Sekolah Semakin Terhubung, Guru Semakin Terasing
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Di sebuah sekolah pinggiran, jam pertama dimulai bukan
dengan sapaan guru, melainkan dengan pencarian sinyal. Beberapa murid berdiri
di dekat jendela, mengangkat ponsel setinggi mungkin, berharap ikon jaringan
berubah dari E menjadi 4G. Beberapa murid yang lain menunggu giliran memakai
satu gawai milik orang tua, yang malam sebelumnya dipakai bekerja hingga
baterainya tinggal separuh.
Di papan tulis, guru sudah menulis tujuan pembelajaran hari
itu. Ia paham betul bahwa belajar seharusnya dimulai dari perjumpaan. Namun
sistem berkata lain: presensi digital harus diisi, materi harus diunggah, dan
laporan aktivitas harus masuk sebelum jam tertentu. Kelas belum sepenuhnya
hidup, tetapi administrasi sudah menuntut selesai.
Inilah wajah digitalisasi pendidikan di banyak sekolah
pinggiran: terhubung ke sistem, tetapi terputus dari kenyataan.
Pembelajaran Bergantung pada Kuota
Di dalam kelas, teknologi tidak hadir sebagai pilihan
pedagogis, melainkan sebagai syarat administratif. Guru IPA ingin mengajak
murid mengamati lingkungan sekitar sekolah—parit, kebun kecil, kolam ikan yang
nyaris kering. Namun modul digital meminta unggahan video, lembar kerja daring,
dan bukti foto.
Akhirnya, observasi nyata dipersingkat. Yang penting ada
unggahan. Yang penting sistem membaca “aktivitas terlaksana”. Murid belajar
satu hal yang tidak tertulis di kurikulum: belajar bukan lagi soal memahami,
melainkan soal membuktikan bahwa sesuatu telah dilakukan.
Digitalisasi menggeser makna belajar dari proses menjadi
arsip.
Guru: Di Antara Mengajar dan Melayani Sistem
Seorang guru di sekolah pinggiran mengajar delapan kelas.
Jam mengajarnya penuh, napasnya pendek, tetapi pekerjaannya belum selesai
ketika bel pulang berbunyi. Di rumah, ia membuka laptop bukan untuk menyiapkan
refleksi pembelajaran, melainkan untuk mengunggah laporan: rencana,
pelaksanaan, evaluasi semuanya dalam format digital yang berbeda-beda.
Teknologi dijanjikan sebagai alat efisiensi. Kenyataannya,
ia menjadi perpanjangan tangan birokrasi.
Guru tidak lagi bertanya, “Apakah murid saya paham?”
melainkan, “Apakah data saya sudah valid?”
Pada titik tertentu, guru berhenti berdebat dengan sistem.
Mereka patuh, bukan karena setuju, tetapi karena lelah.
Inilah tragedi kultural digitalisasi: ketika kepatuhan
menggantikan kesadaran.
Sekolah Pinggiran: Etalase yang Tak Pernah Dikunjungi
Sekolah pinggiran sering dijadikan objek kebijakan, tetapi
jarang menjadi subjek perumusan. Program digital datang dengan standar yang
sama: platform yang sama, target yang sama, tenggat yang sama. Tidak ada ruang
bertanya apakah sekolah punya listrik stabil, jaringan layak, atau sumber daya
manusia yang siap.
Ketika target tidak tercapai, sekolah dianggap “belum
adaptif”. Padahal yang tidak adaptif justru kebijakan yang menolak mengenali
konteks.
Digitalisasi dalam model seperti ini bukan pembangunan
ekosistem, melainkan pemaksaan struktur. Sekolah dipaksa menyesuaikan diri
dengan sistem yang tidak pernah lahir dari realitas mereka.
Belajar Digital: Pintar Mengklik, Gagap Membaca Dunia
Di kelas lain, murid mampu menyelesaikan kuis daring dengan
cepat. Nilai terekam rapi, grafik kemajuan terlihat meyakinkan. Namun ketika
ditanya tentang persoalan di sekitar mereka—sampah, air bersih, pekerjaan orang
tua—kelas mendadak sunyi.
Pendidikan digital terlalu sering melahirkan siswa yang
terampil secara teknis, tetapi tumpul secara sosial. Mereka belajar teknologi
tanpa diajak merenungi dampaknya. Kurikulum sibuk mengejar keterampilan, tetapi
lupa menumbuhkan kebijaksanaan.
Menolak Patuh Tanpa Makna
Perlawanan yang diperlukan hari ini bukan demonstrasi
menolak teknologi, melainkan keberanian menolak digitalisasi yang meniadakan
manusia. Perlawanan kultural hadir ketika guru memilih memperlambat proses demi
pemahaman, meski sistem menuntut kecepatan.
Ia hadir ketika sekolah berani mengatakan: tidak semua yang
digital itu mendidik. Tidak semua yang terukur itu bermakna. Tidak semua yang
rapi itu adil.
Perlawanan ini sunyi, tetapi penting. Ia menjaga agar
pendidikan tidak sepenuhnya jatuh menjadi urusan server dan spreadsheet.
Menggugat Arah, Bukan Menolak Zaman
Esai ini tidak menolak masa depan, hanya menggugat arah.
Digitalisasi seharusnya menjadi alat untuk memperluas kemanusiaan, bukan
menguranginya.
Jika sekolah hanya sibuk mengejar koneksi, tetapi kehilangan
koneksi batin; jika guru sibuk melayani sistem, tetapi tak lagi punya waktu
menemani murid; maka pendidikan kita memang sedang maju—tetapi maju menjauh
dari hakikatnya.
Di tengah dunia yang semakin digital, mungkin tugas
pendidikan yang paling radikal justru sederhana: tetap berpihak pada
manusia.
Ajibarang, 29 Desember 2025
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia
.jpeg)
Posting Komentar