Sekolah yang Selalu Baik-Baik Saja
Rapat evaluasi itu nyaris selalu berjalan mulus. Terlalu
mulus, bahkan.
Ruangan rapi. LCD menyala. Grafik berwarna tampil percaya
diri. Angka-angka bergerak naik, atau setidaknya tidak tampak jatuh. Semua
terlihat terkendali.
Kalimat penutupnya pun nyaris selalu sama:
“Secara umum program berjalan dengan baik, meskipun masih
perlu peningkatan.”
Kalimat itu aman. Tidak menyudutkan siapa pun. Tidak
memancing tanya lanjutan. Dan yang terpenting: tidak menimbulkan masalah baru.
Rapat selesai. Notulen dikirim. Evaluasi dianggap tuntas.
Padahal, beberapa jam sebelumnya, di sebuah ruang kelas, ada
cerita lain yang tak pernah ikut dipresentasikan.
Adegan yang Tidak Pernah Masuk Slide
Seorang guru berdiri di depan kelas dengan modul di tangan.
Modul itu bagian dari program unggulan sekolah program yang di laporan tahunan
diberi tanda “terlaksana”. Di papan tulis tertulis tujuan pembelajaran yang
rapi.
Di bangku-bangku siswa, kenyataannya lebih acak.
Dua siswa sibuk dengan ponsel di balik meja.
Satu siswa memandangi jendela, entah berharap bel pulang
lebih cepat.
Seorang siswa tertidur, kepalanya menekan tas.
Guru tetap melanjutkan. Ia tahu ini bukan pemandangan baru.
Ia juga tahu, nanti sore, dokumentasi kegiatan sudah cukup untuk membuktikan
bahwa program berjalan.
Secara administratif, semua benar.
Secara pendidikan, ada yang kosong.
Namun kekosongan seperti ini tidak pernah dicatat sebagai
temuan. Tidak ada kolomnya. Tidak ada indikatornya. Terlalu nyata untuk
birokrasi yang gemar merapikan kenyataan.
Evaluasi yang Rajin, Refleksi yang Absen
Sekolah-sekolah hari ini sangat rajin mengevaluasi. Data
dikumpulkan, diolah, dan disajikan dengan bahasa yang cermat. Hampir tidak ada
laporan yang berani mengatakan “gagal”. Yang ada hanya “belum optimal”.
Bahasa “belum optimal” adalah jalan tengah yang licin. Ia
terdengar jujur, tetapi tidak pernah benar-benar membuka masalah. Ia mengakui
kekurangan, tanpa harus menunjuk sebab. Ia menghindari pertanyaan paling
penting: siapa yang salah, dan keputusan apa yang keliru?
Refleksi sejati memang tidak ramah terhadap birokrasi. Ia
menuntut keberanian menyebut hal yang tidak populer. Ia bisa membuat rapat
menjadi sunyi. Ia berpotensi merusak harmoni semu yang selama ini dijaga.
Maka refleksi sering dikerdilkan menjadi analisis data.
Dijinakkan menjadi rekomendasi normatif. Dipastikan tidak ada kalimat yang bisa
menimbulkan “catatan”.
Akhir Tahun Ajaran yang Sibuk Menyapu Jejak
Akhir semester dan akhir tahun ajaran seharusnya menjadi
waktu paling jujur bagi sekolah. Waktu untuk bercermin, bukan sekadar berbenah
tampilan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya.
Semua sibuk menutup.
Menutup laporan.
Menutup kekurangan.
Menutup pertanyaan.
Rencana tahun depan disusun cepat, sering kali dengan pola
lama. Program lama berganti nama. Kegiatan lama diganti judul. Masalah lama
ikut pindah, tanpa pernah dibongkar.
Sekolah tampak bergerak, tetapi sesungguhnya hanya berputar.
Birokrasi yang Tak Suka Cermin
Masalahnya bukan pada kurangnya evaluasi. Sekolah sudah
terlalu sering dievaluasi. Masalahnya adalah refleksi yang dianggap terlalu
berisiko. Terlalu jujur. Terlalu berpotensi “menyulitkan”.
Padahal sekolah bukan runtuh karena kritik internal. Sekolah
justru rapuh ketika semua sepakat bahwa semuanya baik-baik saja.
Ketika kelas sunyi tapi laporan riuh.
Ketika guru lelah tapi grafik stabil.
Ketika siswa jenuh tapi program dinyatakan berhasil.
Di titik itulah pendidikan berubah menjadi ilusi yang
dikelola rapi.
Catatan Kecil yang Tidak Nyaman
Tulisan ini bukan seruan heroik. Hanya catatan kecil dari
pinggir. Bahwa evaluasi yang tidak disertai refleksi hanyalah hitung-hitungan.
Dan refleksi yang dihindari demi kenyamanan birokrasi, perlahan menggerogoti
makna pendidikan itu sendiri.
Barangkali, suatu hari nanti, di sebuah rapat evaluasi, ada
yang berani mematikan proyektor. Membiarkan grafik menghilang. Lalu bertanya
dengan jujur, meski berisiko:
“Apa yang sebenarnya tidak berjalan, dan mengapa kita
terus berpura-pura sebaliknya?”
Jika pertanyaan itu sempat membuat ruangan sunyi, mungkin
justru di sanalah pendidikan mulai berbicara dengan suara aslinya.
Ajibarang, 7 Januari 2026
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia

Keren...jadi yakin bahwa selama ini saya tidak jujur ketika refleksi. Salam hormat Bapak!!
BalasHapusMantap
BalasHapusPosting Komentar