Sokawera, Info Banyumas. Suasana pagi yang teduh menyelimuti Desa Sokawera, Sabtu (14/2/2025), ketika anak-anak TK Pertiwi Sokawera berjalan beriringan menuju makam desa. Didampingi orang tua dan guru, mereka mengikuti kegiatan ziarah makam sebagai bagian dari tradisi menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam menanamkan nilai karakter serta spiritualitas sejak usia dini.
Kegiatan tersebut dimulai pukul 07.30 WIB dengan doa bersama di halaman sekolah. Setelah itu, rombongan anak-anak, guru, dan orang tua berjalan kaki menuju kompleks makam Desa Sokawera. Kepala sekolah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran kontekstual agar anak-anak mengenal tradisi ziarah bukan hanya sebagai budaya turun-temurun, tetapi juga sebagai sarana refleksi diri. Ia menuturkan bahwa melalui pengalaman langsung, anak-anak belajar tentang rasa hormat kepada pendahulu, memahami makna kehidupan dan kematian secara sederhana, serta menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama.
Sebelum memasuki area makam, para guru memberikan arahan mengenai adab berziarah. Anak-anak diminta berjalan pelan, tidak berlari, dan menjaga ketertiban. Penjelasan tersebut diberikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh anak usia dini. Guru menjelaskan bahwa makam adalah tempat yang harus dihormati, sehingga sikap sopan dan tenang menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Orang tua pun turut mendampingi, memastikan anak-anak memahami dan mempraktikkan arahan yang diberikan.
Ziarah dipimpin oleh tokoh agama setempat, Kyai Ali Mufti, yang memandu pembacaan tahlil dan doa bersama. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa ziarah bukan hanya ritual, melainkan momentum muhasabah atau introspeksi diri.
“Berziarah merupakan bentuk muhasabah diri, bahwasanya sesuatu yang bernyawa akan merasakan kematian. Dengan mendoakan orang yang telah tiada, kita belajar untuk saling mendoakan,” ungkap Kyai Ali Mufti di hadapan para peserta ziarah.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ziarah juga menjadi pengingat akan jasa para pendahulu, baik pemimpin, ulama, maupun anggota keluarga yang telah lebih dahulu berpulang. Menurutnya, mengenalkan nilai tersebut sejak dini akan membentuk pribadi anak yang menghargai sejarah dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat.
Doa bersama dilaksanakan di salah satu makam sesepuh desa, yakni Ahmad Junaedi. Almarhum dikenal sebagai tokoh agama sekaligus mantan Kepala Desa Sokawera yang berjasa dalam perjalanan sejarah desa. Guru menjelaskan kepada anak-anak secara singkat mengenai sosok tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap figur yang telah memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan bahasa sederhana, anak-anak diperkenalkan pada konsep keteladanan dan jasa para pendahulu.
Suasana berlangsung khusyuk. Anak-anak tampak tenang, duduk di samping orang tua mereka sambil mengikuti doa yang dipimpin Kyai Ali Mufti. Beberapa anak terlihat menggenggam tangan orang tuanya, menunjukkan kedekatan emosional yang hangat di tengah suasana sakral. Salah satu momen yang mengharukan datang dari seorang anak bernama Regan yang dengan polos menyampaikan keinginannya.
“Kakakku juga ada di makam, Bu Guru. Aku juga mau berdoa untuk kakak,” ujar Regan lirih.
Ucapan tersebut menggambarkan bagaimana anak-anak mulai memahami makna kehilangan dan doa dalam cara yang sederhana namun tulus. Guru menilai bahwa pengalaman langsung seperti ini jauh lebih membekas dibandingkan penjelasan teoritis di dalam kelas.
Pihak sekolah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter yang terintegrasi dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal. Sekolah meyakini bahwa pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran akademik, tetapi juga melalui pembiasaan dan pengalaman nyata. Oleh karena itu, kolaborasi dengan orang tua menjadi unsur penting dalam keberhasilan kegiatan tersebut. Dengan keterlibatan orang tua, nilai yang ditanamkan di sekolah dapat diperkuat kembali di lingkungan keluarga.
Usai berdoa, rombongan kembali ke sekolah untuk melanjutkan kegiatan kebersamaan. Di halaman sekolah, anak-anak, orang tua, dan guru menggelar makan bersama dengan menu nasi liwet. Hidangan sederhana seperti oseng pepaya, ikan asin, teri, kerupuk, sambal, dan lalapan disajikan di atas kertas pembungkus makanan. Tradisi makan bersama tersebut dimaknai sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Guru menyampaikan bahwa makan bersama bukan sekadar kegiatan santap bersama, melainkan bagian dari pembelajaran sosial. Anak-anak diajak berbagi tempat duduk, berbagi lauk, serta belajar menunggu giliran. Nilai kebersamaan dan kesederhanaan ditanamkan melalui pengalaman tersebut. Orang tua pun tampak menikmati momen kebersamaan, saling berbincang dan mempererat silaturahmi antarwali murid.
Menjelang akhir kegiatan, seluruh warga sekolah saling berjabat tangan. Tradisi tersebut dimaknai sebagai simbol saling memaafkan sebelum memasuki bulan suci. Kepala sekolah menuturkan bahwa berjabat tangan bukan hanya formalitas, tetapi menjadi cara sederhana untuk membersihkan hati dan mempererat hubungan antarsesama.
Kyai Ali Mufti kembali menegaskan pentingnya tradisi tersebut sebagai bekal spiritual anak-anak.
“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membersihkan hati. Jika sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan mendoakan dan memaafkan, insyaallah kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang lembut dan penuh empati,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa terus dilestarikan sebagai bagian dari pendidikan berbasis nilai. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan orang tua seperti yang dilakukan TK Pertiwi Sokawera patut menjadi contoh karena pendidikan sejati membutuhkan sinergi kedua pihak.
Kegiatan yang berlangsung sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Anak-anak tidak hanya mengenal tradisi ziarah sebagai rutinitas budaya, tetapi juga memahami makna penghormatan, doa, dan kebersamaan dalam cara yang sesuai dengan usia mereka. Orang tua pun merasakan manfaat kebersamaan tersebut sebagai ruang untuk menanamkan nilai yang sama di rumah.
Dengan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan, kegiatan ziarah dan makan bersama itu menjadi penegas bahwa pendidikan karakter dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna. Melalui pengalaman langsung tersebut, anak-anak diharapkan memahami bahwa ibadah bukan sekadar ritual, melainkan proses membentuk hati yang bersih, penuh kasih sayang, dan hormat kepada sesama.
Kolaborasi TK Pertiwi Sokawera dan orang tua dalam kegiatan ini menjadi gambaran nyata bahwa tradisi lokal, jika dikelola dengan pendekatan edukatif, dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif. Dari langkah kecil menuju makam desa hingga suapan nasi liwet bersama, terselip nilai besar tentang kehidupan, penghormatan, dan kesiapan menyambut Ramadhan dengan hati yang lapang.
Kontributor: Yuli Kismawati

Posting Komentar