Pendampingan Berbasis Temu Kombel Adaptif (TKA) untuk Mengatasi Kendala Penerapan Deep Learning di Korwilcam Dindik Wangon

 



Situasi

Saat menjalankan tugas pengawasan di Korwilcam Dindik Wangon, Penulis menemukan banyak kendala nyata terkait penerapan Kurikulum Merdeka, terutama pada pembelajaran mendalam (deep learning) dan keaktifan guru di Komunitas Belajar (Kombel). Hasil observasi kelas, pemantauan rutin, dan pendataan awal menunjukkan bahwa kondisi di sekolah-sekolah binaan masih jauh dari harapan.


Rata-rata implementasi deep learning di wilayah Wangon hanya mencapai 34,4%. Secara rinci: Kombel Majapahit 35%, Merah Putih 30%, Mutiara Gading 40%, Garuda 35%, dan Tunas Bangsa 32%. Sebagian besar guru masih kesulitan mengubah cara mengajar dari sekadar menyelesaikan materi (hafalan dan pemahaman tingkat rendah) menjadi pembelajaran yang mendorong penalaran kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah yang bermakna. Mereka kesulitan merancang pengalaman belajar yang memicu pemikiran mendalam murid, mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, serta membuat asesmen yang benar-benar mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills).


Masalah ini diperparah dengan rendahnya partisipasi guru di kegiatan Kombel, yang rata-rata hanya 55% (Majapahit 56%, Merah Putih 50%, Mutiara Gading 55%, Garuda 60%, dan Tunas Bangsa 58%). Kombel belum berfungsi optimal sebagai tempat kolaborasi dan refleksi. Kegiatan yang ada seringkali terasa formal, administratif, dan kurang adaptif terhadap masalah nyata yang dihadapi guru di kelas. Guru-guru cenderung menghadapi tantangan mengajar sendirian tanpa ruang diskusi yang aman, terstruktur, dan fokus pada solusi.


Gaya pendampingan pengawas selama ini juga belum sepenuhnya menyentuh akar masalah praktis di kelas. Rendahnya angka implementasi deep learning dan partisipasi Kombel ini berpotensi besar menghambat terciptanya pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada murid di wilayah Korwilcam Dindik Wangon.


Untuk mengatasi hal tersebut, Penulis menerapkan inovasi pendampingan bernama Temu Kombel Adaptif (TKA). Inovasi ini mengubah peran pengawas dari sekadar pengontrol administratif menjadi pendamping yang fasilitatif, kolaboratif, dan responsif terhadap kebutuhan nyata guru.


Dalam pelaksanaannya, TKA mengintegrasikan tiga aspek utama. Pertama, fleksibilitas dan respons cepat: Penulis mengumpulkan isu-isu spesifik yang dihadapi guru (seperti kesulitan membuat pertanyaan pemantik, merancang studi kasus, atau mengintegrasikan penalaran tingkat tinggi), lalu menyesuaikan agenda pertemuan agar benar-benar menjawab kebutuhan mereka. Kedua, menciptakan iklim diskusi yang hangat, terbuka, dan non-evaluatif. Penulis berperan sebagai fasilitator yang memandu guru saling berbagi pengalaman, melakukan simulasi mengajar (peer teaching), dan membahas hambatan secara bersama tanpa rasa takut. Ketiga, di akhir sesi Penulis memberikan umpan balik konstruktif dan mendampingi penyusunan rencana aksi yang akan diterapkan di kelas, kemudian direfleksikan lagi di pertemuan berikutnya.


Dengan cara ini, pendampingan menjadi lebih hidup, fleksibel, dan langsung berdampak pada peningkatan kemampuan guru dalam menghadirkan pembelajaran mendalam.


Praktik baik TKA ini penting karena beberapa alasan. Pertama, deep learning membutuhkan perubahan paradigma mengajar yang mendasar. Guru tidak cukup hanya menyelesaikan materi, tetapi harus mampu merancang pengalaman belajar yang mendorong penalaran kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Perubahan seperti ini sulit terjadi jika guru bekerja sendiri tanpa pendampingan yang intensif dan responsif. Kedua, pendekatan adaptif mampu memecah kekakuan dan kepasifan Kombel yang selama ini cenderung seremonial. Dengan TKA, pengawas tidak lagi membawa agenda seragam atau instruksi dari atas, melainkan solusi atas masalah konkret yang sedang dihadapi guru. Fleksibilitas ini terbukti meningkatkan keterlibatan dan keaktifan guru dalam berkolaborasi dan berbagi praktik baik. Ketiga, praktik ini mengubah persepsi terhadap pengawas. Pengawas tidak lagi dilihat sebagai penilai administratif yang menakutkan, melainkan sebagai pendamping, fasilitator, dan rekan berpikir (thought partner). Lingkungan yang aman dan non-evaluatif membuat guru lebih berani mengakui kesulitan, belajar dari kesalahan, dan mencoba inovasi baru.


Pada akhirnya, ketika guru terbantu memahami dan menerapkan strategi deep learning, murid-murid di Korwilcam Dindik Wangon akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna, relevan, dan berpusat pada pengembangan potensi mereka.

 

Tantangan

Dalam menerapkan TKA, Penulis menghadapi beberapa tantangan nyata. Tantangan pertama adalah zona nyaman dan pola pikir konvensional sebagian guru. Mengubah kebiasaan dari metode hafalan (surface learning) menuju deep learning yang menuntut penalaran kritis membutuhkan komitmen besar. Banyak guru masih kesulitan menyusun pertanyaan pemantik, merasa terbebani merancang studi kasus, atau membuat asesmen HOTS, sehingga muncul resistensi awal terhadap perubahan.


Tantangan kedua adalah rendahnya budaya refleksi dan keterbukaan di dalam Kombel. Guru belum terbiasa menyampaikan kendala mengajar secara terbuka di depan rekan sejawat maupun pengawas karena khawatir dianggap kurang kompeten. Oleh karena itu, di sesi-sesi awal Penulis harus bekerja ekstra untuk mencairkan suasana dan membangun rasa aman secara psikologis (psychological safety) agar diskusi bisa berjalan hangat dan fokus pada solusi.


Tantangan ketiga adalah manajemen waktu dan penyesuaian jadwal antar-sekolah. Wilayah Korwilcam Dindik Wangon mencakup banyak sekolah dengan agenda internal yang padat. Menyelaraskan waktu untuk sesi TKA yang fleksibel dan berkelanjutan menjadi kendala logistik tersendiri. Penulis harus cermat merancang pola pendampingan yang adaptif tanpa mengganggu jam tatap muka guru maupun program prioritas sekolah.


Keberhasilan TKA tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. Penulis menjalankan peran ganda sebagai Koordinator Korwilcam Dindik Wangon sekaligus Pengawas Sekolah. Posisi ini memungkinkan Penulis bertindak sebagai pembuat kebijakan yang memberikan legitimasi program, sekaligus sebagai fasilitator dan coach di lapangan yang merancang alur TKA, mencairkan suasana, memberikan umpan balik, dan memastikan setiap pertemuan menghasilkan solusi nyata.


Di tingkat sekolah, Kepala Sekolah berperan sebagai motor penggerak yang memfasilitasi kebutuhan logistik, menyelaraskan jadwal, dan memberikan dukungan kebijakan agar guru bisa berpartisipasi optimal. Ketua dan Pengurus Kombel menjadi mitra penting dalam memetakan isu-isu mendesak, mengoordinasikan jadwal, serta mengawal keberlanjutan diskusi antar-guru di luar sesi resmi. Sementara itu, para guru sendiri adalah subjek utama: merekalah yang secara terbuka menyampaikan kendala, saling berbagi praktik baik, melakukan peer teaching, dan berkomitmen menerapkan rencana aksi di kelas masing-masing. Integrasi peran Penulis sebagai pimpinan korwilcam dan pengawas terbukti efektif memotong jalur birokrasi yang kaku, sehingga kolaborasi berjalan lebih cepat, terstruktur, dan berkelanjutan.

 

Aksi

Untuk menjalankan TKA secara terstruktur, Penulis menempuh tiga tahap utama: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi berkelanjutan.


Tahap Persiapan dan Pengondisian Kebijakan. Sebagai Koordinator Korwilcam, Penulis mulai dengan menerbitkan kebijakan dan arahan strategis terkait penguatan Kombel di seluruh sekolah binaan. Penulis menyelenggarakan rapat koordinasi bersama Kepala Sekolah dan Ketua Kombel untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya deep learning dan mengenalkan konsep TKA. Pada tahap ini Penulis juga memetakan kendala awal guru melalui asesmen kebutuhan singkat. Data tersebut menjadi dasar untuk merancang agenda pendampingan yang responsif, bukan seragam.


Tahap Pelaksanaan Pendampingan (TKA). Penulis secara langsung mendampingi sesi TKA di sekolah-sekolah binaan sebagai fasilitator dan coach. Suasana dibuat informal, cair, dan aman. Kegiatan diawali dengan bedah kasus riil dari pengalaman mengajar guru, dilanjutkan dengan penguatan materi singkat yang aplikatif (cara membuat pertanyaan pemantik, merancang studi kasus, dan desain asesmen HOTS). Kemudian Penulis memandu sesi peer teaching dan simulasi mini, di mana guru saling memberi masukan konstruktif. Di akhir sesi, setiap guru menyusun rencana aksi individual yang akan dipraktikkan di kelas masing-masing.


Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut. Setelah sesi TKA, Penulis melakukan pemantauan berkala melalui observasi kelas untuk melihat sejauh mana rencana aksi diterapkan. Penulis memberikan umpan balik yang menguatkan dan mencatat perkembangan maupun kendala baru. Catatan tersebut kemudian menjadi bahan refleksi di sesi TKA berikutnya, sehingga proses belajar guru berjalan berkesinambungan dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.


Dalam pelaksanaannya, Penulis mengintegrasikan kepemimpinan transformasional dan pendampingan fasilitatif. Strategi pertama adalah Pengondisian Ekosistem dan Kebijakan Adaptif. Penulis memanfaatkan kewenangan sebagai Koordinator untuk membangun komitmen bersama di tingkat wilayah. Materi pendampingan tidak lagi ditetapkan secara top-down, melainkan dinamis (bottom-up) berdasarkan analisis kebutuhan aktual guru di masing-masing sekolah.


Strategi kedua adalah Penciptaan Ruang Diskusi Aman dan Kolaboratif (Psychological Safety Strategy). Penulis mengubah gaya supervisi dari penilaian yang menghakimi menjadi ruang dialog yang edukatif. Dalam sesi TKA Penulis hadir sebagai fasilitator dan thought partner, bukan sebagai penguji. Dengan cara ini jarak hierarkis mencair, guru merasa aman mengakui kesulitan, terbuka mengevaluasi diri, dan antusias berbagi praktik baik tanpa rasa canggung.


Strategi ketiga adalah Pendampingan Berbasis Siklus Aksi-Refleksi (Action-Reflection Cycle). Penulis tidak berhenti pada teori, melainkan mendorong guru melakukan simulasi, menyusun rencana aksi, dan mempraktikkannya di kelas. Setiap praktik diikuti pengamatan dan umpan balik konstruktif, kemudian direfleksikan kembali di sesi TKA berikutnya. Siklus ini memastikan perubahan kualitas mengajar terjadi secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.


Sumber daya yang digunakan dioptimalkan dari yang sudah ada. Penulis mengombinasikan kewenangan sebagai Koordinator dan Pengawas bersama Kepala Sekolah serta Pengurus Kombel, tanpa perlu membentuk struktur baru. Kegiatan memanfaatkan ruang diskusi sekolah, sarana digital seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan grup WhatsApp, serta alokasi dana operasional yang efisien. Waktu pelaksanaan disesuaikan dengan jadwal rutin Kombel agar tidak mengganggu jam mengajar.


Pelaksanaan TKA berjalan terstruktur sejak Januari 2026 hingga saat ini. Untuk menjaga efektivitas, Penulis menetapkan skema berjenjang: Selasa untuk guru kelas 1–2, Rabu untuk kelas 3–4, dan Kamis untuk kelas 5–6. Jika bertepatan dengan libur nasional, jadwal dialihkan secara fleksibel sesuai kesepakatan.


Proses dimulai dengan pemetaan masalah (kesulitan merancang pertanyaan pemantik, studi kasus, dan asesmen penalaran tingkat tinggi). Hasil pemetaan menjadi dasar agenda setiap sesi. Selama TKA berlangsung, suasana dibuat cair dan non-evaluatif. Penulis mendorong guru menyampaikan kendala secara terbuka, memberikan penguatan materi singkat, memandu peer teaching, dan mendampingi penyusunan rencana aksi. Kemudian dilanjutkan dengan observasi kelas dan umpan balik personal.   Temuan baru diangkat kembali sebagai bahan refleksi di sesi berikutnya, sehingga siklus pendampingan tetap dinamis dan berkelanjutan.

 

Dampak dan Refleksi

Dampak

Penerapan TKA sejak Januari 2026 membawa perubahan positif yang nyata. Kompetensi guru dalam menerapkan deep learning dan partisipasi di Kombel meningkat signifikan, seperti terlihat pada tabel berikut:

 

No

Nama Kombel

Implementasi

deep learning

Partisipasi Kombel

Sebelum

Sesudah

Sebelum

Sesudah

1

Majapahit

(9 sekolah)

35%

82%

56%

98%

2

Merah Putih

(9 sekolah)

30%

80%

50%

96%

3

Mutiara Gading

(9 sekolah

40%

90%

55%

100%

4

Garuda

(9 sekolah)

35%

85%

60%

100%

5

Tunas Bangsa

(9 sekolah)

32%

88%

58%

98%

 

Rata-rata

34,4%

85%

55%

98,4%

 

Angka-angka ini menunjukkan bahwa pendekatan fasilitatif, fleksibel, dan responsif melalui TKA mampu mengubah kultur kolaborasi guru secara masif. Guru tidak hanya lebih aktif hadir di Kombel, tetapi juga memiliki kapasitas dan kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam menerapkan pembelajaran mendalam yang berpusat pada murid.


Dampak langsung pada murid adalah terciptanya suasana belajar yang lebih interaktif dan berpusat pada murid. Murid menjadi lebih berpikir kritis dan aktif berdiskusi. Peran ganda Penulis sebagai Koordinator dan Pengawas terbukti efektif membangun sistem pendampingan yang responsif dan berkelanjutan.

 

Refleksi

Melalui implementasi TKA, Penulis menyadari bahwa kunci transformasi pembelajaran di sekolah bukan terletak pada pola pengawasan yang ketat, melainkan pada pola pendampingan yang responsif dan memanusiakan. Peran ganda sebagai Koordinator Korwilcam dan Pengawas Sekolah sangat efektif ketika otoritas kebijakan dikombinasikan dengan pendekatan coaching yang luwes dan empatik.


Keberhasilan menciptakan ruang diskusi yang aman (psychological safety) pada jadwal Kombel mingguan menjadi pembelajaran berharga: guru akan sangat terbuka untuk berkembang ketika mereka tidak merasa dinilai secara kaku. Fleksibilitas agenda yang disesuaikan dengan kebutuhan riil guru jauh lebih berdampak dibanding mendiktekan materi seragam yang terlepas dari konteks kelas.


Ke depan, penting untuk menjaga konsistensi jadwal berjenjang dan komitmen kolaborasi yang sudah terbangun. Evaluasi berkala akan terus dilakukan agar TKA dapat dilembagakan secara permanen, sehingga budaya belajar berkelanjutan di Korwilcam Dindik Wangon tetap terjaga secara mandiri dan berkesinambungan.







Post a Comment

Lebih baru Lebih lama