Kegiatan ini tidak sekadar menjadi momentum panen hasil pertanian, tetapi juga simbol keberhasilan kolaborasi antara pesantren dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis komunitas. Demplot cabai yang dikelola menjadi bukti nyata bahwa pesantren mampu bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.
“Panen perdana ini bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses panjang yang telah dilalui bersama dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren,” ungkap salah satu pengelola kegiatan dengan penuh rasa syukur.
Demplot cabai yang dipanen memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi dengan jumlah tanaman mencapai kurang lebih 3.500 batang. Lahan tersebut merupakan tanah wakaf milik Muhammadiyah yang berlokasi di Desa Grujugan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas.
Letaknya yang strategis di tepi jalan raya menjadikan lahan ini tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga menghadirkan pemandangan hijau yang asri dan menarik perhatian masyarakat sekitar maupun pengguna jalan yang melintas.
“Lahan ini bukan hanya sumber hasil panen, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan inspirasi bagi masyarakat bahwa pertanian dapat dikelola secara modern dan produktif,” ujar salah satu pendamping program.
Kegiatan panen perdana ini turut dihadiri oleh berbagai pihak, di antaranya Kepala Bank Indonesia Purwokerto, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas, Pimpinan Daerah Aisyiyah Banyumas, Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, serta masyarakat sekitar. Kehadiran mereka menunjukkan kuatnya sinergi lintas sektor dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi pesantren.
Tidak hanya itu, sejumlah perwakilan pondok pesantren dan pengelola perkebunan se-Banyumas Raya yang menjadi peserta binaan program Bank Indonesia juga turut hadir, menambah semarak sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antar lembaga.
“Kami berharap program ini dapat menjadi jembatan bagi pesantren untuk membangun kemandirian ekonomi yang lebih mapan dan berkelanjutan,” ujar Kepala Bank Indonesia Purwokerto, Kristofeni, dalam sambutannya.
Program infratani yang digagas oleh Bank Indonesia merupakan bentuk dukungan nyata terhadap sektor pertanian berbasis komunitas. Program ini tidak hanya memberikan bantuan teknis dalam budidaya, tetapi juga mencakup manajemen pertanian, penguatan kelembagaan, hingga strategi pemasaran hasil panen.
Melalui pendekatan tersebut, pesantren tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga mampu mengelola hasil pertanian secara profesional dan berdaya saing di pasar. Hal ini membuka peluang baru bagi pesantren untuk mandiri secara ekonomi sekaligus berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Mudah-mudahan hasil panen ini menjadi awal dari keberkahan yang berkelanjutan. Kami sangat berterima kasih atas pendampingan yang telah diberikan,” tutur Mudir pondok, Tukiran, dengan penuh haru.
Kontributor: Armiyati
Posting Komentar