Kegiatan tersebut merupakan inisiatif Saka Bakti Husada Pangkalan Puskesmas Kedungbanteng yang berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas. Kolaborasi ini melibatkan relawan lingkungan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta warga Desa Melung yang turut ambil bagian dalam gerakan penghijauan. Desa Melung dipilih sebagai lokasi penanaman karena memiliki karakteristik wilayah perbukitan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air sekaligus kawasan dengan potensi kerawanan longsor, sehingga penanaman pohon dinilai strategis untuk memperkuat daya dukung lingkungan.
Para peserta terlihat menyebar ke sejumlah titik lahan kritis yang telah dipetakan sebelumnya oleh tim teknis. Dengan membawa bibit tanaman keras dan tanaman konservasi, para relawan berjalan menyusuri lereng dan lahan terbuka untuk melakukan penanaman secara bertahap. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada aksi tanam, tetapi juga edukasi tentang pentingnya menjaga keberlangsungan tanaman hingga tumbuh besar. Anggota Saka Bakti Husada memberikan pendampingan kepada masyarakat mengenai teknik penanaman yang benar, pemeliharaan awal, serta manfaat vegetasi terhadap kesehatan lingkungan dan keberlanjutan sumber air.
Perwakilan penyelenggara dari BPBD Kabupaten Banyumas menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi mitigasi berbasis ekosistem yang menempatkan vegetasi sebagai benteng alami terhadap bencana. Ia menjelaskan bahwa Desa Melung memiliki fungsi hidrologis penting bagi wilayah di bawahnya, sehingga keberadaan tutupan vegetasi menjadi faktor kunci dalam menjaga kestabilan tanah dan ketersediaan air tanah. Menurutnya, upaya penghijauan yang dilakukan secara kolaboratif akan memberi dampak jangka panjang bagi perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
“Pemilihan Desa Melung sebagai lokasi penanaman sangat strategis karena wilayah ini merupakan daerah tangkapan air sekaligus memiliki potensi kerawanan longsor. Kehadiran pohon-pohon baru diharapkan dapat memperkuat struktur tanah serta menjaga ketersediaan air tanah untuk masa depan masyarakat,” ujarnya di sela kegiatan.
Sinergi yang terbangun dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan keterlibatan aktif organisasi kepanduan dalam isu kesehatan lingkungan. Saka Bakti Husada sebagai wadah pembinaan generasi muda di bidang kesehatan masyarakat tidak hanya berperan dalam edukasi kesehatan individu, tetapi juga kesehatan lingkungan sebagai bagian dari determinan kesehatan. Melalui kegiatan tersebut, anggota SBH mempraktikkan langsung prinsip hidup bersih dan sehat dalam konteks ekologi, yaitu menjaga keseimbangan alam demi kualitas hidup masyarakat.
Koordinator kegiatan dari SBH Pangkalan Puskesmas Kedungbanteng menuturkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam gerakan pelestarian lingkungan sangat penting untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini. Ia menyebutkan bahwa kegiatan penghijauan bukan sekadar program seremonial, melainkan proses pembelajaran sosial yang menumbuhkan tanggung jawab terhadap alam. Menurutnya, interaksi langsung antara relawan dan masyarakat desa menciptakan rasa memiliki terhadap pohon yang ditanam sehingga peluang keberhasilan konservasi menjadi lebih besar.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga pohon sama artinya dengan menjaga kesehatan masyarakat. Pohon tidak hanya mencegah longsor, tetapi juga menjaga kualitas udara, air, dan lingkungan hidup yang sehat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Semangat gotong royong tampak kuat sepanjang kegiatan berlangsung. Para relawan, warga, dan peserta kepanduan bahu-membahu menggali lubang tanam, menanam bibit, hingga menutup kembali tanah dengan rapi. Interaksi hangat antara peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan mampu menyatukan berbagai unsur masyarakat. Warga Desa Melung juga terlihat antusias, bahkan beberapa di antaranya menyediakan konsumsi sederhana sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Tokoh masyarakat Desa Melung menyampaikan bahwa kegiatan penghijauan sangat relevan dengan kondisi desa yang berada di kawasan perbukitan. Ia menuturkan bahwa masyarakat telah merasakan dampak perubahan tutupan lahan terhadap ketersediaan air dan stabilitas tanah, sehingga gerakan penanaman pohon menjadi kebutuhan bersama. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada penanaman, tetapi dilanjutkan dengan perawatan berkelanjutan oleh warga.
“Kami sangat bersyukur desa kami menjadi lokasi kegiatan ini. Kami merasakan langsung manfaat pohon bagi kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga sumber air dan mencegah longsor. Kami siap merawat pohon-pohon ini agar tumbuh besar dan memberi manfaat bagi anak cucu kami,” tuturnya.
Selain aksi penanaman, kegiatan tersebut juga diisi dengan edukasi singkat mengenai manfaat vegetasi terhadap kesehatan lingkungan. Materi yang disampaikan meliputi fungsi pohon dalam menyerap karbon, menjaga kelembapan tanah, meningkatkan kualitas udara, serta mencegah erosi. Edukasi tersebut disampaikan secara interaktif sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai efektif karena mengaitkan langsung antara pelestarian alam dengan kesehatan manusia.
Perwakilan BPBD Kabupaten Banyumas menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif seperti ini merupakan model mitigasi bencana berbasis masyarakat yang perlu terus dikembangkan. Ia menilai bahwa keberhasilan upaya pencegahan bencana tidak hanya bergantung pada teknologi atau infrastruktur, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, penanaman pohon di kawasan hulu akan memberi dampak positif hingga ke wilayah hilir.
“Kegiatan ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana dapat dilakukan bersama oleh masyarakat dan pemerintah. Penanaman pohon di daerah hulu seperti Desa Melung akan memberikan perlindungan bagi wilayah di bawahnya. Ini adalah investasi ekologis yang manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Kegiatan penghijauan tersebut diharapkan menjadi pemantik gerakan pelestarian alam yang lebih luas di Kecamatan Kedungbanteng. Para penyelenggara berharap model kolaborasi antara instansi, organisasi kepanduan, dan masyarakat dapat direplikasi di desa-desa lain yang memiliki karakteristik serupa. Dengan demikian, upaya mitigasi bencana dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan pembangunan desa.
Koordinator relawan lingkungan yang terlibat dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan program menjadi kunci keberhasilan konservasi. Ia menyebutkan bahwa relawan akan melakukan pemantauan berkala terhadap pertumbuhan pohon serta memberikan pendampingan kepada warga dalam perawatan tanaman. Menurutnya, penghijauan tidak berhenti pada penanaman, tetapi membutuhkan komitmen jangka panjang.
“Menanam pohon adalah langkah awal, tetapi merawatnya adalah tanggung jawab bersama. Kami akan terus berkoordinasi dengan masyarakat Desa Melung agar pohon-pohon ini dapat tumbuh optimal dan memberi manfaat ekologis yang maksimal,” ujarnya.
Aksi Penanaman Sejuta Pohon di Desa Melung tidak hanya menjadi kegiatan lingkungan, tetapi juga momentum edukasi sosial tentang pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan. Kolaborasi yang terbangun menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bukan semata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat. Semangat gotong royong yang tercermin dalam kegiatan tersebut memperkuat harapan akan terwujudnya desa yang hijau, aman, dan sehat.
Melalui kegiatan ini, Desa Melung diharapkan menjadi contoh praktik konservasi berbasis masyarakat di wilayah lereng Gunung Slamet. Keberadaan vegetasi yang semakin kuat diyakini akan meningkatkan ketahanan lingkungan sekaligus kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian, gerakan penghijauan tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan kesehatan.
Kegiatan tersebut menegaskan bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan. Sinergi antara pemerintah, organisasi kepanduan, relawan, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang lestari. Semangat “Hijau desaku, sehat masyarakatku” yang diusung dalam kegiatan tersebut menjadi pesan kuat bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dari kelestarian alam.
Kontributor: Humastika Kwarran Kedungbanteng


Posting Komentar