Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana hangat namun penuh kekhusyukan. Para peserta yang berasal dari berbagai satuan pendidikan tampak mengikuti rangkaian acara dengan penuh perhatian. Agenda rutin ini selama ini memang menjadi salah satu program pembinaan karakter bagi para pendidik di lingkungan Korwilcam Kedungbanteng. Melalui forum kajian ini, para pendidik tidak hanya memperkuat silaturahmi, tetapi juga memperdalam pemahaman nilai-nilai spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun dalam tugas mereka sebagai pendidik.
Korwilcam Dindik Kedungbanteng, Anas Saeful Bahtiar, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda formal tahunan. “Kajian rutin Jumat ketiga ini bukan sekadar rutinitas atau menggugurkan program kerja, melainkan ladang amal sekaligus wadah silaturahmi bagi kita semua sebagai keluarga besar dunia pendidikan di Kedungbanteng,” ujarnya di hadapan para peserta yang memenuhi aula.
Lebih jauh, ia juga menyampaikan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Dalam dunia pendidikan yang sarat tantangan, para guru dan tenaga kependidikan membutuhkan kekuatan spiritual agar mampu menjalankan amanahnya dengan penuh keikhlasan. Melalui kajian semacam ini, para pendidik diharapkan mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan moral dan spiritual, sehingga mampu menjadi teladan bagi peserta didik di sekolah masing-masing.
Dalam sambutan lanjutan, Saeful menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai kajian dalam praktik pendidikan sehari-hari. “Di bulan Ramadan yang penuh ampunan ini, mari kita tingkatkan kualitas diri. Kita dituntut tidak hanya menjadi pendidik yang cakap secara akademik, tetapi juga pendidik yang berakhlak mulia. Energi positif dari majelis ilmu ini semoga bisa kita bawa ke sekolah masing-masing,” tuturnya dengan penuh harap.
Memasuki sesi inti, suasana ruangan semakin teduh ketika pemateri utama, Mansur, mulai menyampaikan tausiyahnya. Dalam kajian tersebut, ia mengangkat tema yang menarik sekaligus sarat makna, yakni tentang “12 Orang yang Didoakan Malaikat”. Tema ini dipilih sebagai pengingat bahwa terdapat banyak amalan sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang memiliki nilai besar di hadapan Allah SWT dan bahkan mendapatkan doa dari para malaikat.
Di hadapan para peserta, Mansur menjelaskan makna istimewa dari doa malaikat bagi manusia. “Mendapat doa dari malaikat merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa. Malaikat adalah makhluk yang suci dari dosa, sehingga doa mereka sangat mustajab dan senantiasa dikabulkan oleh Allah SWT,” jelasnya dengan suara tenang yang membuat seluruh peserta menyimak dengan penuh perhatian.
Dalam pemaparannya, Mansur menguraikan beberapa golongan manusia yang memperoleh keistimewaan tersebut. Ia menyebutkan di antaranya orang yang tidur dalam keadaan suci setelah berwudu, mereka yang duduk menunggu waktu salat, orang yang berada di saf terdepan dalam salat berjemaah, serta mereka yang gemar bersedekah. Selain itu, orang yang menjenguk orang sakit, menyambung saf yang kosong dalam salat, dan berbagai amalan lainnya juga termasuk dalam golongan yang didoakan malaikat.
Menurut Mansur, kesempatan memperoleh doa malaikat sebenarnya sangat terbuka bagi siapa pun. “Malaikat akan senantiasa memohonkan ampunan bagi hamba-hamba Allah yang gemar melakukan amalan-amalan tersebut. Oleh karena itu, mari kita berlomba-lomba menjadikan diri kita pantas untuk didoakan oleh makhluk suci Allah, terlebih di bulan Ramadan yang penuh berkah ini,” paparnya.
Para peserta tampak mengikuti kajian dengan penuh antusias hingga akhir acara. Beberapa di antaranya terlihat mencatat poin-poin penting dari tausiyah yang disampaikan. Bagi para pendidik yang sehari-hari disibukkan dengan berbagai tugas administratif dan tanggung jawab mengajar, kajian ini menjadi semacam oase spiritual yang menyejukkan. Selain memperkaya wawasan keagamaan, kegiatan ini juga mempererat hubungan kekeluargaan di antara para pendidik di wilayah Kedungbanteng.
Menutup kegiatan tersebut, Mansur kembali mengingatkan pentingnya menjaga semangat beribadah sepanjang Ramadan. “Semoga majelis ilmu ini tidak berhenti di ruangan ini saja. Mari kita bawa nilai-nilai kebaikan dari kajian ini ke sekolah, ke keluarga, dan ke masyarakat. Jika para pendidik mampu menebarkan teladan kebaikan, maka pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memuliakan manusia,” pungkasnya sebelum doa bersama menutup kajian dengan penuh harapan.
Kontributor : SIMAS Korwilcam Dindik Kedungbanteng
Posting Komentar