Menempa Patriot Muda di Markas Prajurit: SMPN 3 Karanglewas Perkuat Karakter Siswa Melalui Perkemahan Bela Negara di Yonif 405

KARANG LEWAS, INFO BANYUMAS – Dalam upaya mencetak generasi muda yang memiliki ketangguhan mental dan integritas tinggi, SMP Negeri 3 Karangle menggelar program inovatif bertajuk Perkemahan Bela Negara Tahun Ajaran 2026. Sebanyak 43 siswa terpilih yang merupakan representasi dari kelas VII dan VIII mengikuti kegiatan intensif yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (17–18 Januari 2026). Bertempat di markas militer Kompi Senapan B Yonif 405/Surya Kusuma, kegiatan ini didesain khusus untuk mentransformasi perilaku siswa melalui pola pelatihan terpadu yang memadukan kedisplinan ala militer dengan kurikulum pendidikan karakter sekolah.


Pihak sekolah menegaskan bahwa pemilihan lokasi di barak tentara bertujuan untuk memberikan suasana yang berbeda dan jauh lebih menantang dibandingkan lingkungan sekolah biasa. Program pelatihan karakter tersebut sengaja dirancang untuk menanamkan nilai-nilai fundamental seperti disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, serta rasa cinta tanah air yang mendalam melalui kolaborasi strategi bersama personel TNI. Melalui metode ini, para siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga menanamkan langsung gaya hidup yang teratur dan penuh dedikasi di bawah pengawasan instruktur profesional.


“Kami mengusung tema 'Membangun Jiwa Pemimpin Kreatif, Cerdas, dan Bertanggung Jawab dengan Meningkatkan Disiplin Siswa dan Semangat Belajar' pada agenda tahun ini. Kami ingin para siswa memiliki bekal kuat untuk menjadi pemimpin masa depan,” ujar Kepala SMPN 3 Karanglewas, Mayasari Sasmito, S.Kom., M.Kom., saat meninjau langsung pelaksanaan kegiatan di lokasi.


Selama akhir pekan tersebut, kurikulum latihan yang diterima peserta sangatlah padat dan beragam. Para siswa mendapatkan materi pelatihan komprehensif yang meliputi Peraturan Baris Berbaris (PBB), Tata Cara Upacara (TUP), materi kepemimpinan, hingga kegiatan outbond yang menguji ketangkasan fisik. Penekanan utama dari seluruh rangkaian agenda tersebut tetap bermuara pada karakter pendidikan, di mana setiap gerakan dan instruksi mengandung filosofi tentang ketaatan dan kerja sama tim.


Mayasari menjelaskan bahwa tantangan zaman bagi generasi Z memerlukan pendekatan yang lebih tegas namun tetap edukatif. Ia memandang bahwa interaksi langsung dengan personel TNI akan memberikan kesan mendalam bagi para siswa mengenai makna pengabdian kepada negara. Harapannya, sekembalinya mereka ke sekolah, ke-43 siswa ini mampu menjadi motor penggerak bagi rekan-rekan mereka yang lain dalam hal menciptakan dan semangat belajar.


“Kegiatan ini tidak hanya melatih fisik secara lahiriah, tetapi juga membentuk mental, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, serta rasa cinta tanah air yang kuat di dalam dada setiap siswa,” tutur Mayasari dengan nada penuh keyakinan.


Pelaksanaan pelatihan diserahkan sepenuhnya kepada para ahli dari Yonif 405/Surya Kusuma. Sebanyak enam personel TNI yang memiliki jejak panjang dalam pelatihan generasi muda diterjunkan untuk membimbing para siswa secara intensif dan terstruktur. Para pelatih tersebut adalah Sertu Bahrul Ulum, Koptu Santoso, Praka Ardian Yoyok, Praka Sepri Dwi Cahyo, Praka Muh. Yusri, dan Pratu Salman, yang masing-masing memegang peranan penting dalam mengawasi setiap dinamika kelompok.


Keputusan sekolah untuk menggunakan jasa pelatih dari TNI tersebut didasarkan pada kebutuhan akan standardisasi kedisiplinan yang tinggi. Para pelatih memastikan bahwa setiap detik yang dihabiskan siswa di area Kompi Senapan B memiliki nilai edukasi, mulai dari cara berpakaian yang rapi, cara berbicara yang sopan kepada atasan, hingga cara menjaga kebersihan lingkungan asrama. Hal ini merupakan bagian dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang ingin dicapai oleh manajemen sekolah.


“Kami merasa bangga bisa terlibat dalam pembentukan karakter adik-adik ini. Mereka adalah aset bangsa, dan menanamkan nilai bela negara sejak dini adalah investasi jangka panjang untuk ketahanan mental bangsa kita,” ungkap Sertu Bahrul Ulum mewakili tim pelatih.


Kehidupan mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi para remaja kelas VII dan VIII ini. Selama berkemah, mereka dipaksa keluar dari zona nyaman dan dibiasakan untuk mengatur waktu secara mandiri namun tetap dalam pengawasan ketat. Transformasi tersebut terlihat jelas dalam perubahan pola harian mereka, mulai dari keharusan bangun pagi sebelum fajar menyingsing, mengikuti rangkaian kegiatan yang menguras energi, hingga pengelolaan waktu makan dan istirahat yang sangat terbatas.


Kedisiplinan waktu menjadi aspek perubahannya yang paling dirasakan oleh para peserta. Jika biasanya di rumah atau di sekolah mereka memiliki kelonggaran, di markas Yonif 405, setiap keterlambatan memiliki konsekuensi logistik berupa pelatihan fisik ringan atau teguran yang mendidik. Hal ini secara tidak langsung memicu adrenalin dan rasa solidaritas antarpeserta untuk saling mengingatkan satu sama lain agar tidak ada yang tertinggal dalam mengikuti ritme latihan.


“Latihannya sangat disiplin dan cukup berat bagi kami yang belum terbiasa. Bayangkan saja, makan saja pakai waktu dan harus cepat, tidak boleh bersantai-santai seperti di rumah,” ungkap Figi Rahmadani, salah satu peserta kelas VIII D, menggambarkan aturan ketatnya selama di barak.


Meskipun harus melewati berbagai rintangan fisik dan tekanan waktu, raut wajah para siswa tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka seolah menemukan jati diri baru sebagai calon pemimpin yang tangguh. Bagi mereka, pengalaman tidur di asrama militer dan mengikuti instruksi para prajurit adalah cerita berharga yang tidak akan didapat di ruang kelas konvensional.


Figi menambahkan bahwa rasa lelah yang dirasakan sebanding dengan ilmu dan pengalaman baru yang didapat. Ia merasa lebih menghargai waktu dan menjadi lebih peduli terhadap teman sejawatnya setelah mengikuti simulasi kepemimpinan dan outbond yang menuntut kekompakan tim.


“Capek tapi seneng banget. Saya jadi paham bahwa untuk menjadi disiplin itu butuh perjuangan, dan ternyata saya bisa melakukannya jika dipaksa dan dibiasakan,” tutur Figi singkat sambil menyeka keringat setelah sesi PBB.


Kesuksesan terselenggaranya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan penuh jajaran pimpinan Yonif 405/Surya Kusuma. Pihak sekolah mengapresiasi fasilitas dan bimbingan yang diberikan, sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan aman, tertib, dan tanpa kendala berarti. Keamanan siswa menjadi prioritas utama selama mereka berada di lingkungan militer, dengan pengawasan medis dan logistik yang terjaga dengan baik.


Dalam penutupan upacara, suasana haru dan bangga menggalang upacara saat para siswa menerima ucapan selamat dari para instruktur. Pihak sekolah berharap jalinan kerja sama dengan institusi militer ini dapat terus berlanjut di masa depan sebagai bagian dari program tahunan yang berkelanjutan. Transformasi yang ditunjukkan oleh 43 siswa tersebut diharapkan menjadi bukti nyata bahwa lingkungan yang tepat dapat mempercepat pembentukan karakter unggul.


“Atas nama sekolah, kami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Komandan Batalyon Infanteri 405 Surya Kusuma Kompi Senapan B yang menghadirkan DANKI Kapt.Inf.Tatang dan BAPEL Sersan Bahrul serta seluruh jajaran pelatih.Kami titipkan pesan kepada anak-anak, jadilah pelajar yang disiplin, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan mampu menjadi teladan bagi teman-temanmu,” pungkas Mayasari menutup pernyataan resminya.

Perkemahan Bela Negara ini berakhir dengan penyerahan kembali siswa dari pihak Yonif 405 kepada pihak SMPN 3 Karanglewas. Meski hanya berlangsung singkat, jejak kedisiplinan yang ditanamkan di Kompi Senapan B diharapkan tetap membekas dalam setiap tindakan para siswa saat kembali ke lingkungan masyarakat dan keluarga. Kini, 43 patriot muda ini siap kembali ke bangku sekolah dengan semangat baru dan jiwa kepemimpinan yang lebih matang untuk menghadapi tantangan masa depan.

Kontributor : Rery Mei

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama