Sekolah yang Selalu Baik-Baik Saja

 


Sekolah yang Selalu Baik-Baik Saja

 Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

 

Rapat evaluasi itu nyaris selalu berjalan mulus. Terlalu mulus, bahkan.

Ruangan rapi. LCD menyala. Grafik berwarna tampil percaya diri. Angka-angka bergerak naik, atau setidaknya tidak tampak jatuh. Semua terlihat terkendali.

Kalimat penutupnya pun nyaris selalu sama:

“Secara umum program berjalan dengan baik, meskipun masih perlu peningkatan.”

Kalimat itu aman. Tidak menyudutkan siapa pun. Tidak memancing tanya lanjutan. Dan yang terpenting: tidak menimbulkan masalah baru.

Rapat selesai. Notulen dikirim. Evaluasi dianggap tuntas.

Padahal, beberapa jam sebelumnya, di sebuah ruang kelas, ada cerita lain yang tak pernah ikut dipresentasikan.

 

Adegan yang Tidak Pernah Masuk Slide

 

Seorang guru berdiri di depan kelas dengan modul di tangan. Modul itu bagian dari program unggulan sekolah program yang di laporan tahunan diberi tanda “terlaksana”. Di papan tulis tertulis tujuan pembelajaran yang rapi.

Di bangku-bangku siswa, kenyataannya lebih acak.

Dua siswa sibuk dengan ponsel di balik meja.

Satu siswa memandangi jendela, entah berharap bel pulang lebih cepat.

Seorang siswa tertidur, kepalanya menekan tas.

Guru tetap melanjutkan. Ia tahu ini bukan pemandangan baru. Ia juga tahu, nanti sore, dokumentasi kegiatan sudah cukup untuk membuktikan bahwa program berjalan.

Secara administratif, semua benar.

Secara pendidikan, ada yang kosong.

Namun kekosongan seperti ini tidak pernah dicatat sebagai temuan. Tidak ada kolomnya. Tidak ada indikatornya. Terlalu nyata untuk birokrasi yang gemar merapikan kenyataan.

 

Evaluasi yang Rajin, Refleksi yang Absen

 

Sekolah-sekolah hari ini sangat rajin mengevaluasi. Data dikumpulkan, diolah, dan disajikan dengan bahasa yang cermat. Hampir tidak ada laporan yang berani mengatakan “gagal”. Yang ada hanya “belum optimal”.

Bahasa “belum optimal” adalah jalan tengah yang licin. Ia terdengar jujur, tetapi tidak pernah benar-benar membuka masalah. Ia mengakui kekurangan, tanpa harus menunjuk sebab. Ia menghindari pertanyaan paling penting: siapa yang salah, dan keputusan apa yang keliru?

Refleksi sejati memang tidak ramah terhadap birokrasi. Ia menuntut keberanian menyebut hal yang tidak populer. Ia bisa membuat rapat menjadi sunyi. Ia berpotensi merusak harmoni semu yang selama ini dijaga.

Maka refleksi sering dikerdilkan menjadi analisis data. Dijinakkan menjadi rekomendasi normatif. Dipastikan tidak ada kalimat yang bisa menimbulkan “catatan”.

 

Akhir Tahun Ajaran yang Sibuk Menyapu Jejak

 

Akhir semester dan akhir tahun ajaran seharusnya menjadi waktu paling jujur bagi sekolah. Waktu untuk bercermin, bukan sekadar berbenah tampilan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya.

Semua sibuk menutup.

Menutup laporan.

Menutup kekurangan.

Menutup pertanyaan.

Rencana tahun depan disusun cepat, sering kali dengan pola lama. Program lama berganti nama. Kegiatan lama diganti judul. Masalah lama ikut pindah, tanpa pernah dibongkar.

Sekolah tampak bergerak, tetapi sesungguhnya hanya berputar.

 

Birokrasi yang Tak Suka Cermin

 

Masalahnya bukan pada kurangnya evaluasi. Sekolah sudah terlalu sering dievaluasi. Masalahnya adalah refleksi yang dianggap terlalu berisiko. Terlalu jujur. Terlalu berpotensi “menyulitkan”.

Padahal sekolah bukan runtuh karena kritik internal. Sekolah justru rapuh ketika semua sepakat bahwa semuanya baik-baik saja.

Ketika kelas sunyi tapi laporan riuh.

Ketika guru lelah tapi grafik stabil.

Ketika siswa jenuh tapi program dinyatakan berhasil.

Di titik itulah pendidikan berubah menjadi ilusi yang dikelola rapi.

 

Catatan Kecil yang Tidak Nyaman

 

Tulisan ini bukan seruan heroik. Hanya catatan kecil dari pinggir. Bahwa evaluasi yang tidak disertai refleksi hanyalah hitung-hitungan. Dan refleksi yang dihindari demi kenyamanan birokrasi, perlahan menggerogoti makna pendidikan itu sendiri.

Barangkali, suatu hari nanti, di sebuah rapat evaluasi, ada yang berani mematikan proyektor. Membiarkan grafik menghilang. Lalu bertanya dengan jujur, meski berisiko:

Apa yang sebenarnya tidak berjalan, dan mengapa kita terus berpura-pura sebaliknya?”

Jika pertanyaan itu sempat membuat ruangan sunyi, mungkin justru di sanalah pendidikan mulai berbicara dengan suara aslinya.

 

Ajibarang, 7 Januari 2026



Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru  IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

2 Komentar

  1. Keren...jadi yakin bahwa selama ini saya tidak jujur ketika refleksi. Salam hormat Bapak!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama