LUMBIR, INFO BANYUMAS – Bencana tanah longsor yang mengakibatkan satu unit rumah amblas dilaporkan terjadi di wilayah Grumbul Cilombang RT 03 RW 08, Desa Lumbir, Kecamatan Lumbir pada Kamis (8/1/2026). Peristiwa yang terjadi di kawasan perbukitan tersebut memicu kerusakan serius pada struktur bangunan dan mengancam keselamatan warga di sekitarnya.
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, luas tanah yang mengalami pergeseran memiliki dimensi panjang sekitar 20 meter dengan lebar mencapai 6,5 meter. Longsoran tersebut dipicu oleh tebing setinggi 35 meter yang berada tepat di belakang organisasi warga setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Merespons kejadian tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Lumbir segera melakukan koordinasi cepat dengan berbagai pemangku kepentingan untuk melakukan langkah penyelamatan. Sinergi ini dilakukan untuk memastikan warga yang terdampak segera mendapatkan bantuan logistik dan tempat bernaung yang lebih aman dari ancaman longsor susulan.
Pihak kepolisian dari Polsek Lumbir bersama personel TNI dari Koramil Lumbir dikerahkan ke lokasi untuk membantu pengamanan daerah dan evakuasi barang-barang milik korban. Kehadiran aparat tersebut bertujuan untuk sterilisasi zona berbahaya agar warga tidak mendekati titik tanah yang masih labil.
BPBD Kabupaten Banyumas juga telah turun ke lokasi bencana untuk melakukan asesmen teknis terkait risiko pergerakan tanah lebih lanjut. Langkah tersebut diambil sebagai penentuan dasar kebijakan apakah lokasi terdampak masih layak pemukiman atau harus dilakukan relokasi secara permanen.
Partisipasi aktif warga masyarakat setempat dalam membantu tetangga yang tertimpa musibah menunjukkan solidaritas sosial yang kuat di tengah bencana. Selain itu, pihak Perhutani juga terlibat dalam penanganan ini mengingat lokasi geografis Grumbul Cilombang yang bertepatan langsung dengan kawasan hutan.
Dukungan personel tambahan datang dari Pramuli Kwarran Lumbir melalui tim Unit Reaksi Cepat (URC) yang membantu pembersihan material dan pendistribusian bantuan. Kehadiran relawan pramuka ini menjadi elemen penting dalam mempercepat proses mitigasi di lapangan yang memiliki medan cukup berat.
Instansi terkait seperti Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) serta Dinas Sosial (Dinsos) kini tengah melakukan pendataan lebih lanjut. Koordinasi tersebut mencakup rencana pemberian bantuan perbaikan perumahan serta penyediaan bantuan pangan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Agus Prihatin, S.Pd., selaku personil Unit Reaksi Cepat (URC) Pramuli Kwarran Lumbir, memberikan keterangannya secara langsung di lokasi kejadian. “Kami segera merapat ke titik bencana di Grumbul Cilombang begitu mendapatkan laporan adanya rumah yang amblas akibat pergerakan tanah,”
Ia menjelaskan bahwa kondisi di lapangan cukup menurun karena dimensi longsoran yang cukup besar dan curam. “Dengan panjang retakan 20 meter dan ketinggian tebing mencapai 35 meter, risiko longsor susulan tetap menjadi kewaspadaan utama kami bersama tim gabungan,” lanjut Agus.
Agus juga menyampaikan pentingnya kolaborasi antara relawan dan instansi resmi dalam menangani dampak bencana ini. “Kami dari Pramuli fokus membantu warga mengevakuasi harta benda yang masih bisa diselamatkan sebelum tanah semakin ambles lebih dalam,” jelasnya.
Menurut Agus, cuaca yang masih belum diketahui di wilayah Kecamatan Lumbir menjadi tantangan tersendiri bagi lawan. “Hujan yang masih sering turun membuat struktur tanah di RT 03 RW 08 ini sangat jenuh udara, sehingga mobilitas di lokasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini seluruh pihak yang terlibat telah berbagi peran agar penanganan bisa berjalan lebih efektif dan terukur. “Ada yang fokus pada pengamanan jalur, ada yang pada bantuan sosial, dan kami di URC memastikan mitigasi fisik berjalan sesuai komando dari BPBD,” kata Agus lagi.
Agus Prihatin juga menghimbau kepada masyarakat sekitar Grumbul Cilombang untuk tetap waspada, terutama saat hujan turun lebih dari dua jam. “Kami meminta warga untuk segera mengungsi sementara jika melihat ada retakan baru, keselamatan nyawa harus menjadi prioritas utama di atas segalanya,” tegasnya.
Penanganan bencana tersebut diperkirakan akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan, menunggu hasil kajian teknis dari Dinperkim dan BPBD terkait stabilitas tanah di lokasi tersebut.

Posting Komentar