AJIBARANG, INFO BANYUMAS – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Pemakaman Desa Darmakradenan pada Jumat pagi (13/2/2026). Ratusan siswa bersama jajaran tenaga pendidik tumpah ruah dalam balutan busana muslim, melantunkan doa-doa tulus bagi para pendahulu. Kegiatan ziarah kubur massal ini digelar sebagai momentum refleksi spiritual sekaligus penguatan iman dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 tersebut dimulai sejak pukul 07.30 WIB. Dengan berbaris rapi, para siswa berjalan menuju makam desa didampingi oleh wali kelas masing-masing. Agenda ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari kurikulum pendidikan karakter yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Pihak sekolah memandang bahwa pengenalan terhadap konsep kematian dan penghormatan kepada leluhur sangat penting ditanamkan sejak dini agar siswa memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
Dalam pelaksanaannya, seluruh peserta ziarah berkumpul di area sentral pemakaman untuk melangsungkan pembacaan surat Yasin dan tahlil bersama. Kegiatan tersebut ditujukan secara khusus untuk mendoakan para sesepuh Desa Darmakradenan, tokoh-tokoh masyarakat, serta para guru dan kepala sekolah yang telah berpulang ke Rahmatullah. Dengan khusyuk, para siswa mengikuti arahan dari pemandu ziarah, menciptakan atmosfer yang haru sekaligus menenangkan di tengah rimbunnya pohon kamboja pemakaman setempat.
Prosesi pembacaan doa dan zikir tersebut dipimpin langsung oleh Bapak Wahyudin, S.Pd.SD, salah satu guru senior di sekolah tersebut. Beliau membimbing para siswa untuk memahami makna setiap ayat yang dilantunkan, sekaligus memberikan edukasi mengenai tata cara berziarah yang benar sesuai dengan syariat Islam. Partisipasi aktif dari seluruh elemen sekolah menunjukkan betapa kuatnya nilai-nilai religiusitas yang dijaga oleh komunitas pendidikan di Desa Darmakradenan.
Kepala Sekolah, Ibu Jumiati, S.Pd.SD, dalam arahannya menyampaikan bahwa ziarah kubur tersebut memiliki dimensi edukasi yang sangat luas bagi para peserta didik. Selain untuk mendoakan orang-orang yang berjasa bagi kemajuan desa dan sekolah, kegiatan ini berfungsi sebagai pengingat bagi setiap individu akan kehidupan akhirat yang kekal. Dengan mengingat kematian, diharapkan para siswa dapat lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak mereka, terutama saat memasuki bulan Ramadan nanti.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendahului, ziarah ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi batin antara generasi muda dengan sejarah desa mereka. Informasi mengenai jasa-jasa para sesepuh desa dan dedikasi mendiang guru-guru terdahulu turut disampaikan secara singkat di sela-sela kegiatan. Hal tersebut dilakukan agar para siswa tidak kehilangan akar sejarah dan senantiasa menghargai perjuangan para pendidik yang telah meletakkan fondasi pendidikan di wilayah mereka.
Selama kegiatan berlangsung, terlihat para siswa kelas rendah (kelas 1-3) didampingi dengan penuh kesabaran oleh guru-guru mereka dalam melafalkan doa. Sementara itu, siswa kelas atas (4-6) tampak lebih mandiri dan khidmat dalam mengikuti jalannya tahlil. Efek positif dari kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan mental dan spiritual anak, yakni tumbuhnya rasa rendah hati dan kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Ibu Jumiati, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah menekankan pentingnya menyeimbangkan antara pendidikan akademik dan pendidikan adab melalui tradisi ziarah ini. Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk karakter siswa yang tidak hanya pintar, tetapi juga saleh.
"Kegiatan ziarah hari ini bukan sekadar rutinitas tahunan menyambut Ramadan. Kami ingin anak-anak memahami bahwa hidup ini ada batasnya, dan setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya. Dengan ziarah, iman kita dikuatkan, dan hati kita dilembutkan untuk menyambut bulan suci dengan penuh keikhlasan. Kami mendoakan para sesepuh dan guru-guru kami yang telah wafat sebagai bentuk terima kasih atas ilmu dan bimbingan yang telah mereka berikan kepada desa ini," ujar Ibu Jumiati dengan nada penuh syukur.
Senada dengan hal tersebut, Bapak Wahyudin, S.Pd.SD, yang memimpin jalannya doa, mengungkapkan kekagumannya atas antusiasme dan ketertiban para siswa selama berada di area pemakaman.
"Alhamdulillah, anak-anak sangat khusyuk saat membaca Yasin tadi. Ini adalah pelajaran nyata tentang 'mengingat mati' atau dzikrul maut. Kami mengajarkan mereka bahwa doa anak yang saleh adalah salah satu amalan yang tidak akan terputus bagi orang tua dan guru yang sudah tiada. Semoga dengan kegiatan ini, semangat mereka untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan besok menjadi lebih tinggi karena menyadari bahwa kesempatan hidup adalah anugerah yang harus diisi dengan kebaikan," pungkas Bapak Wahyudin setelah menutup sesi doa.
Acara diakhiri dengan kegiatan bersih-bersih makam secara simbolis oleh para siswa sebelum mereka kembali ke sekolah untuk melanjutkan aktivitas belajar mengajar. Dengan hati yang lebih tenang dan iman yang terasa lebih kokoh, keluarga besar sekolah di Darmakradenan ini kini siap melangkah menuju bulan Ramadan dengan penuh keberkahan.


Posting Komentar