Menumbuhkan Literasi Sejak Dini: Jurnalis Cilik SDN 1 Randegan Unjuk Gigi di Hari Pers Nasional



WANGON, INFO BANYUMAS – Memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari 2026, lingkungan SDN 1 Randegan, Kecamatan Wangon berubah menjadi ruang redaksi terbuka bagi para jurnalis masa depan. Melalui tim Jurnalistik Naraya, puluhan siswa sekolah dasar tersebut terjun langsung melakukan aksi wawancara kepada guru dan teman sebaya guna mengasah keberanian, rasa percaya diri, serta etika berkomunikasi sejak dini.


Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dimulai sejak pagi hari, di mana suasana sekolah tampak semarak dengan hadirnya para pewarta cilik yang mengenakan atribut lengkap. Para siswa yang tergabung dalam tim Jurnalistik Naraya tampak sigap dengan rompi khas, kartu identitas yang menggantung di leher, serta buku catatan kecil di tangan. Mereka tidak hanya sekadar bermain peran, namun benar-benar mempraktikkan teknik dasar pengumpulan informasi melalui tanya jawab langsung di berbagai sudut halaman sekolah yang telah disiapkan.


Latihan jurnalistik tersebut dilaksanakan dengan tujuan utama mengenalkan profesi kuli tinta kepada para siswa. Melalui agenda tersebut, pihak sekolah ingin menanamkan pemahaman bahwa pers memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif bagi khalayak luas. Selain itu, proses simulasi lapangan tersebut dirancang untuk melatih ketajaman berpikir kritis siswa, kemampuan mendengarkan secara aktif, serta kecakapan dalam menyusun narasi informasi secara sistematis dan runtut.


Dalam pelaksanaannya, tim Jurnalistik Naraya dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk menjangkau berbagai narasumber yang telah ditentukan. Adapun siswa yang bertindak sebagai jurnalis cilik dalam kegiatan tersebut meliputi Bilqis, Anasta, Affan, Agesha, Manaf, Adel, Ulya, Zahwa, Syakira, dan Alika. Secara bergantian, mereka melontarkan pertanyaan kepada narasumber, mencatat poin-poin penting, hingga belajar menjaga gestur dan sikap sopan santun selama proses interaksi berlangsung.


Sementara itu, jajaran tenaga pendidik seperti Bu Eka, Bu Endah, Pak Syahrul, Pak Saguh, Pak Jimmy, Bu Isna, dan Bu Lilis turut berpartisipasi sebagai narasumber yang diwawancarai. Tak hanya guru, elemen siswa lainnya seperti Hellen, Naura, dan Devandra juga dilibatkan sebagai sumber berita dari kalangan teman sebaya. Keberagaman narasumber tersebut sengaja dikonsep agar para jurnalis cilik dapat belajar beradaptasi dengan berbagai karakter dan gaya bicara yang berbeda-beda, sehingga mentalitas mereka semakin teruji di lapangan.


Pendamping kegiatan menegaskan bahwa esensi dari latihan tersebut adalah memindahkan teori dari ruang kelas ke praktik nyata. Melalui simulasi tersebut, para siswa diajarkan bahwa menjadi seorang jurnalis tidak hanya soal bertanya, melainkan juga tentang seni menghargai orang lain. Nilai-nilai etika jurnalistik yang mendasar, seperti tidak memotong pembicaraan narasumber dan kewajiban menyampaikan fakta secara jujur, menjadi poin utama yang ditekankan dalam bimbingan selama kegiatan berlangsung.


Pengalaman berharga juga dirasakan oleh para siswa yang berperan sebagai narasumber. Peran tersebut memberikan perspektif baru bagi mereka tentang bagaimana cara menyampaikan pendapat dan pengalaman pribadi secara jelas di hadapan publik. Hal ini dinilai mampu menumbuhkan empati kolektif, di mana siswa belajar menghargai posisi orang lain dalam sebuah alur komunikasi formal yang tetap menyenangkan dan jauh dari kesan menegangkan.


Keberhasilan kegiatan tersebut terlihat dari transformasi sikap para siswa selama proses wawancara. Meski awalnya tampak ragu dan gugup, mayoritas siswa berhasil menguasai keadaan setelah melontarkan pertanyaan pembuka. Bahkan, beberapa di antaranya sudah mampu melakukan teknik probing atau mengajukan pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban yang diberikan oleh narasumber—sebuah kemampuan yang esensial dalam dunia jurnalistik profesional.


Salah satu pendamping kegiatan Jurnalistik Naraya mengungkapkan kebanggaannya atas kemajuan para siswa dalam mempraktikkan ilmu komunikasi.


"Kami merancang latihan ini agar anak-anak tidak hanya terpaku pada teori di buku. Mereka harus merasakan detak jantung saat berhadapan dengan narasumber. Di sini, mereka belajar bahwa jurnalisme adalah soal kejujuran dan sopan santun. Kami ingin mereka paham bahwa setiap pertanyaan harus dilontarkan dengan rasa hormat, dan setiap informasi yang dicatat adalah sebuah amanah yang harus disampaikan apa adanya tanpa ditambah atau dikurangi," ujarnya dengan penuh semangat.


Senada dengan hal tersebut, Bu Eka, salah satu guru yang menjadi narasumber, memberikan apresiasi tinggi terhadap daya kritis anak didiknya.


"Saya sangat terkejut sekaligus bangga melihat keberanian mereka. Anak-anak ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat murni. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan terkadang sederhana, tapi sangat mengena dan jujur khas sudut pandang anak-anak. Kegiatan seperti ini sangat efektif untuk memancing rasa percaya diri mereka yang mungkin selama ini masih terpendam di dalam kelas. Ini adalah bekal komunikasi yang luar biasa untuk masa depan mereka," ungkapnya.


Dari sudut pandang siswa, Bilqis, yang bertugas sebagai pewawancara, mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan


"Awalnya saya merasa sangat gemetar saat harus mewawancarai Pak Guru, rasanya takut salah bicara. Tapi setelah mencoba pertanyaan pertama dan melihat Pak Guru menjawab dengan ramah, saya jadi lebih berani. Saya jadi tahu kalau menjadi wartawan itu harus berani bertanya dan harus rajin mencatat supaya beritanya tidak salah. Saya sangat senang bisa belajar hal baru seperti ini bersama teman-teman," kata Bilqis sambil memamerkan buku catatannya.


Peringatan Hari Pers Nasional di SDN 1 Randegan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai seremoni tahunan. Pihak sekolah memiliki visi besar untuk menjadikan kegiatan jurnalistik sebagai bagian dari penguatan literasi dan pembentukan karakter siswa. Dengan pembiasaan berbicara di depan umum dan berpikir kritis, siswa diharapkan mampu memilah informasi di tengah gempuran arus berita yang ada saat ini.


Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa metode pembelajaran kreatif dan kontekstual jauh lebih efektif dalam menyerap perhatian siswa. Melalui aksi jurnalis cilik ini, SDN 1 Randegan telah menyemai benih-benih komunikator handal yang memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadapi tantangan zaman di masa depan.

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama