR, Pendampingan yang Bergerak dalam Siklus
Penggabungan MENDOAN dan STAR membuat proses pendampingan memiliki alur yang lebih jelas. MENDOAN menjadi pendekatan dan nilai yang dibawa dalam pendampingan, sedangkan STAR menjadi alur kerja untuk menerjemahkannya menjadi tindakan dan hasil yang dapat diamati.
Siklus tersebut tidak berhenti pada Result. Setelah melihat hasil, sekolah kembali membaca kondisi untuk menentukan langkah berikutnya. Dengan demikian, Situation–Task–Action–Result menjadi siklus perbaikan berkelanjutan.
Pendampingan pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak arahan yang diberikan pengawas, melainkan seberapa jauh sekolah mampu mengenali persoalan, menentukan prioritas, mengambil tindakan, membaca hasil, dan melakukan perbaikan secara mandiri.
Wiwi menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Teknologi digunakan untuk memperkuat pekerjaan, bukan menggantikan peran manusia. Literasi dan numerasi juga tidak berdiri sendiri, tetapi dihidupkan dalam keseharian sekolah.
MENDOAN menjadi ikhtiar untuk mendampingi sekolah dengan hati, sementara STAR memberikan alur agar pendampingan bergerak secara sistematis: mengenali kondisi, menentukan langkah, bertindak, melihat hasil, dan kembali belajar untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik.

Posting Komentar