INFO BANYUMAS – Dunia pendidikan tinggi kini berada di persimpangan jalan yang menarik. Jika dahulu kampus cukup mengandalkan brosur cetak, spanduk pinggir jalan, dan sosialisasi konvensional ke sekolah-sekolah menengah, saat ini fenomena tersebut telah berubah drastis. Calon mahasiswa baru (maba) yang mayoritas berasal dari Generasi Z (Gen Z) menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang digital, khususnya platform media sosial berbasis video pendek seperti TikTok.
Menurut Dimock (2019) dari Pew Research Center, Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1997 dan berakhir pada tahun 2012 dimana fase ini menunjukkan kemajuan sosioekonomi yang lebih stabil dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Generasi ini memiliki nama lain seperti iGeneration karena sangat akrab dengan dunia digital (Hardey, 2007). Menurut Kamil dan Laksmi (2023) Generasi Z (Gen Z) adalah kelompok demografi masyarakat yang hidup sebelum generasi alfa dan setelah generasi milenial lahir. Tahun ini diperkirakan generasi tertua Gen Z berumur 29 tahun dan yang termuda adalah 14 tahun.
Fenomena maba Gen Z ini menuntut institusi pendidikan untuk bertransformasi dari entitas akademik yang kaku menjadi komunikator digital yang adaptif dan fleksibel. Pemasaran kampus (campus marketing) tidak lagi sekadar soal "menjual akreditasi", melainkan bagaimana membangun kedekatan emosional dan relevansi kultural dengan audiens muda melalui platform media sosial khususnya TikTok.
Menurut Bapak Achmat Adnan Ganes, S.T., M.T. selaku Ketua Panitia PMB Kampus STT Migas Cilacap, TikTok sangat berperan dalam menarik minat calon mahasiswa di era digitalisasi karena saat ini masyarakat sangat tertarik dengan kemudahan memperoleh informasi yang bisa menjangkau seluruh pelosok dan banyak kalangan. Strategi pemasaran salah satunya juga mengikuti gaya trend anak muda masa kini di dunia media sosial, agar konten pemasaran perguruan tinggi dapat diterima dan menarik minat calon mahasiswa baru untuk mendaftar dengan materi konten yang berbobot dan berisi. Materi konten tersebut biasanya berupa profil kampus, kegiatan akademik, UKM, prospek kerja, dan konten lainnya dikemas dengan bentuk yang menarik dan berbeda dari strategi pemasaran sebelumnya sekaligus membangun branding kampus.
Membuat konten yang kreatif di TikTok saja tidak cukup hanya sampai ke proses mengunggah saja, akan tetapi apakah bisa konten tersebut menembus algoritma TikTok? Seperti halnya sayur tanpa garam akan hambar rasanya jika konten kampus tidak berhasil menembus algoritma Tiktok dan menjadikannya FYP (For You Page).
Menurut Tambunan (2025) algoritma TikTok adalah sistem pembelajaran mesin yang menggunakan berbagai sinyal untuk menentukan video mana yang paling relevan bagi setiap pengguna. Algoritma ini bertugas untuk mempelajari preferensi pengguna dan menampilkan konten yang diprediksi akan disukai atau menarik bagi mereka. TikTok mengumpulkan data perilaku pengguna saat mereka berinteraksi dengan konten di platform, seperti memberi like, mengomentari, atau membagikan video. Algoritma ini kemudian menganalisis pola tersebut untuk memahami minat pengguna dan menyesuaikan konten yang ditampilkan.
Menurut Mubarak (2025) personalisasi konten di platform TikTok telah menciptakan pengalaman pengguna yang unik melalui fitur For You Page (FYP). FYP adalah sistem rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (AI) ini dirancang untuk mempelajari preferensi pengguna secara real-time, sehingga mampu menyajikan konten yang relevan dengan minat mereka. Algoritma TikTok menggunakan data tontonan, interaksi, dan pola penggunaan sebagai parameter utama, memberikan pengalaman menjelajah platform yang nyaman dan menyenangkan. Keunggulan ini menjadi salah satu daya tarik utama TikTok dalam menciptakan keterlibatan mendalam dengan audiensnya. Itulah sebabnya pembuatan konten untuk menarik Gen Z sebagai calon maba memerlukan konten yang kreatif dengan strategi pemasaran yang diharapkan mampu menembus algoritma TikTok dan menjadikannya FYP di platform media sosial Gen Z sebagai calon maba.
Dalam Digital and Social Media Marketing, keberhasilan sebuah merek (brand) sangat ditentukan oleh kemampuan meramu strategi yang terintegrasi. Merujuk pada kerangka kerja pemasaran digital (digital marketing framework), aktivitas pemasaran harus melalui tahapan AIDA (Attention, Interest, Desire, Action), yang artinya setiap tahap AIDA memiliki peran penting dalam membentuk efektivitas promosi (Oky Bakti Wiarso et all, 2026).
Kotler & Armstrong (2012) menjelaskan teori AIDA (Attention, Interest, Desire, and Action) sebagai pesan yang harus mendapat perhatian, tertarik, dan mengambil tindakan. Teori ini menyampaikan kualitas pesan yang baik. Perilaku konsumen mempengaruhi keputusan pembelian yang pada awalnya memengaruhi tahapan keputusan pembelian dan respons konsumen terhadap iklan.
Attention (Awareness): Menarik perhatian audiens di tengah banjirnya informasi digital. TikTok dengan algoritmanya yang berbasis For You Page (FYP) adalah instrumen ampuh untuk menciptakan attention instan.
Interest: Membangkitkan ketertarikan calon mahasiswa terhadap atmosfer akademik, fasilitas, maupun kehidupan kampus.
Desire: Menumbuhkan keinginan kuat bahwa kampus tersebut adalah pilihan terbaik yang mampu mewujudkan mimpi mereka.
Action: Mendorong mereka untuk mengambil tindakan nyata, seperti mengunjungi website pendaftaran mahasiswa baru (PMB) atau mengisi formulir pendaftaran.
Bagaimana kampus dapat menerjemahkan prinsip-prinsip pemasaran digital ke dalam konten TikTok yang sukses? Berikut adalah bedah strateginya berdasarkan pilar-pilar komunikasi modern yaitu:
Gen Z memiliki "radar iklan" yang sangat sensitif; mereka langsung mengabaikan konten yang bersifat promosi satu arah atau kaku ala brosur konvensional. Kampus yang sukses di TikTok bukanlah kampus yang terus-menerus memamerkan piala atau brosur biaya kuliah, melainkan yang menyajikan konten menghibur—seperti tren komedi keseharian mahasiswa, vlog kehidupan asrama, atau sisi unik dosen di kelas. Pendekatan ini membuat audiens engage (terikat) secara personal.
TikTok bukan sekadar tempat melucu, melainkan media edukasi yang kuat. Kampus dapat membangun kredibilitas institusi dengan membagikan konten edukatif yang bernilai tinggi: tips memilih jurusan, trik menghadapi ujian akhir semester, informasi beasiswa, hingga bedah riset dosen dengan bahasa yang mengikuti trend dan mudah dipahami. Melalui edukasi yang konsisten, rasa percaya (trust) calon mahasiswa akan tumbuh dengan sendirinya.
Sebagai media berbasis video pendek, TikTok menuntut kreativitas visual yang tinggi. Kampus perlu berpikir layaknya publisher profesional—menyajikan visual yang estetik, transisi yang dinamis, serta narasi audio yang kuat. Tampilan visual yang dinamis terbukti jauh lebih menarik Gen Z dibandingkan narasi teks yang panjang.
Konten TikTok tidak boleh berdiri sendiri sebagai pulau terisolasi. Dalam konsep multichannel marketing, TikTok harus berfungsi sebagai corong utama (top-of-funnel) untuk mendulang traffic yang kemudian diarahkan ke website resmi kampus, landing page PMB, atau database pendaftaran. Integrasi yang mulus antara konten viral TikTok dan kemudahan akses informasi di situs web kampus adalah kunci konversi yang sukses.
Interaksi di TikTok bersifat dua arah. Kampus harus aktif merespons komentar, mengikuti tren partisipatif, dan mendengarkan aspirasi maupun pertanyaan calon mahasiswa. Kolaborasi dengan influencer lokal kampus (seperti mahasiswa berprestasi atau content creator kampus) juga menjadi strategi niche yang sangat efektif untuk memperluas jangkauan.
Strategi pemasaran kampus di era TikTok tidak bisa lagi mengacu kepada strategi lama seperti brosur cetak, spanduk pinggir jalan, dan sosialisasi konvensional ke sekolah-sekolah menengah, melainkan seberapa cerdas dan kreatif institusi memahami strategi marketing saat ini, psikologi Gen Z sebagai calon maba dan strategi menembus algoritma TikTok sehingga konten tersebut akan FYP di beranda target market kampus dalam waktu lama. Strategi pemasaran sudah tidak lagi berfokus pada seberapa besar biaya akan tetapi perpaduan dari beberapa poin tersebut.
Dengan memadukan prinsip Entertain, Don't Market dan Educate, Don't Sell, serta mengintegrasikannya dalam ekosistem digital yang utuh, kampus tidak hanya sekadar mendapatkan mahasiswa baru yang tertarik dengan kampus tetapi juga membangun citra merk (branding) kampus yang modern, relevan, dan berkelanjutan di masa depan.
Daftar Pustaka
Dimock, M. (2019, January 17). Defining generations: Where Millennials end and Generation Z begins. Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/short-reads/2019/01/17/where-millennials-end-and-generation-z-begins/
Hardey, M. (2007). Going live: Converging mobile technology and the sociability of the iGeneration. M/C Journal, 10(1). https://doi.org/10.5204/mcj.2609
Kaleb, S., & Samuel, J. (2021). Pengaruh attention, interest, desire, action (AIDA) terhadap efektivitas iklan Spotify. Journal of Accounting and Business Studies, 6(2), 22–37. https://doi.org/10.61769/jabs.v6i2.545
Kamil, R., & Laksmi. (2023). Generasi Z, pustakawan dan vita activa kepustakawanan. BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi, 25–34. https://doi.org/10.55981/baca.2023.1119
Kotler, P., & Armstrong, G. (2012). Prinsip-prinsip pemasaran (Edisi ke-13, Jilid 1). Erlangga.
Mubarak, A. M. A. (2025). Analisis implementasi teknologi artificial intelligence pada sistem rekomendasi konten TikTok: Studi kasus personalisasi For You Page. Jurnal Sains & Teknologi, 1(1), 18–27. https://doi.org/10.65369/c7dnqc47
Tambunan, F. R. (2025, May 10). Cara kerja algoritma TikTok: Mengungkap teknologi di balik feed yang sangat adiktif. BINUS University, School of Computer Science. https://socs.binus.ac.id/2025/05/10/cara-kerja-algoritma-tiktok-mengungkap-teknologi-di-balik-feed-yang-sangat-adiktif/
Wiarso, O. B., Bhakti, H. R., Amirudin, M., Pamungkas, C. D. A. B., & Setiawan, I. (2026). Strategi digital marketing melalui media sosial TikTok dengan pendekatan AIDA (Studi kasus: Lavanya.Wo). Jurnal Sains Student Research (JSSR), 4(1), 707–717.
Penulis:
1. Dianita Prihandini, S.H.
2. Zesi Azzahra, S.E.
3. Ina Syafinatuz Zahro, S.M.
4. Mohamad Romdlon S, S.KM.
Mahasiswa Magister Manajemen, Universitas Wijayakusuma Purwokerto
Editor: Yusep Kurniawan
Red. Info Banyumas

Posting Komentar